Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2009

Argopuro, 15-19 Agustus 2009 (Kaskus OANC Trip)


The team :

* Andre Andika
* Dedi Kurniawan
* Muhammad Tirta Kusuma
* Qomar Ardhani


Argopuro adalah sebuah gunung dalam jajaran pegunungan Yang Timur yang berada di kawasan kabupaten Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Situbondo. Gunung tersebut memiliki 2 puncak utama yaitu puncak Rengganis dan puncak Argopuro sebagai puncak tertingginya (3088 mdpl). Jalur pendakian resmi gunung tersebut adalah jalur Baderan yang berada di desa Baderan, kecamatan Sumber Malang, Situbondo. Jalur pendakian tersebut merupakan jalur pendakian terpanjang di pulau Jawa.

Kamis, 13 Agustus 2009
Perjalanan dimulai pada tanggal 13 Agustus 2009. kurang lebih pukul 19.00 Andre berangkat menuju Surabaya dengan kereta eksekutif Gajayana dari Bandung. Malam itu juga pukul 23.00 aku dan Qomar berangkat dari Jogja menuju Surabaya dengan bus ekonomi Mitra (Rp. 34.000) yang tak kalah garang dengan bus Sumber Kencono.


Jum'at, 14 Agustus 2009
Aku dan Qomar tiba di terminal Purabaya Surabaya pada pukul 07.00 dan melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo pada pukul 07.30 dengan bus ekonomi Ladju (Rp.12.000). Saat bus memasuki kota Probolinggo, para penumpang bus di kagetkan oleh sebuah angkot yang tengah terbakar di pinggir jalan (Photo menyusul). Kami tiba di terminal Probolinggo pukul 09.45. Cuaca terasa cukup panas bagi kami yang tidak terbiasa hidup di daerah panas seperti Probolinggo. Sambil menunggu kedatangan bus, kami berdua menyempatkan diri menikmati sarapan pagi Soto dan Es Teh seharga Rp.10.000 di warung Sidodadi di samping terminal.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Dedi di Paiton Probolinggo menggunakan bus ekonomi (Rp. 6.000) pada pukul 10.30. Kami tiba di Paiton Gudang Garam kurang lebih pukul 12.00 dan segera di jemput oleh Dedi dengan motornya. Di rumah Dedi kami kembali check list untuk menghindari kesalahan fatal nantinya. Pukul 13.30 Andre pun tiba di rumah Dedi. Siang itu kami mendiskusikan keikutsertaan karees yang belum pasti dan tanpa kabar yang pada akhirnya kami putuskan untuk tidak memasukkan karees dalam tim karena keterbatasan waktu kami.

Pukul 16.00 kami berangkat menuju pasar Besuki dari Paiton Gudang Garam menggunakan bus ekonomi (Rp. 5.000) yang sangat penuh. Sepanjang perjalanan tersebut kami disuguhi dengan pemandangan laut lepas dengan diselingi hutan bakau yang tumbuh tinggi di pinggir jalan. Kami juga melewati sebuah PLTU yang berdiri megah di daerah yang cukup sepi itu.

Kami tiba di pasar Besuki pukul 16.30. Karena kami datang terlalu sore, kami tidak mendapatkan angkutan menuju desa Baderan. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju Baderan (Rp. 20.000) yang mana jalan menuju desa tersebut sangat berliku dan menanjak cukup curam. Kami berangkat pukul 16.45 dan tiba di desa Baderan tepatnya di Resort KSDA pegunungan Yang Timur pada pukul 17.30.

Setibanya di sana kami disambut dengan hangat oleh pak Susiono selaku kepala Resort KSDA pegunungan Yang Timur yang sangat gemar minum kopi semalam di pagi hari. Kami berbincang dengan pak Susiono hingga pukul 22.00. Kami menginap di resort KSDA dengan biaya Rp. 2.000 / kepala (Resort termurah di dunia)

Sabtu, 15 Agustus 2009
Pagi yang cukup cerah dan udara yang segar menyapa kami di pagi itu. Kurang lebih pukul 07.00 kami menyempatkan diri untuk menikmati sarapan pagi nasi telor dan teh hangat (Rp. 5.000) di warung pertigaan di dekat Resort KSDA. Saat akan menikmati sarapan pagi, kami kedatangan 5 orang pendaki dari Surabaya (Wingga, Udin, Acong, Pak To, Buston) yang ternyata salah satunya adalah kaskuser yang juga selalu memantau thread trip Argopuro kali ini.

Pukul 09.00 setelah kami packing , berpamitan dengan pak Susiono dan berdoa, kami memulai pendakian bersama dengan 5 orang rombongan dari Surabaya dengan Andre sebagai Leader. Cuaca siang itu sangat cerah sehingga membuat kami selalu merasa kehausan, karena selama kurang lebih 4 jam pertama kami berjalan di sisi bukit bagian timur yang sangat terbuka. Pukul 13.00 kami mulai memasuki kawasan hutan yang tidak begitu rimbun, sehingga panas masih cukup menyengat kulit kami. Pukul 13.30 kami beristirahat untuk menikmati makan siang sejenak.

Pukul 14.30 perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Mata Air II sebagai target camp hari pertama kami. Di tengah perjalanan tepatnya pukul 16.00, kami di guyur hujan yang cukup deras untuk membasahi seluruh pakaian yang kami kenakan saat itu. Dan kami memutuskan untuk berhenti sejenak di tempat yang cukup teduh. Ternyata hujan tak kunjung reda, gerimis masih saja menetes di sore itu. Kami melanjutkan perjalanan dalam kondisi basah kuyup (hanya sebagian dari kami). Pukul 17.30 kami tiba di pos Mata Air I yang ditandai dengan papan yang tertempel di sebuah pohon di kiri jalan. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk bermalam di pos Mata Air I. Malam itu kami diserang oleh puluhan tikus yang berwarna kuning keemasan yang sangat lincah dalam hal mencuri makanan kami.

Minggu, 16 Agustus 2009
Setelah menyantap sarapan pagi dan packing, kami melanjutkan perjalanan menuju Cisentor sebagai target berikutnya pada pukul 10.00. Trek yang kami lalui cukup berat hingga pos Mata Air II yang berada sebelum patok kayu nomor Hm 20 dan berada pada bekas kayu tumbang yang ternyata tidak memiliki space untuk lebih dari 1 tenda.Mata air terdapat di lembah sisi kanan jalan. Kami tiba di pos Mata Air II pukul 12.00. Disana kami bertemu dengan rombongan bapak-bapak crosser. Setelah menambah persediaan air, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya yaitu Alun-alun Kecil (Sabana dengan ketinggian 2100 mdpl). Jalur yang kami lalui cukup menyenangkan karena landai dan beberapa kali menurun. Kami tiba di Alun-alun Kecil pukul 14.00.

Setelah beristirahat cukup lama dan berfoto-foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Besar yang juga merupakan salah satu sabana di pegunungan ini. Dalam perjalanan ini kami mulai menjumpai beberapa pohon Edelweiss yang bunganya baru saja mekar. Kami tiba di Alun-alun Besar pada pukul 16.00. Pemandangan di Alun-alun besar sangat indah. Sedikit menyerupai default background Microsoft Windows XP.





Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur dan tiba pada pukul 18.30. Sebuah sabana besar yang konon akan di jadikan sebuah bandara pada jaman penjajahan Belanda. Di sabana tersebut terdapat sebuah sungai yang cukup besar dan di sana terdapat banyak selada air yang sangat segar. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk bermalam di Cikasur. Malam itu aku dan Qomar menerima tantangan menarik dari Andre untuk berjaga malam dengan mengenakan celana pendek, kaos tipis, dan sarung hingga pukul 04.00 pagi dalam suhu 7°C. Dengan santai kami menerima tantangan tersebut dan berhasil memenangkan tantangan tersebut.





Senin, 17 Agustus 2009
Beruntungnya salah satu teman kami dari rombongan Surabaya yang melihat 4 ekor burung Merak berjemur di Cikasur pagi itu. Setelah menyentap sarapan pagi singkat, tutup Trangia Qomar sempat hilang, akhirnya aku dan Qomar tertinggal dari barisan. kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Cisentor berdua pada pukul 10.30. Jalur yang kami lalui bervariatif, menanjak dan menurun. kami mengenakan pakaian lengkap dikarenakan banyaknya semak belukar yang menghalangi jalan. Tak ketinggalan tanaman penyengat yang biasa disebut pohon Djancuk juga banyak terdapat di jalur ini. Jalur yang paling berbahaya ada di punggungan sebelum tiba di Cisentor. Jalur tersebut sangat sempit dan berada di sisi jurang, terlebih saat melewati jembatan yang terbuat dari sebuah pohon besar yang tumbang, kami harus ekstra hati-hati melewati jembatan tersebut.



Kami tiba di Cisentor pukul 14.00. Cisentor adalah sebuah lembah dengan sungai yang mengalir cukup deras di dasar lembah tersebut. Di Cisentor inilah pertemuan dari jalur pendakian Baderan dan Bremi. Pertemuan jalur tersebut ada di samping pos Cisentor. Karena waktu tidak memungkinkan lagi, kami memutuskan untuk bermalam di Cisentor. Alhasil kami tidak mengibarkan bendera merah putih dan kaskus OANC pada tanggal 17 Agustus. Sore itu juga rombongan dari Surabaya yang sedari awal pendakian selalu bersama kami tetap melanjutkan perjalanan ke puncak Argopuro dan kembali ke Cisentor di malam hari.

Selasa, 18 Agustus 2009
Pagi yang sangat dingin terpaksa harus kami lawan untuk mencapai puncak Argopuro. Tepat pukul 06.45, tanpa sarapan kami berangkat menuju Rawa Embik. Sebuah kesalahan fatal dimana kami tidak menyempatkan diri untuk mengisi perut kami, dan ternyata Andre yang membawa satu-satunya carrier hanya berisi 2 batang cokelat yang mengakibatkan kondisi fisik kami menurun drastis hati itu.

Perjalanan menuju Rawa Embik cukup mudah tanpa beban di punggung kami. Jalan yang kami lalui cukup landai dengan pemandangan hutan Pinus dan Edelweiss di sepanjang perjalanan diselingi beberapa sabana kecil. Kami tiba di Rawa Embik pada pukul 08.00. Rawa Embik adalah sebuah sabana dengan sungai kecil sebagai sumber air tertinggi di gunung Argopuro. Setelah beristirahat dan mengambil air di sungai, kami melanjutkan perjalanan menuju persimpangan puncak pada pukul 08.30. Kami kembali di suguhi dengan pemandangan Edelweiss dan Pinus yang cukup lebat. Namun kali ini kami harus ekstra hati-hati dengan pohon-pohon Pinus kering yang ada di sekitar kami. Karena di jalur tersebut sangat banyak pohon tumbang yang menindih pohon kering lainnya.





Kami tiba di Simpang Puncak pukul 10.30. Pemandangan di Simpang Puncak cukup menarik, dimana pohon Edelweiss tumbuh di kanan dan kiri jalan di tengah sabana di antara 2 puncak yang terlihat sudah sangat dekat.

Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Rengganis (Jalur Kiri) pada pukul 10.45. Jalur yang kami lalui cukup menanjak dan didominasi oleh bebatuan. Kami tiba di puncak Rengganis pukul 11.00. Sungguh pencapaian yang sangat membahagiakan mengingat perjalanan kami selama 3 hari sebelumnya cukup berat bagi kami. Pemandangan yang disajikan pun benar-benar dapat menghapus rasa lelah kami. Perpaduan antara sejarah, budaya, dan alam yang ada di puncak Rengganis membuat kami terkagum-kagum untuk beberapa saat.






Karena pada saat itu kondisi fisik kami cukup lemah (terlebih Dedi yang memang sedang dalam kondisi sakit), kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro, namun Andre tetap melanjutkan perjalanannya menuju puncak Argopuro pada pukul 11.50. Setelah puas mengabadikan keindahan puncak Rengganis dalam kamera saku, kami bertiga kembali menuju Simpang Puncak pada pukul 12.00 dan tiba di Simpang Puncak pukul 12.10.

Andre tiba di puncak Argopuro sebagai delegasi dari tim kami pada pukul 12.15 dan mengabadikan puncak tersebut dalam beberapa foto (menyusul) selama 15 menit. Pukul 12.30 Andre beranjak dari puncak Argopuro menuju Simpang Puncak dimana kami bertiga tertidur di bawah pohon Pinus menunggu Andre. Andre tiba di Simpang Puncak pada pukul 12.45. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Cisentor pada pukul 13.30 dengan kondisi lapar. Pukul 14.00 kami tiba di Rawa Embik dan beristirahat sejenak. Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 14.30 dan tiba di Cisentor pada pukul 15.00. Karena kondisi badan kami dan waktu yang tidak memungkinkan, kami kembali memutuskan untuk bermalam di Cisentor.

Rabu, 19 Agustus 2009
Pagi itu kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, kami menyantap sarapan bersama sambil mendiskusikan rencana perjalanan selanjutanya. Disitu muncul sedikit perdebatan alot antara keputusan Andre untuk bermalam di Taman Hidup apapun resikonya dan keputusan untuk langsung menuju Bremi karena keadaan Dedi kurang baik. Perbedaan pendapat itu terus berlanjut sepanjang hari itu.

Kami memulai perjalanan turun pada pukul 10.00 menuju Aeng Poteh (Air Putih), yaitu sebuah sungai kecil di sebuah lembah di jalur Bremi. Jalur menuju Aeng Poteh cukup landai, Namun kami harus mengenakan pakaian lengkap untuk menghindari luka goresan semak belukar yang tumbuh tinggi di sepanjang jalan menuju Taman Hidup. Kami tiba di Aeng Poteh pukul 11.00 sembari sejenak beristirahat dan mengganti air kami karena air dari Cisentor kurang segar.

Pukul 11.15 kami melanjutkan perjalanan menuju Cisinyal, sebuah tempat dimana hampir semua sinyal handphone cukup kuat diterima. Perjalanan menuju Cisinyal sangat berat, dimana kami harus mendaki (dalam perjalanan turun) beberapa punggungan bukit yang cukup curam dan menghindari pohon Djancuk yang tersebar dimana-mana. Formasi kali itu pun turut berubah, Andre yang selama ini menjadi leader berada di belakang dan Dedi sebagai leader.

Kami tiba di Cisinyal pada pukul 12.15. Pada saat kami tiba di Cisinyal, kami melihat sebuah pemandangan menyedihkan, dimana sebuah bukit (diluar jalur pendakian) di sisi kiri pandangan lurus dari Cisinyal mengalami kebakaran hutan. Langsung saja aku menghubungi pak Susiono untuk mengabarkan kebakaran tersebut, namun sayang pak Susiono saat itu juga sedang dalam pendakian gunung Argopuro untuk pemantauan.

Kami kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 12.30 di tengah terik matahari. Jalur yang kami lalui berikutnya sangat bertolak belakang dengan jalur sebelumnya, jalur ini menurun sangat curam, cukup untuk menggetarkan lutut kami. Perjalanan terasa sangat panjang dan membuat kami frustasi. Kepenatan tersebut hilang saat kami memasuki kawasan hutan lebat berlumut tebal yang ada di sekitar Taman Hidup. Hutan tersebut sangat indah dan sejuk, jalurnya pun landai. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikannya dalam foto.



Pukul 16.00. Kami tiba di Taman Hidup. Sebuah Danau yang cukup besar di tengah pegunungan Yang Timur. Dengan hutan lebat yang mengelilinginya menjadikan danau ini sangat indah dan sejuk. Setelah kami mengambil air cadangan untuk melanjutkan perjalanan turun dan berfoto-foto, akhirnya Andre setuju dengan keputusan kami untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin dikarenakan kencangnya angin yang bertiup dan tidak ada satu orang pun di Taman Hidup.

Air di danau ini terlihat cukup keruh, tapi itu tak berarti air danau ini kotor. Seperti kata-kata yang keluar dari mulut pak Susiono "Alam itu tidak kotor, hanya manusia yang mengotorinya, toh kotornya alam kotor yang organik dan tidak berbahaya". Airnya pun sangat dingin meskipun ketinggian danau ini tidak setinggi sungai di Cisentor. Meskipun Saat itu matahari masih menyinari sebagian sisi danau, dingin terasa menusuk hingga tulang jari tangan saat aku mengambil air.

Pukul 16.45 sore itu kami bergegas melanjutkan perjalanan kami karena waktu yang terus berputar dan angin di Taman Hidup sore itu yang cukup membuat bulu kuduk kami berdiri. Jalur yang kami lalui berikutnya tetap berupa hutan lebat, namun kali ini dengan tingkat ke-curam-an yang tinggi, membuat lutut kami semakin bergetar.

Hari pun mulai gelap, senter dan Headlamp pun disiapkan. Formasi berjalan kami pun kembali berubah. Andre tak lagi berada di posisi belakang karena dia terlihat mulai melemah. Perjalanan itu cukup melelahkan bagi kami dan membuat mental kami cukup jatuh, selain karena kondisi fisik yang sudah sangat lelah, kami dibingungkan oleh percabangan jalan yang sangat banyak. Sebuah pilihan yang berat untuk bertahan di Taman Hidup atau melanjutkan perjalanan dalam kondisi fisik yang lemah di malam hari. Mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kesalahan yang harus kami lakukan pada saat itu.

Karena keterbatasan info yang kami miliki tentang jalur yang harus kami ambil setelah Taman Hidup, kami memutuskan untuk bermalam dimanapun kami sampai jika tidak menemui tanda perkampungan pada pukul 21.00. Namun setelah melalui perjalanan malam yang cukup melelahkan, kurang lebih pukul 19.30 kami mulai memasuki hutan produksi karet dan melihat lampu perkampungan. Saat itu harapan mulai muncul dan menghapus keraguan kami.

Kami terus berjalan menembus malam dalam kelelahan yang berat. Andre mulai terlihat melemah. Dia sempat terjatuh seperti orang pingsan, kontan kami menolongnya dan akhirnya carrier yang dia gunakan kami lepas dan kami bawa secara bergantian supaya Andre dapat berjalan dengan baik. Tatapannya kosong, mukanya pun sangat pucat, sebuah keheranan yang sangat besar bagi kami. Andre yang pada saat pendakian sebagai leader dan berjalan begitu gagah dan cepat seperti anggota marinir yang kerap melatih fisik mereka di gunung ini, berubah menjadi Andre yang seperti seorang pendaki pemula yang mengalami frustasi pada pendakian pertama.

Setelah 1 jam berputar-putar di ladang penduduk dan kebingungan arah, kami mengambil keputusan untuk "nyasak" jalur di ladang. Aku dan Qomar yang masih cukup memiliki tenaga mencari jalur terdekat menuju perkampungan. Alhasil kami menemukan jalan pintas yang tidak lazim. Kami tiba di perkampungan kurang lebih pada pukul 20.30 tepat di belakan rumah warga.

Kami sangat bahagia saat tiba di perkampungan. Dengan kondisi yang lemah kami berjalan mencari warung yang masih buka malam itu. tapi naasnya kami tiba terlalu larut hingga tak ada lagi warung makan yang buka.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menuju Polsek Bremi, dalam perjalanan tersebut andre kembali hampir terjatuh dan karena dia kembali membawa carriernya sendiri, jalannya pun tak lagi bisa lurus. Akhirnya kami melepas carriernya lagi dan Qomar menopang jalannya sambil membawa carrier Andre dan aku memanggul carrier Qomar yang cukup ringan, sedangkan Dedi kami tugaskan untuk mencari warung. Setibanya di Polsek, kami segera membeli mie dan telor serta minuman segar di toko depan Polsek karena memang tidak ada lagi satupun warung makan yang buka. Kami tiba di Polsek Bremi pukul 21.00. Kami memutuskan untuk bermalam di Polsek Bremi. Malam itu kami beristirahat cukup nyaman meskipun hanya beralas matras dan SB.

Kamis, 20 Agustus 2009
Kami menikmati sarapan pagi nasi daging dan teh hangat (Rp.6.000) di warung lesehan yang berjarak kurang lebih hanya 100 meter dari Polsek Bremi pada pukul 08.00 (Bremi - Pajarakan Rp. 9.000, Bremi Probolinggo Rp. 12.000). Di warung itu kebetulan ada bus jurusan Bremi Probolinggo yang sedang parkir menunggu penumpang, langsung saja kami menaiki bus tersebut pada pukul 08.30 setelah menikmati sarapan pagi. Aku, Qomar dan Dedi menuju Pajarakan yang merupakan pertigaan jalan raya Probolinggo - Banyuwangi ke Bremi karena kami akan singgah sejenak di rumah Dedi, dan Andre menuju Probolinggo karena harus mengejar kereta ke Bandung. Kami tiba di Pajarakan pada pukul 09.30, disitulah kami berpisah dengan Andre.

Kami bertiga melanjutkan perjalanan ke rumah Dedi dan tiba di sana pada pukul 10.15 dengan menggunakan bus ke Paiton Gudang Garam (Rp. 4.000) dan angkot menuju rumahnya (Rp. 3.000). Setelah menyalin foto yang ada di kamera Dedi, beristirahat dan makan siang, aku dan Qomar melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja pada pukul 14.00 dengan bus menuju Surabaya (Rp. 18.000) langsung karena kami mendapat bus jurusan Banyuwangi-Surabaya. Kami tiba di Terminal Purabaya Bungurasih Surabaya pukul 20.00 dan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan bus patas Eka (Rp. 62.000) pada pukul 22.00.

Kami tiba di Terminal Giwangan Jogja pukul 05.00. Dari situ kami berpisah karena tujuan kami berbeda. Qomar menggunakan bus jalur 15 dan aku menggunakan bus Trans Jogja (yang baru pertama kali ini aku naiki) menuju perempatan Kentungan (Rp.3.000). Aku tiba di kost pada pukul 07.00 pagi.

...KEINDAHAN ARGOPURO DAN PERJUANGAN PANJANGNYA TAK AKAN HILANG DARI INGATAN...

...JANGAN PERNAH BERUSAHA UNTUK MENAKLUKKANNYA, RESAPILAH KEINDAHANNYA DALAM JIWA...


Thanks to :

* Tuhan YME
* All OANCeh
* Rombongan Surabaya (Yang setia menemani perjalanan kami)
* Pak Susiono (Atas semua info dan ijin yang diberikan)
* dan teman-teman semua yang mendukung kami.

bersambung...

11 Agustus 2009

Jalan-Jalan Ke Bandung

Sebuah perjalanan ke kota kembang yang sangat berkesan bagiku. Menikmati indahnya alam Bandung sambil bercanda tawa bersama teman-temanku.

Tim Jogja
Ndut (Paradise_savana)
Chamot (Cah_Segoro)
Dani (kopi_jahe)
Tirta (tirta13)

Kamis, 06 Agustus 09
Setelah sempat kebingungan karena aku datang pas kereta udah di stasiun, akhirnya kami berangkat dari stasiun lempuyangan Jogja pukul 21.10 WIB (tumben keretanya on time) naik kereta ekonomi Kahuripan. Bodohnya diriku, ternyata tiket keretanya ketinggalan sama temen yang nunggu di depan stasiun, untungnya masih boleh bayar di atas kereta...lebih murah juga...cuma kena Rp.20.000.hehe. Tapi karena kami duduk di gerbong makan, jadi kami musti nambah Rp.20.000 lagi untuk dapet makan n minum


Jum'at, 07 Agustus 09
Setelah 11 jam diatas kereta yang sangat penuh, akhirnya kami tiba di stasiun Kiara Condong pada pukul 08.00. Begitu kami keluar dari kereta, ternyata banyak banget manusia ber-carrier- besar turun dari kereta. Mereka juga para peserta JPI (Jambore Petualang Indonesia) yang datang dari Jogja.

Naasnya, ternyata jemputan kami gak sesuai yang di harapkan. Jemputan si Ndut, Chamot, dan Dani di telp gak nyambung, jemputanku (si Andre Andhika) malah jemputnya di stasiun Bandung Kota. Untungnya semua bisa dikendalikan berkat mas Ube dan Kiky yang jemput Ndut, Chamot, dan Dani. Tepat pukul 09.00 kami semua udah sampe di tempat tujuan istirahat kami.


Berdiri
  • Edi (Ediablo)
  • Ari (It_Artya)
  • Martin (Tien2005)
  • Teh Cerry
  • Ndut (Paradise Savana)

Duduk
  • Kiky
  • Dani (Kopi Jahe)
  • Chamot (Cah Segoro)
  • Tirta (Tirta13)
  • Andre (AndreAndhika)

Hari Pertama kami di Bandung cukup menyenangkan. Kami berkumpul bareng-bareng anak-anak OANC Bandung di BIP pukul 19.00. Canda tawa terlepas disana mengingat selama ini kami cuma biasa ngobrol di Kaskus aja. Malem itu kami menyempatkan diri berfoto2 bareng di depan BIP.

Pukul 22.00 kami pindah tongkrongan ke Circle K samping Eiger (Karena udah di usir petugas BIP ). Disitu kami kedatangan 1 lagi anak OANC dari Jakarta si Ade (Si cantik clara) di jemput Edi di stasiun Kiara Condong, padahal dia di Stasiun Bandung Kota. Obrolan makin rame aja tu malem...makin malem makin panas....

Sabtu, 08 Agustus 09
Karena kami butuh istirahat demi jaga stamina buat JPI esok harinya, kami akhirnya pindah tempat ke sekre Mapak Alam Univ Pasundan. yang cewek pulang ke kost. Sekitar pukul 02.00 si Yoyo (Y2YO) dateng dari Jakarta dan di jemput Edi (Tukang Ojek) di pool travelnya. Kami ngobrol2 sampe pagi n sampe ketiduran semua...

Pukul 05.30 aku dan andre sempet jalan2 pagi n mampir sarapan di bubur ayam Mang Oyo . cukup Rp.9.500 dapet bubur ayam n teh pahit anget sambil menikmati pagi di Bandung yang ternyata gak dingin-dingin banget..

Setelah bangun kesiangan dan packing barang, kami berangkat menuju Ranca Upas sekitar pukul 10.00. Carter angkot Rp.150.000 dari Bandung ke Ranca Upas. Kami tiba di Ranca Upas Pukul 12.30. Hampir aja kami telat ikut kegiatan pilihan yang termasuk kegiatan utama. Tapi untungnya kami bisa ikut walaupun aku, ade, dan dani salah tempat. niatnya ambil jurnalistik, masuknya Survival . Kegiatan dimulai pukul 13.00 - 17.00. Si Chamot sama Ndut sebagai kapten kapal bertugas jaga tenda .


Kegiatan malam di lapangan cukup seru, ada riyani n shiva presenter JP. ada kang Bongkeng, kang Heri, dll.rame deh pokoknya..


Minggu, 09 Agustus 09

Acara pertama hari itu penanaman pohon. yang ngikut cuma aku, Yoyo, sama Chamot. mulai dari jam 08.00-09.00. Abis tu acara fun games (sayangnya kami gak ikut) kami cuma ikut nonton aja...sapa tau ada yang bening


Acara penutupan JPI dimulai sekitar pukul 13.00-15.00. acara penutupannya lumayan seru, si Chamot dapet kaos gratis gara2 nyanyi Djanc*k sambil joget di depan panggung.. Begitu acara penutupan selesai, kami langsung naik ke truk TNI yang disediakan panitia untuk drop peserta ke terminal leuwipanjang Bandung. Kecuali si Edi yang dah pulang duluan

Kami tiba di Terminal kurang lebih pukul 17.00. Dari situ kami mulai berpisah. Ade langsung pulang ke Jakarta, Ndut, Chamot, Dani langsung pulang ke Jogja, aku dan Yoyo bareng sama Abi (mapakalam), Ayu, Lia naik bus damri yang super duper sempit banget menuju Eiger buat transit barangku yang seabrek...

Di Eiger aku sama Yoyo dah di jemput Andre. abis ngobrol bentar sama Ari (Si Artis Sibuk Shooting), Yoyo balik ke kost temennya, aku balik ke rumah andre. Sambil nunggu si Ngguh dateng, aku ketiduran di rumah Andre.


Senin, 10 Agustus 09
Pagi-pagi jam 05.00 si Ngguh sampe rumah Andre langsung ngomel-ngomel. Ternyata si andre ketiduran sampe lupa jemput Ngguh di terminal, alhasil si Ngguh nunggu di terminal sendirian selama 3 jam

Edi dateng ke rumah sekitar pukul 10.00. seharian kami ngobrol banyak n sharing pengalaman di depan rumah Andre. seneng rasanya bisa ngobrol bareng..

Sore jam 17.00 si Ngguh akhirnya pulang ke jakarta di anter si Edi (sekali lagi tukang ojek..) ke terminal. Gak lama abis tu giliranku pulang ke Jogja dianter Andre (jangan percaya klo dia bilang "Jalan aja..deket kok" ). Sampe di pool Kramat Jati jam 17.15. Bus berangkat jam 18.30 sampe di Jogja pukul 04.30



Thanks to :
  • Chamot
  • Ndut
  • Dani
  • Ade
  • Andre
  • Edi
  • Ari
  • Martin
  • Ngguh
  • Yoyo
  • Ube
  • Kiky
  • Abi
  • Ayu
  • Lia
  • Piping dkk (Makasi hidangan malamnya..)
  • JPI
  • Eiger (numpang transit)
  • MapakAlam (makasi dah nyediain tempat istirahat)
  • Circle K (numpang Nongkrong )
dan temen-temen semuanya...

bersambung...

26 Mei 2009

Sebuah catatan di atas kertas usang



Dua lembar kertas usang kembali ku temukan di antara tumpukan buku yang -hampir- tak pernah kubaca, kertas yang berisi catatan perjalanan pendakian gunung Semeru tahun 2005 aku temukan setelah 4 tahun ini aku cari. Bahagia rasanya kembali menemukan catatan itu. Ku baca dan ku baca berulang-ulang, merasakan kembali perjalanan yang penuh suka duka 4 tahun yang lalu.

Dari catatan perjalanan tersebut, aku menuliskannya dalam salah satu blogku yang lain. Memang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kertas usang tersebut, namun tulisan ini lebih kepada informasi pendakian Semeru. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Mount Semeru is the highest volcano in Java. With his "Puncak Mahameru" peak at an altitude of 3.676 meters above sea level (MASL), the Mount is included in the Bromo Tengger Semeru National Park. This mountain is located in the city of Malang and Lumajang.

Semeru is a favorite mountaineering area for Indonesian mountaineers, because it has a great view. Crater "Jonggring Saloko" which is located on top of the "Puncak Mahameru" always blowing a smoke every 15-30 minutes, the smoke is a toxic gas that is very dangerous, the mountaineers are advised not to approach crater, and leave the summit before noon, because the wind blow towards the peak in the afternoon.

  1. Where's the interesting place?

    • Tumpang - Ranu Pani (Ranu = Lake) : off road trip with the view of under the cloud desert, Bromo mount, and Tengger mount.

    • Ranu Kumbolo : a 14 hectares lake located at an altitude of 2400 MASL, is the best place for camping with a very

    • Tanjakan Cinta (Tanjakan = climb, Cinta = love): A climb that is at the end of the Ranu Kumbolo have a myth about the love, that is if someone can climb through without a stop and turn, then his love wishes will be happen. The scenery is good

    • Oro-oro Ombo (Oro-oro = Savanna, Ombo = wide): A Savanna is a quite wide and it is surrounded by hills. It has a very interesting scene.

    • Kalimati (Kali = river, Mati = dead): A terrain at 2.700 MASL, is located in the pine forest with spectacular view of Puncak Mahameru, this place became one of the favorite areas of photography.

    • Puncak Mahameru : The highest place on the Java island, form of paving sand. Overlooking the crater "Jonggring Saloko" that blowing every 15-30 minutes, it was the most beautiful place in Semeru. It was a beautiful scenery.

  2. When to go?

    • Climbing should be done in the dry season( June, July, August, and September). Should not climb in the wet season because of frequent storms and landslides, rainy season occurs in November-April.

  3. How to get there?

    • Come to Malang by bus, train, or plane

    • Malang – Tumpang : 30 minutes, use public transport to Tumpang for about Rp. 10,000 / person. Other alternative is to charter a car transportation.

    • Tumpang - Ranu Pani : 2 hours, use the Jeep for about Rp. 30.000 / person. Other alternative is to use the vegetable truck (a little amount of people) with a cheaper price (Mr. Machis +62341787490). Bromo Tengger Semeru National Park fee is about Rp. 5,000/person

  4. Trekking Route:

    • Ranu Pani - Base camp (2.200 MASL). Ranu Pani is the Semeru mountain climbing base camp. You can spend the night in the base camp and explore porter. It was sloping climbing path.

    • Watu Rejeng. Watu Rejeng (5 KM from Ranu Pani) is a very beautiful steep stone. Scenic pines forest covered a valleys and hills are very beautiful. You also see the explotion of smoke from the top Semeru. It was sloping climbing path

    • Ranu Kumbolo (2.400 MASL). Ranu Kumbolo (5 KM from Watu Rejeng, about 5-6 hours from Ranu Pani) is the most strategic place for camping. In addition to water sources and have wood that much, Ranu Kumbolo scene is also very good. It was sloping climbing path.

    • Oro-oro Ombo. It’s a wide savanna, It was sloping climbing path, but before entering the Oro-oro Ombo, you have to climb through Tanjakan Cinta that drain enough the energy for about 30 minutes.

    • Cemoro Kandang (Cemoro = Pine, Kandang = shed). Cemoro Kandang (about 1 hour from Ranu Kumbolo) is a pine forest on the edge of Oro-oro Ombo. Road began a little steep and quite tiring, Cemoro Kandang ended in Jambangan, a few Edelweiss trees with the Savanna, and Puncak Mahameru in the peak.

    • Kalimati (2.700 MASL). Kalimati (5 KM, and about 4 hours from Ranu Kumbolo) is a savanna and a quite strategic for camping. There is also a water source Sumber Mani outside climbing routes (about 30 minutes from Kalimati). It was sloping climbing path

    • Arcopodo (2.900 MASL). Arcopodo (1.5 KM and about 2 hours from Kalimati) is a forest path with a steep ascent. Arcopodo is the last place that can be used for camping.

    • Puncak Mahameru (3.676 MASL). Puncak Mahameru (1.5 KM and about 4 hours from Arcopodo) is the top of the mountain Semeru. The road to Puncak Mahameru very steep and dangerous, as they climb a gravel path and the chasm is between. Leave the before peak hours 10:00 am, because the wind will breathe toxic gas from the crater Jonggring Saloko to Puncak Mahameru in the afternoon.

  5. Tips:

    • Use shoes and gaiters, especially Arcopodo - Peak Mahameru

    • Leave items in the last camp to make it easier to climb to the top of Semeru

    • Prepare at least 4 days of time to enjoy the climbing

    • Terms registration ascent: 2 copy of identity card

    • Semeru topograph http://mapy.mk.cvut.cz/data/Indonesie-Indonesia/Mix/Semeru.jpg


Tulisanku ini juga dimuat di : http://indonesianwild.com/semeru-highest-place-in-java/

bersambung...

10 Mei 2009

Tradisi Merapi Wapalhi, 2-3 Mei 2009


Tradisi merapi (TM) adalah salah satu acara rutin dari Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (Wapalhi) Politeknik Negri Semarang yang diadakan setiap tahun. Beberapa rangkaian acara dalam TM adalah pendakian masal gunung Merapi, bakti sosial, dan upacara pelantikan kepala suku Wapalhi, oleh karena itu TM dibuka untuk umum.

Jum'at, 01 Mei 2009
Sore hari yang cerah mengiringi keberangkatanku sendiri dari terminal Jombor, Jogja. Aku berangkat tepat pukul 17:00 menggunakan bus Patas Nusantara dengan membawa gitar dan sebuah backpack yang menempel di punggungku.

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan karena backpack dan gitarku hanya memberikan ruang gerak yang sangat sempit, akhirnya aku tiba di Semarang, tepatnya Sukun pada pukul 20:00. Gigih datang menjemputku sekitar 10 menit setelah aku menunggu. Dengan motor tanpa lampu depan, kami menerobos hujan yang cukup lebat mengguyur Semarang malam itu, dan akhirnya kami sampai di kost Gigih pukul 20:30.

Pukul 21:00 kami bergegas menuju posko Wapalhi, karena di posko sedang diadakan reuni Wapalhi yang dihadiri oleh anggota Wapalhi dari seluruh angkatan. Aku yang memang bukan anggota Wapalhi hanya mengikuti acara di belakang dan sekadar ngobrol dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Acara selesai pada pukul 00:00, tetapi kami masih tetap bersantai di posko hingga pukul 04:00

Sabtu, 02 Mei 2009
Seusai makan siang di sebuah warung tegal, kami segera bersiap untuk berangkat ke posko, karena acara akan di mulai pukul 13:00. Kami tiba di posko pukul 13:30, dan rupanya upacara pembukaan baru saja dimulai. Peserta TM tahun ini terbilang cukup banyak, kurang lebih 200 peserta yang berasal dari berbagai kota di Jawa.

Kebetulan aku ikut bersama rombongan panitia yang akan diberangkatkan oleh truk terakhir, yaitu truk nomor 6. Setelah menunggu lama, akhirnya kami diberangkatkan pukul 15:30. Truk kami terasa penuh karena ditambah dengan beberapa peralatan panitia yang akan di gunakan di base camp Merapi (Selo).

Setelah melewati beberapa masalah di perjalanan -salah satu truk sempat mengalami kerusakan-, kami tiba di Selo pukul 19:00. Beberapa dari kami -Aku, Gigih, Gombong, Ulum, Hasan, Emon, Bebek, dan beberapa senior angkatan mereka- memilih untuk turun di pasar Selo.

Kami menyempatkan diri menikmati mie ayam yang tersedia di pasar Selo sebelum melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi. Sungguh nikmat sekali menikmati hidangan mie ayam dengan segelas teh panas di dinginnya Selo saat malam. Sembari menikmati makan malam, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan seorang bapak yang rupanya sedang touring dengan istrinya menggunakan sebuah sepeda motor butut. Sungguh sebuah kisah yang menarik dimana sepasang suami istri tersebut sudah cukup berumur untuk berwisata seperti ini.

Kami bersama-sama melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi yang terletak cukup jauh dari pasar Selo. Sesampai di base camp, ternyata para peserta sedang menikmati hidangan malam yang disediakan panitia, namun perut kami sudah cukup penuh dengan semangkuk mie ayam sedap di pasar Selo.

Malam itu panitia menyediakan sebuah tontonan film dokumenter tentang letusan-letusan gunung berapi di dunia. Aku hanya menonton sebentar karena sebenarnya aku sudah pernah menonton film dokumenter ini. Kami melanjutkan malam dengan berjalan-jalan di sekitar base camp dan berbincang-bincang di depan pawon untuk menghangatkan tubuh.




Minggu, 03 Mei 2009
Pukul 02:00, mataku sudah terlalu berat untuk menahan kantuk yang menggerogotiku, ditengah dinginnya Merapi, kami memejamkan mata saat para peserta memulai pendakian. Sungguh nikmat rasanya tidur berselimutkan sleeping bag di depan perapian.

Belum lama mata terpejam, suara Gigih dan Gombong mengagetkan ku. "Bangun bangun!!! mau naik nggak!!!". Dengan malasnya, akhirnya kita berangkat pukul 03:15 pagi hari. Suhu terasa sangat dingin, menembus selembar sarungku yang menyelimuti tubuhku.

Tanpa berbekal lampu senter/headlamp, kami berjalan terperosot beberapa kali, membuat tenaga kami sangat terkuras. Perlahan-lahan rombongan kami -yang berangkat akhir- mulai terpisah, hingga akhirnya kami berempat -aku, Gombong, Gigih, Bebek- yang masih tetap berjalan bersama.

Mentari sudah bersinar, perjalanan kami pun makin mudah. Di persimpangan entah apa namanya -aku tidak hafal daerah Merapi-, kami memilih untuk mengambil jalur alternatif. Ternyata jalan yang kami lalui cukup berat, dimana jalan yang tersedia tidak jelas. Dengan berjalan menyisir punggung bukit, kami melewati taman Edelweiss yang sangat cantik. Aku dan Gigih terlalu asik mengambil gambar bunga dan pemandangan di sekitar kami hingga kami terpisah dengan Gombong dan Bebek.

Kami kembali melanjutkan perjalanan ditengah segarnya udara pagi Merapi. Dalam perjalanan, kami menemukan 2 goa kecil yang cukup cantik, namun sayang sampah berserakan di dalam goa tersebut. Sekali lagi kami terlalu asik mengambil gambar di sana. Tak jauh dari Goa tersebut, akhirnya kami menemukan jalur utama pendakian, dan di sana kami kembali bertemu dengan Gombong dan Bebek. Rupanya masih banyak peserta yang tertinggal di belakang kita.

Perjalanan kami lanjutkan perlahan karena memang pemandangan di sekitar kami terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Hamparan bukit bebatuan yang terpantul cahaya matahari pagi, serta hamparan gunung di seluruh Jawa Tengah yang terlihat indah dari atas gunung Merapi, memiliki keindahan tak terlupakan sepanjang hidupku.

Perjalanan kami berlanjut hingga kami menemukan sebuah tanah lapang dengan beberapa bongkah batu besar yang -daerah tersebut- disebut dengan Pasar Bubrah. Disinilah pendakian kami berakhir tepat pukul 07:45, ini bukanlah puncak Merapi, tapi kami tidak menginginkan untuk mencapai puncak merapi, karena pendakian ini memang kami rencanakan hanya sampai Pasar Bubrah saja.

Pada pukul 08:30, upacara Tradisi Merapi Wapalhi dilangsungkan di Pasar Bubrah. Upacara tersebut meliputi pengangkatan kepala suku baru Wapalhi dan pelantikan Anggota Wapalhi. Upacara pengangkatan kepala suku baru diikuti oleh seluruh peserta TM. Namun saat pelantikan anggota Wapalhi, para peserta diperbolehkan untuk meninggalkan lapangan upacara. Aku yang hanya berstatus peserta tak jelas -panita bukan, senior bukan, orang tua bukan, tapi tidak bayar- hanya duduk di puncak sebuah batu besar di sekitar lokasi upacara dan mengambil gambar saat upacara berlangsung.

Upacara selesai pada pukul 09:45, kami segera bersiap melakukan perjalanan kami menuruni gunung Merapi. Pada pukul 10:00 kami memulai perjalanan turun dari pasar bubrah, namun belum lama kami melangkahkan kaki, terdengar teriakan "Wapalhi...P3K!!!". Rupanya ada salah satu peserta yang terluka akibat dagunya terkena batu yang jatuh saat mendaki puncak Merapi. Sebenarnya ini bukanlah tanggung jawab panitia karena terjadi saat pendakian ke puncak -panitia sudah mengingatkan pendakian hanya sampai di Pasar Bubrah, selebihnya diluar tanggung jawab-, namun dengan jiwa besar, panitia tetap mengurus korban sebaik-baiknya dengan lapang dada.

Kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke base camp. Kami tiba di base camp pukul 12:30 siang, kami segera menuju warung depan base camp untuk menikmati segelas es teh dan gorengan hangat di tengan panasnya terik mentari.

Setelah menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia, Upacara penutupan TM dimulai pukul 15:00. Upacara berlangsung sangat meriah, karena ada pembagian doorprize bagi beberapa peserta TM. Saat upacara berakhir, ada sebuah pengumuman yang mengagetkan seluruh peserta TM, ternyata salah satu peserta individu -tidak atas nama organisasi- TM mencuri HP salah satu peserta lain, sungguh perbuatan yang sangat menodai kegiatan alam bebas. Beruntung panitia dapat menangani kasus tersebut dengan baik dan tidak dengan cara-cara yang bodoh.

Truk peserta di berangkatkan pada pukul 16:00, namun 1 truk terakhir -truk panitia- masih menunggu para panitia yang masih membereskan semua yang tersisa. Beberapa saat kemudian datang seorang senior yang baru saja sampai di base camp dan mengatakan bahwa masih ada 3 peserta yang berada di atas, dan salah satunya sudah tidak mampu berjalan. Spontan kami segera mempersiapkan penyelamatan kepada peserta tersebut. Setelah peralatan siap, kami -kurang lebih 10 orang- melakukan proses pencarian dan penyelamatan (SAR). Namun tak lama kami mendaki, peserta tersebut rupanya sudah mampu berjalan meskipun -sangat- pelan dan di tuntun. Lega rasanya seluruh anggota sudah turun dengan selamat.

Waktu menunjukkan pukul 19:00, truk terakhir yang sangat penuh -melebihi saat keberangkatan- mulai berjalan pelan, semua orang yang ada di dalam truk tersebut sudah sangat mengantuk. terlihat beberapa orang tidur sambil berdiri tidak peduli guncangan laju truk. Akhirnya kami sampai di posko Wapalhi pukul 22:00. Senang rasanya sudah sampai di posko dan bisa meluruskan kaki, namun sedih rasanya kembali berpisah dengan teman-temanku.

Teman, kita pasti akan kembali berpetualang bersama lagi

bersambung...

ShareThis

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP