Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2009

Argopuro, 15-19 Agustus 2009 (Kaskus OANC Trip)


The team :

* Andre Andika
* Dedi Kurniawan
* Muhammad Tirta Kusuma
* Qomar Ardhani


Argopuro adalah sebuah gunung dalam jajaran pegunungan Yang Timur yang berada di kawasan kabupaten Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Situbondo. Gunung tersebut memiliki 2 puncak utama yaitu puncak Rengganis dan puncak Argopuro sebagai puncak tertingginya (3088 mdpl). Jalur pendakian resmi gunung tersebut adalah jalur Baderan yang berada di desa Baderan, kecamatan Sumber Malang, Situbondo. Jalur pendakian tersebut merupakan jalur pendakian terpanjang di pulau Jawa.

Kamis, 13 Agustus 2009
Perjalanan dimulai pada tanggal 13 Agustus 2009. kurang lebih pukul 19.00 Andre berangkat menuju Surabaya dengan kereta eksekutif Gajayana dari Bandung. Malam itu juga pukul 23.00 aku dan Qomar berangkat dari Jogja menuju Surabaya dengan bus ekonomi Mitra (Rp. 34.000) yang tak kalah garang dengan bus Sumber Kencono.


Jum'at, 14 Agustus 2009
Aku dan Qomar tiba di terminal Purabaya Surabaya pada pukul 07.00 dan melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo pada pukul 07.30 dengan bus ekonomi Ladju (Rp.12.000). Saat bus memasuki kota Probolinggo, para penumpang bus di kagetkan oleh sebuah angkot yang tengah terbakar di pinggir jalan (Photo menyusul). Kami tiba di terminal Probolinggo pukul 09.45. Cuaca terasa cukup panas bagi kami yang tidak terbiasa hidup di daerah panas seperti Probolinggo. Sambil menunggu kedatangan bus, kami berdua menyempatkan diri menikmati sarapan pagi Soto dan Es Teh seharga Rp.10.000 di warung Sidodadi di samping terminal.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Dedi di Paiton Probolinggo menggunakan bus ekonomi (Rp. 6.000) pada pukul 10.30. Kami tiba di Paiton Gudang Garam kurang lebih pukul 12.00 dan segera di jemput oleh Dedi dengan motornya. Di rumah Dedi kami kembali check list untuk menghindari kesalahan fatal nantinya. Pukul 13.30 Andre pun tiba di rumah Dedi. Siang itu kami mendiskusikan keikutsertaan karees yang belum pasti dan tanpa kabar yang pada akhirnya kami putuskan untuk tidak memasukkan karees dalam tim karena keterbatasan waktu kami.

Pukul 16.00 kami berangkat menuju pasar Besuki dari Paiton Gudang Garam menggunakan bus ekonomi (Rp. 5.000) yang sangat penuh. Sepanjang perjalanan tersebut kami disuguhi dengan pemandangan laut lepas dengan diselingi hutan bakau yang tumbuh tinggi di pinggir jalan. Kami juga melewati sebuah PLTU yang berdiri megah di daerah yang cukup sepi itu.

Kami tiba di pasar Besuki pukul 16.30. Karena kami datang terlalu sore, kami tidak mendapatkan angkutan menuju desa Baderan. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju Baderan (Rp. 20.000) yang mana jalan menuju desa tersebut sangat berliku dan menanjak cukup curam. Kami berangkat pukul 16.45 dan tiba di desa Baderan tepatnya di Resort KSDA pegunungan Yang Timur pada pukul 17.30.

Setibanya di sana kami disambut dengan hangat oleh pak Susiono selaku kepala Resort KSDA pegunungan Yang Timur yang sangat gemar minum kopi semalam di pagi hari. Kami berbincang dengan pak Susiono hingga pukul 22.00. Kami menginap di resort KSDA dengan biaya Rp. 2.000 / kepala (Resort termurah di dunia)

Sabtu, 15 Agustus 2009
Pagi yang cukup cerah dan udara yang segar menyapa kami di pagi itu. Kurang lebih pukul 07.00 kami menyempatkan diri untuk menikmati sarapan pagi nasi telor dan teh hangat (Rp. 5.000) di warung pertigaan di dekat Resort KSDA. Saat akan menikmati sarapan pagi, kami kedatangan 5 orang pendaki dari Surabaya (Wingga, Udin, Acong, Pak To, Buston) yang ternyata salah satunya adalah kaskuser yang juga selalu memantau thread trip Argopuro kali ini.

Pukul 09.00 setelah kami packing , berpamitan dengan pak Susiono dan berdoa, kami memulai pendakian bersama dengan 5 orang rombongan dari Surabaya dengan Andre sebagai Leader. Cuaca siang itu sangat cerah sehingga membuat kami selalu merasa kehausan, karena selama kurang lebih 4 jam pertama kami berjalan di sisi bukit bagian timur yang sangat terbuka. Pukul 13.00 kami mulai memasuki kawasan hutan yang tidak begitu rimbun, sehingga panas masih cukup menyengat kulit kami. Pukul 13.30 kami beristirahat untuk menikmati makan siang sejenak.

Pukul 14.30 perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Mata Air II sebagai target camp hari pertama kami. Di tengah perjalanan tepatnya pukul 16.00, kami di guyur hujan yang cukup deras untuk membasahi seluruh pakaian yang kami kenakan saat itu. Dan kami memutuskan untuk berhenti sejenak di tempat yang cukup teduh. Ternyata hujan tak kunjung reda, gerimis masih saja menetes di sore itu. Kami melanjutkan perjalanan dalam kondisi basah kuyup (hanya sebagian dari kami). Pukul 17.30 kami tiba di pos Mata Air I yang ditandai dengan papan yang tertempel di sebuah pohon di kiri jalan. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk bermalam di pos Mata Air I. Malam itu kami diserang oleh puluhan tikus yang berwarna kuning keemasan yang sangat lincah dalam hal mencuri makanan kami.

Minggu, 16 Agustus 2009
Setelah menyantap sarapan pagi dan packing, kami melanjutkan perjalanan menuju Cisentor sebagai target berikutnya pada pukul 10.00. Trek yang kami lalui cukup berat hingga pos Mata Air II yang berada sebelum patok kayu nomor Hm 20 dan berada pada bekas kayu tumbang yang ternyata tidak memiliki space untuk lebih dari 1 tenda.Mata air terdapat di lembah sisi kanan jalan. Kami tiba di pos Mata Air II pukul 12.00. Disana kami bertemu dengan rombongan bapak-bapak crosser. Setelah menambah persediaan air, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya yaitu Alun-alun Kecil (Sabana dengan ketinggian 2100 mdpl). Jalur yang kami lalui cukup menyenangkan karena landai dan beberapa kali menurun. Kami tiba di Alun-alun Kecil pukul 14.00.

Setelah beristirahat cukup lama dan berfoto-foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Besar yang juga merupakan salah satu sabana di pegunungan ini. Dalam perjalanan ini kami mulai menjumpai beberapa pohon Edelweiss yang bunganya baru saja mekar. Kami tiba di Alun-alun Besar pada pukul 16.00. Pemandangan di Alun-alun besar sangat indah. Sedikit menyerupai default background Microsoft Windows XP.





Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur dan tiba pada pukul 18.30. Sebuah sabana besar yang konon akan di jadikan sebuah bandara pada jaman penjajahan Belanda. Di sabana tersebut terdapat sebuah sungai yang cukup besar dan di sana terdapat banyak selada air yang sangat segar. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk bermalam di Cikasur. Malam itu aku dan Qomar menerima tantangan menarik dari Andre untuk berjaga malam dengan mengenakan celana pendek, kaos tipis, dan sarung hingga pukul 04.00 pagi dalam suhu 7°C. Dengan santai kami menerima tantangan tersebut dan berhasil memenangkan tantangan tersebut.





Senin, 17 Agustus 2009
Beruntungnya salah satu teman kami dari rombongan Surabaya yang melihat 4 ekor burung Merak berjemur di Cikasur pagi itu. Setelah menyentap sarapan pagi singkat, tutup Trangia Qomar sempat hilang, akhirnya aku dan Qomar tertinggal dari barisan. kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Cisentor berdua pada pukul 10.30. Jalur yang kami lalui bervariatif, menanjak dan menurun. kami mengenakan pakaian lengkap dikarenakan banyaknya semak belukar yang menghalangi jalan. Tak ketinggalan tanaman penyengat yang biasa disebut pohon Djancuk juga banyak terdapat di jalur ini. Jalur yang paling berbahaya ada di punggungan sebelum tiba di Cisentor. Jalur tersebut sangat sempit dan berada di sisi jurang, terlebih saat melewati jembatan yang terbuat dari sebuah pohon besar yang tumbang, kami harus ekstra hati-hati melewati jembatan tersebut.



Kami tiba di Cisentor pukul 14.00. Cisentor adalah sebuah lembah dengan sungai yang mengalir cukup deras di dasar lembah tersebut. Di Cisentor inilah pertemuan dari jalur pendakian Baderan dan Bremi. Pertemuan jalur tersebut ada di samping pos Cisentor. Karena waktu tidak memungkinkan lagi, kami memutuskan untuk bermalam di Cisentor. Alhasil kami tidak mengibarkan bendera merah putih dan kaskus OANC pada tanggal 17 Agustus. Sore itu juga rombongan dari Surabaya yang sedari awal pendakian selalu bersama kami tetap melanjutkan perjalanan ke puncak Argopuro dan kembali ke Cisentor di malam hari.

Selasa, 18 Agustus 2009
Pagi yang sangat dingin terpaksa harus kami lawan untuk mencapai puncak Argopuro. Tepat pukul 06.45, tanpa sarapan kami berangkat menuju Rawa Embik. Sebuah kesalahan fatal dimana kami tidak menyempatkan diri untuk mengisi perut kami, dan ternyata Andre yang membawa satu-satunya carrier hanya berisi 2 batang cokelat yang mengakibatkan kondisi fisik kami menurun drastis hati itu.

Perjalanan menuju Rawa Embik cukup mudah tanpa beban di punggung kami. Jalan yang kami lalui cukup landai dengan pemandangan hutan Pinus dan Edelweiss di sepanjang perjalanan diselingi beberapa sabana kecil. Kami tiba di Rawa Embik pada pukul 08.00. Rawa Embik adalah sebuah sabana dengan sungai kecil sebagai sumber air tertinggi di gunung Argopuro. Setelah beristirahat dan mengambil air di sungai, kami melanjutkan perjalanan menuju persimpangan puncak pada pukul 08.30. Kami kembali di suguhi dengan pemandangan Edelweiss dan Pinus yang cukup lebat. Namun kali ini kami harus ekstra hati-hati dengan pohon-pohon Pinus kering yang ada di sekitar kami. Karena di jalur tersebut sangat banyak pohon tumbang yang menindih pohon kering lainnya.





Kami tiba di Simpang Puncak pukul 10.30. Pemandangan di Simpang Puncak cukup menarik, dimana pohon Edelweiss tumbuh di kanan dan kiri jalan di tengah sabana di antara 2 puncak yang terlihat sudah sangat dekat.

Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Rengganis (Jalur Kiri) pada pukul 10.45. Jalur yang kami lalui cukup menanjak dan didominasi oleh bebatuan. Kami tiba di puncak Rengganis pukul 11.00. Sungguh pencapaian yang sangat membahagiakan mengingat perjalanan kami selama 3 hari sebelumnya cukup berat bagi kami. Pemandangan yang disajikan pun benar-benar dapat menghapus rasa lelah kami. Perpaduan antara sejarah, budaya, dan alam yang ada di puncak Rengganis membuat kami terkagum-kagum untuk beberapa saat.






Karena pada saat itu kondisi fisik kami cukup lemah (terlebih Dedi yang memang sedang dalam kondisi sakit), kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro, namun Andre tetap melanjutkan perjalanannya menuju puncak Argopuro pada pukul 11.50. Setelah puas mengabadikan keindahan puncak Rengganis dalam kamera saku, kami bertiga kembali menuju Simpang Puncak pada pukul 12.00 dan tiba di Simpang Puncak pukul 12.10.

Andre tiba di puncak Argopuro sebagai delegasi dari tim kami pada pukul 12.15 dan mengabadikan puncak tersebut dalam beberapa foto (menyusul) selama 15 menit. Pukul 12.30 Andre beranjak dari puncak Argopuro menuju Simpang Puncak dimana kami bertiga tertidur di bawah pohon Pinus menunggu Andre. Andre tiba di Simpang Puncak pada pukul 12.45. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Cisentor pada pukul 13.30 dengan kondisi lapar. Pukul 14.00 kami tiba di Rawa Embik dan beristirahat sejenak. Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 14.30 dan tiba di Cisentor pada pukul 15.00. Karena kondisi badan kami dan waktu yang tidak memungkinkan, kami kembali memutuskan untuk bermalam di Cisentor.

Rabu, 19 Agustus 2009
Pagi itu kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, kami menyantap sarapan bersama sambil mendiskusikan rencana perjalanan selanjutanya. Disitu muncul sedikit perdebatan alot antara keputusan Andre untuk bermalam di Taman Hidup apapun resikonya dan keputusan untuk langsung menuju Bremi karena keadaan Dedi kurang baik. Perbedaan pendapat itu terus berlanjut sepanjang hari itu.

Kami memulai perjalanan turun pada pukul 10.00 menuju Aeng Poteh (Air Putih), yaitu sebuah sungai kecil di sebuah lembah di jalur Bremi. Jalur menuju Aeng Poteh cukup landai, Namun kami harus mengenakan pakaian lengkap untuk menghindari luka goresan semak belukar yang tumbuh tinggi di sepanjang jalan menuju Taman Hidup. Kami tiba di Aeng Poteh pukul 11.00 sembari sejenak beristirahat dan mengganti air kami karena air dari Cisentor kurang segar.

Pukul 11.15 kami melanjutkan perjalanan menuju Cisinyal, sebuah tempat dimana hampir semua sinyal handphone cukup kuat diterima. Perjalanan menuju Cisinyal sangat berat, dimana kami harus mendaki (dalam perjalanan turun) beberapa punggungan bukit yang cukup curam dan menghindari pohon Djancuk yang tersebar dimana-mana. Formasi kali itu pun turut berubah, Andre yang selama ini menjadi leader berada di belakang dan Dedi sebagai leader.

Kami tiba di Cisinyal pada pukul 12.15. Pada saat kami tiba di Cisinyal, kami melihat sebuah pemandangan menyedihkan, dimana sebuah bukit (diluar jalur pendakian) di sisi kiri pandangan lurus dari Cisinyal mengalami kebakaran hutan. Langsung saja aku menghubungi pak Susiono untuk mengabarkan kebakaran tersebut, namun sayang pak Susiono saat itu juga sedang dalam pendakian gunung Argopuro untuk pemantauan.

Kami kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 12.30 di tengah terik matahari. Jalur yang kami lalui berikutnya sangat bertolak belakang dengan jalur sebelumnya, jalur ini menurun sangat curam, cukup untuk menggetarkan lutut kami. Perjalanan terasa sangat panjang dan membuat kami frustasi. Kepenatan tersebut hilang saat kami memasuki kawasan hutan lebat berlumut tebal yang ada di sekitar Taman Hidup. Hutan tersebut sangat indah dan sejuk, jalurnya pun landai. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikannya dalam foto.



Pukul 16.00. Kami tiba di Taman Hidup. Sebuah Danau yang cukup besar di tengah pegunungan Yang Timur. Dengan hutan lebat yang mengelilinginya menjadikan danau ini sangat indah dan sejuk. Setelah kami mengambil air cadangan untuk melanjutkan perjalanan turun dan berfoto-foto, akhirnya Andre setuju dengan keputusan kami untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin dikarenakan kencangnya angin yang bertiup dan tidak ada satu orang pun di Taman Hidup.

Air di danau ini terlihat cukup keruh, tapi itu tak berarti air danau ini kotor. Seperti kata-kata yang keluar dari mulut pak Susiono "Alam itu tidak kotor, hanya manusia yang mengotorinya, toh kotornya alam kotor yang organik dan tidak berbahaya". Airnya pun sangat dingin meskipun ketinggian danau ini tidak setinggi sungai di Cisentor. Meskipun Saat itu matahari masih menyinari sebagian sisi danau, dingin terasa menusuk hingga tulang jari tangan saat aku mengambil air.

Pukul 16.45 sore itu kami bergegas melanjutkan perjalanan kami karena waktu yang terus berputar dan angin di Taman Hidup sore itu yang cukup membuat bulu kuduk kami berdiri. Jalur yang kami lalui berikutnya tetap berupa hutan lebat, namun kali ini dengan tingkat ke-curam-an yang tinggi, membuat lutut kami semakin bergetar.

Hari pun mulai gelap, senter dan Headlamp pun disiapkan. Formasi berjalan kami pun kembali berubah. Andre tak lagi berada di posisi belakang karena dia terlihat mulai melemah. Perjalanan itu cukup melelahkan bagi kami dan membuat mental kami cukup jatuh, selain karena kondisi fisik yang sudah sangat lelah, kami dibingungkan oleh percabangan jalan yang sangat banyak. Sebuah pilihan yang berat untuk bertahan di Taman Hidup atau melanjutkan perjalanan dalam kondisi fisik yang lemah di malam hari. Mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kesalahan yang harus kami lakukan pada saat itu.

Karena keterbatasan info yang kami miliki tentang jalur yang harus kami ambil setelah Taman Hidup, kami memutuskan untuk bermalam dimanapun kami sampai jika tidak menemui tanda perkampungan pada pukul 21.00. Namun setelah melalui perjalanan malam yang cukup melelahkan, kurang lebih pukul 19.30 kami mulai memasuki hutan produksi karet dan melihat lampu perkampungan. Saat itu harapan mulai muncul dan menghapus keraguan kami.

Kami terus berjalan menembus malam dalam kelelahan yang berat. Andre mulai terlihat melemah. Dia sempat terjatuh seperti orang pingsan, kontan kami menolongnya dan akhirnya carrier yang dia gunakan kami lepas dan kami bawa secara bergantian supaya Andre dapat berjalan dengan baik. Tatapannya kosong, mukanya pun sangat pucat, sebuah keheranan yang sangat besar bagi kami. Andre yang pada saat pendakian sebagai leader dan berjalan begitu gagah dan cepat seperti anggota marinir yang kerap melatih fisik mereka di gunung ini, berubah menjadi Andre yang seperti seorang pendaki pemula yang mengalami frustasi pada pendakian pertama.

Setelah 1 jam berputar-putar di ladang penduduk dan kebingungan arah, kami mengambil keputusan untuk "nyasak" jalur di ladang. Aku dan Qomar yang masih cukup memiliki tenaga mencari jalur terdekat menuju perkampungan. Alhasil kami menemukan jalan pintas yang tidak lazim. Kami tiba di perkampungan kurang lebih pada pukul 20.30 tepat di belakan rumah warga.

Kami sangat bahagia saat tiba di perkampungan. Dengan kondisi yang lemah kami berjalan mencari warung yang masih buka malam itu. tapi naasnya kami tiba terlalu larut hingga tak ada lagi warung makan yang buka.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menuju Polsek Bremi, dalam perjalanan tersebut andre kembali hampir terjatuh dan karena dia kembali membawa carriernya sendiri, jalannya pun tak lagi bisa lurus. Akhirnya kami melepas carriernya lagi dan Qomar menopang jalannya sambil membawa carrier Andre dan aku memanggul carrier Qomar yang cukup ringan, sedangkan Dedi kami tugaskan untuk mencari warung. Setibanya di Polsek, kami segera membeli mie dan telor serta minuman segar di toko depan Polsek karena memang tidak ada lagi satupun warung makan yang buka. Kami tiba di Polsek Bremi pukul 21.00. Kami memutuskan untuk bermalam di Polsek Bremi. Malam itu kami beristirahat cukup nyaman meskipun hanya beralas matras dan SB.

Kamis, 20 Agustus 2009
Kami menikmati sarapan pagi nasi daging dan teh hangat (Rp.6.000) di warung lesehan yang berjarak kurang lebih hanya 100 meter dari Polsek Bremi pada pukul 08.00 (Bremi - Pajarakan Rp. 9.000, Bremi Probolinggo Rp. 12.000). Di warung itu kebetulan ada bus jurusan Bremi Probolinggo yang sedang parkir menunggu penumpang, langsung saja kami menaiki bus tersebut pada pukul 08.30 setelah menikmati sarapan pagi. Aku, Qomar dan Dedi menuju Pajarakan yang merupakan pertigaan jalan raya Probolinggo - Banyuwangi ke Bremi karena kami akan singgah sejenak di rumah Dedi, dan Andre menuju Probolinggo karena harus mengejar kereta ke Bandung. Kami tiba di Pajarakan pada pukul 09.30, disitulah kami berpisah dengan Andre.

Kami bertiga melanjutkan perjalanan ke rumah Dedi dan tiba di sana pada pukul 10.15 dengan menggunakan bus ke Paiton Gudang Garam (Rp. 4.000) dan angkot menuju rumahnya (Rp. 3.000). Setelah menyalin foto yang ada di kamera Dedi, beristirahat dan makan siang, aku dan Qomar melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja pada pukul 14.00 dengan bus menuju Surabaya (Rp. 18.000) langsung karena kami mendapat bus jurusan Banyuwangi-Surabaya. Kami tiba di Terminal Purabaya Bungurasih Surabaya pukul 20.00 dan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan bus patas Eka (Rp. 62.000) pada pukul 22.00.

Kami tiba di Terminal Giwangan Jogja pukul 05.00. Dari situ kami berpisah karena tujuan kami berbeda. Qomar menggunakan bus jalur 15 dan aku menggunakan bus Trans Jogja (yang baru pertama kali ini aku naiki) menuju perempatan Kentungan (Rp.3.000). Aku tiba di kost pada pukul 07.00 pagi.

...KEINDAHAN ARGOPURO DAN PERJUANGAN PANJANGNYA TAK AKAN HILANG DARI INGATAN...

...JANGAN PERNAH BERUSAHA UNTUK MENAKLUKKANNYA, RESAPILAH KEINDAHANNYA DALAM JIWA...


Thanks to :

* Tuhan YME
* All OANCeh
* Rombongan Surabaya (Yang setia menemani perjalanan kami)
* Pak Susiono (Atas semua info dan ijin yang diberikan)
* dan teman-teman semua yang mendukung kami.

bersambung...

09 Juni 2009

Pagi yang menakjubkan


Pagi ini memang menjadi pagi malas bagiku, dimana tidak ada jadwal yang cukup tercatat di otakku saja. Sebenarnya aku tak berniat untuk terbangun terlalu pagi, mengingat kakiku masih terasa pegal karena bermain futsal sore kemarin. Terlebih karena tidurku yang begitu pulas malam tadi hingga malas rasanya ku beranjak dari tempat tidurku yang sempit.

"Ta..Bangun, bangun Ta" teriak Yayak dari depan pintu kamarku.

Malas rasanya ku membuka pintu kamar yang terlihat sangat jauh itu, tapi tak apalah, aku bisa tidur lagi setelah membuka pintu .

"Ada apa Yak?" kutanya dengan mata belum penuh terbuka

"Gak ada apa-apa, cuma pengen bangunin aja..hehe"jawabnya sambil memalingkan badan dan beranjak dari halaman kamarku.

Huff, ternyata dia hanya iseng saja membangunkanku, kukira ada sesuatu yang penting hingga dia harus membangunkanku pagi ini. Kembali ku merebahkan badanku diatas tempat tidurku dan meninggalkan pintu kamar dalam keadaan terbuka, bunyi gesekan per kawat dipanku yang telah berumur 8 tahun ini sedikit mengganggu telingaku. Aahh..nikmat rasanya ku kembali dimanjakan selimut tipisku.

Pagi ini terasa begitu berbeda di kostku yang memang berada di kawasan pegunungan Jogja. Ya, pagi ini cuaca sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya, mendung menyelimuti langit yang terlihat dari tempat tidurku, angin sejuk pun bertiup perlahan seakan tak mengijinkanku kembali terlelap. Sungguh segar udara pagi ini, hingga aku tersadar dari malasku, dan tak ingin melewatkan pagi yang menakjubkan ini.

Sebotol teh dingin kubeli di toko depan kostku setelah ku cuci mukaku yang penuh mimik kemalasan pagi ini, kunyalakan laptop bututku, sambil mendengarkan lagu "Home" by Chris Daughtry, ditambah koneksi internet yang sangat menyenangkan pagi ini, tangganku tak mau berhenti menekan tiap tombol keyboard saat kumulai menulis tulisan ini.

Ya, Pagi ini cuaca begitu segarnya sehingga menghapus rasa malasku. Cuaca yang sangat bersahabat ini di tengah asrinya desa tempat ku singgah beberapa tahun terakhir ini, akan kah dirasakan oleh adik-adik kita nanti 10 tahun mendatang?Apakah pohon-pohon yang ada di sekitar kostku masih tetap ada 15 tahun mendatang?Apakah segarnya udara dan angin ini masih mau bertiup menyegarkan manusia yang entah masih punya rasa peduli dengan alam atau tidak?

bersambung...

08 Juni 2009

Hari Laut Dunia


Mungkin hanya sedikit sekali dari masyarakat Indonesia yang mengetahui Hari Laut Dunia (World Oceans Day) yang jatuh tepat pada hari ini -08 Juni 2009-. Peringatan hari laut dunia ini sepertinya memang tidak banyak di rayakan oleh masyarakat seluruh dunia khususnya Indonesia, mungkin dikarenakan kurang populernya hari laut dunia. Sangat disayangkan mengingat Indonesia adalah negara yang memiliki perairan yang luas dan kekayaan bawah lautnya yang luar biasa.

Hari Laut Dunia telah ditetapkan sejak tahun 1992 pada The United Nations Conference on Environment and Development (Earth Summit) di Rio De Janeiro, Brazil. The Ocean Project bekerjasama dengan World Ocean Network untuk membangun kesadaran pada seluruh masyarakat akan pentingnya peranan laut dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Penetapan hari laut dunia ini berbeda dengan hari laut yang dirayakan di Jepang pada 26 Juni setiap tahunnya.

Hari Laut Dunia memberikan kesempatan bagi seluruh umat manusia untuk terlibat langsung dalam melindungi masa depan yang lebih baik dengan pemikiran baru yang tentunya diikuti dengan tindakan dan keterlibatan seperti operasi bersih pantai, program pendidikan, kontes seni, festifal film, dan berbagai cara lain untuk memberikan kesadaran akan pentingnya kelestarian laut bagi masyarakat luas.

Masih hangat sebenarnya ingatan kita dengan perayaan hari lingkungan hidup dunia (Earth Environment Day) yang diperingati pada 05 Juni (tiga hari yang lalu) setiap tahunnya, seharusnya dapat sedikit menumbuhkan rasa kesadaran bagi kita akan pentingnya kelestarian alam ini. Terlebih dengan adanya beberapa perayaan lain tentang kelestarian alam seperti Earth Hour (28 Maret) dan Earth Day (22 April) yang juga hanya beberapa minggu berselang. Mulailah dari hal kecil saja

Sudah saatnya melestarikan laut yang menjadi salah satu kekayaan alam Indonesia yang tidak dimiliki negara-negara lain di dunia. Sudah saatnya Indonesia memberikan sebuah langkah tepat bagi Alam ini.

"Our Ocean, Our Responsibility"
"One Ocean, One Climate, One Future"

bersambung...

05 Juni 2009

The World Environment Day



Bumi sudah semakin tua dan membutuhkan uluran tangan kita. Itulah sebabnya beberapa organisasi dan lembaga didirikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian alam ini. Tak hanya sebatas organisasi dan lembaga yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, aksi ini pun diperingati oleh masyarakat seluruh dunia pada hari yang telah ditetapkan sebagai Earth Day, Earth Hour, dan World Environment Day.

Hari ini -05 Juni 2009- merupakan hari lingkungan hidup sedunia (World Environment Day). World Environment Day merupakan salah satu usaha yang ditetapkan oleh PBB pada 05 Juni 1972 dibawah tanggung jawab United Nations Environment Program (UNEP) guna memperingati pentingnya kelestarian lingkungan hidup.

Kelestarian lingkungan memang hal yang cukup menarik jika diperbincangkan. Sebagian orang menganggap aksi seperti ini hanya membuang-buang waktu saja, dan sebagian orang menganggap aksi ini merupakan salah satu bentuk langkah mulia untuk menjaga kelangsungan hidup manusia di muka Bumi ini.
Sebenarnya apa sih manfaat dari hari-hari peringatan seperti ini bagi kelangsungan hidup sehari-hari?
Jika lebih dalam mengamati hasil yang diterima dari aksi ini, adalah sebuah gambaran kelangsungan hidup manusia yang asri dan penuh kebahagiaan, sertan tidak adanya kekerasan metropolitan yang dirasakan seperti saat ini. Gambaran tersebut dapat dirasakan ketika kita kembali kepada masa 20, 50, bahkan 100 tahun yang lalu, dimana pepohonan masih rindang menyelimuti kota, sungai-sungai mengalir jernih di pinggiran desa, anak-anak kecil berlarian senang diatas tanah yang segar.

Sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Emisi gas CO2 mengepul di tengah kota, sampah-sampah memenuhi sungai yang sudah terlanjur keruh, anak-anak kecil yang hanya boleh bermain permainan digital karena orang tuanya takut terjadi sesuatu di luar sana.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki semua yang sudah terjadi?
Waktu memang tidak dapat diputar kembali, kebutuhan hidup saat ini pun sungguh berbeda dengan saat "itu". Akan tetapi beberpa langkah-langkah hidup hijau sudah banyak di publikasikan untuk turut menjaga kelestarian lingkungan ini. Versi tips hidup hijau pun sangat beragam, dari mulai tips hijau bagi pekerja kantor, hingga tips hidup hijau bagi anak kost.

Jadi mengapa harus berkata tidak jika ternyata melestarikan lingkungan hidup ini tidak sesulit yang dibayangkan?

bersambung...

26 Mei 2009

Sebuah catatan di atas kertas usang



Dua lembar kertas usang kembali ku temukan di antara tumpukan buku yang -hampir- tak pernah kubaca, kertas yang berisi catatan perjalanan pendakian gunung Semeru tahun 2005 aku temukan setelah 4 tahun ini aku cari. Bahagia rasanya kembali menemukan catatan itu. Ku baca dan ku baca berulang-ulang, merasakan kembali perjalanan yang penuh suka duka 4 tahun yang lalu.

Dari catatan perjalanan tersebut, aku menuliskannya dalam salah satu blogku yang lain. Memang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kertas usang tersebut, namun tulisan ini lebih kepada informasi pendakian Semeru. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Mount Semeru is the highest volcano in Java. With his "Puncak Mahameru" peak at an altitude of 3.676 meters above sea level (MASL), the Mount is included in the Bromo Tengger Semeru National Park. This mountain is located in the city of Malang and Lumajang.

Semeru is a favorite mountaineering area for Indonesian mountaineers, because it has a great view. Crater "Jonggring Saloko" which is located on top of the "Puncak Mahameru" always blowing a smoke every 15-30 minutes, the smoke is a toxic gas that is very dangerous, the mountaineers are advised not to approach crater, and leave the summit before noon, because the wind blow towards the peak in the afternoon.

  1. Where's the interesting place?

    • Tumpang - Ranu Pani (Ranu = Lake) : off road trip with the view of under the cloud desert, Bromo mount, and Tengger mount.

    • Ranu Kumbolo : a 14 hectares lake located at an altitude of 2400 MASL, is the best place for camping with a very

    • Tanjakan Cinta (Tanjakan = climb, Cinta = love): A climb that is at the end of the Ranu Kumbolo have a myth about the love, that is if someone can climb through without a stop and turn, then his love wishes will be happen. The scenery is good

    • Oro-oro Ombo (Oro-oro = Savanna, Ombo = wide): A Savanna is a quite wide and it is surrounded by hills. It has a very interesting scene.

    • Kalimati (Kali = river, Mati = dead): A terrain at 2.700 MASL, is located in the pine forest with spectacular view of Puncak Mahameru, this place became one of the favorite areas of photography.

    • Puncak Mahameru : The highest place on the Java island, form of paving sand. Overlooking the crater "Jonggring Saloko" that blowing every 15-30 minutes, it was the most beautiful place in Semeru. It was a beautiful scenery.

  2. When to go?

    • Climbing should be done in the dry season( June, July, August, and September). Should not climb in the wet season because of frequent storms and landslides, rainy season occurs in November-April.

  3. How to get there?

    • Come to Malang by bus, train, or plane

    • Malang – Tumpang : 30 minutes, use public transport to Tumpang for about Rp. 10,000 / person. Other alternative is to charter a car transportation.

    • Tumpang - Ranu Pani : 2 hours, use the Jeep for about Rp. 30.000 / person. Other alternative is to use the vegetable truck (a little amount of people) with a cheaper price (Mr. Machis +62341787490). Bromo Tengger Semeru National Park fee is about Rp. 5,000/person

  4. Trekking Route:

    • Ranu Pani - Base camp (2.200 MASL). Ranu Pani is the Semeru mountain climbing base camp. You can spend the night in the base camp and explore porter. It was sloping climbing path.

    • Watu Rejeng. Watu Rejeng (5 KM from Ranu Pani) is a very beautiful steep stone. Scenic pines forest covered a valleys and hills are very beautiful. You also see the explotion of smoke from the top Semeru. It was sloping climbing path

    • Ranu Kumbolo (2.400 MASL). Ranu Kumbolo (5 KM from Watu Rejeng, about 5-6 hours from Ranu Pani) is the most strategic place for camping. In addition to water sources and have wood that much, Ranu Kumbolo scene is also very good. It was sloping climbing path.

    • Oro-oro Ombo. It’s a wide savanna, It was sloping climbing path, but before entering the Oro-oro Ombo, you have to climb through Tanjakan Cinta that drain enough the energy for about 30 minutes.

    • Cemoro Kandang (Cemoro = Pine, Kandang = shed). Cemoro Kandang (about 1 hour from Ranu Kumbolo) is a pine forest on the edge of Oro-oro Ombo. Road began a little steep and quite tiring, Cemoro Kandang ended in Jambangan, a few Edelweiss trees with the Savanna, and Puncak Mahameru in the peak.

    • Kalimati (2.700 MASL). Kalimati (5 KM, and about 4 hours from Ranu Kumbolo) is a savanna and a quite strategic for camping. There is also a water source Sumber Mani outside climbing routes (about 30 minutes from Kalimati). It was sloping climbing path

    • Arcopodo (2.900 MASL). Arcopodo (1.5 KM and about 2 hours from Kalimati) is a forest path with a steep ascent. Arcopodo is the last place that can be used for camping.

    • Puncak Mahameru (3.676 MASL). Puncak Mahameru (1.5 KM and about 4 hours from Arcopodo) is the top of the mountain Semeru. The road to Puncak Mahameru very steep and dangerous, as they climb a gravel path and the chasm is between. Leave the before peak hours 10:00 am, because the wind will breathe toxic gas from the crater Jonggring Saloko to Puncak Mahameru in the afternoon.

  5. Tips:

    • Use shoes and gaiters, especially Arcopodo - Peak Mahameru

    • Leave items in the last camp to make it easier to climb to the top of Semeru

    • Prepare at least 4 days of time to enjoy the climbing

    • Terms registration ascent: 2 copy of identity card

    • Semeru topograph http://mapy.mk.cvut.cz/data/Indonesie-Indonesia/Mix/Semeru.jpg


Tulisanku ini juga dimuat di : http://indonesianwild.com/semeru-highest-place-in-java/

bersambung...

20 Mei 2009

Hidup hijau ala anak kost


Green Living rupanya telah menjadi sebuah tren bagi kaum muda yang "sadar" akan pentingnya menjaga kelestarian Bumi ini, bahkan ada yang menamakan diri sebagai green kost. Sebenarnya ide dari tren ini sangat baik sekali, dimana para anak muda yang mengaku sudah go green mendapatkan daya tarik tersendiri dari tren tersebut, juga Bumi ini yang turut berbahagia karena semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya kelestarian Bumi
Apakah mereka yang mengaku green person sudah benar-benar melakukan sesuatu yang berarti untuk Bumi ini? Ataukah hanya sebagai sebuah embel-embel saja sebagai profil diri?

Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, menghemat energi, membeli segala peralatan yang ramah lingkungan memang merupakan langkah yang sangat bagus untuk memulai go green. Tetapi apakah langkah-langkah yang terlalu umum seperti diatas mudah dilakukan bagi anak-anak kost di jaman yang penuh akan tuntutan hidup modern?

Berikut adalah beberapa langkah "hijau" yang cukup mudah dilakukan bagi anak kost -juga bagi semua orang- :

  • Membiasakan mematikan lampu dan alat elektronik -minimal yang tidak penting- saat meninggalkan kamar
    Mematikan lampu kamar merupakan salah satu langkah hemat energi yang jarang diterapkan oleh anak kost. Jika kebiasaan ini dapat menyebar ke seluruh anak kost, anda akan menghemat pembayaran listrik kost dan menjadi "kost yang hijau".


  • Matikan lampu kost/rumah dan kamar mandi saat bangun tidur
  • Lampu kost sering dibiarkan menyala hingga siang bahkan sore hari. Ini merupakan pemborosan energi.

  • Hidupkan water dispenser hanya saat akan digunakan
  • Selain dapat menghemat energi cukup besar, biaya beban listrik kost/rumah anda juga akan berkurang

  • Biasakan untuk makan di warung (tidak di bungkus)
    Kebiasaan membungkus makanan untuk dimakan di kost/rumah akan menyebabkan tumpukan plastik di kost/rumah. Jika memang harus membungkus, hematlah plastik dengan membungkus semua barang bawaan dalam satu plastik, jika memungkinkan bawalah tas/kantong belanja sendiri.


  • Biasakan berjalan kaki jika dalam jangkauan 500 meter
  • Dengan membiasakan diri berjalan kaki, penghematan bahan bakar yang terjadi cukup membuat anda menjadi green person.

  • Carilah tempat sampah dalam radius 10 meter
  • Mengapa memilih untuk mengotori kost dari pada membuang sampah di tempat sampah yang hanya berjarak 10 meter dari kamar? Jika perlu, tempellah tulisan untuk menjaga kebersihan bersama




  • Jangan Begadang -tambahan materi dari Chie-
  • Dengan bagadang, enargi listrik yang digunakan lebih banyak, karena jumlah lampu yang dinyalakan pasti lebih banyak dan lebih lama, belum lagi alat-alat elektronik yang lainnya.





Mengapa memilih hidup kotor jika bersih itu mudah?


PS : Jika ada tambahan silakan dituliskan

bersambung...

12 Mei 2009

Edelweiss, kepunahan dari keabadian


Edelweiss (Anaphalis Javanicus) adalah bunga yang sangat terkenal di kalangan para pendaki gunung. Karena ekosistemnya yang berada di ketinggian 2000-2900 mdpl (meter diatas permukaan laut), tidak semua orang dapat menikmatinya secara langsung.

Sebenarnya ada perbedaan antara Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanicus) dan Edelweis Eropa (Leontopodium alpinum), terlihat jelas dari nama latinnya yang sangat berbeda, Edelweiss Eropa memiliki bunga yang lebih besar dan cantik seperti pada gambar di bawah ini. Edelweiss Eropa juga bukan merupakan bunga yang berrumpun seperti Edelweiss Jawa.


Bunga ini juga disebut sebagai bunga abadi karena tidak akan layu meskipun sudah dipetik dari pohonnya, sehingga banyak orang yang menjadikan bunga ini sebagai salah satu oleh-oleh favorit saat mendaki gunung, ada yang menjadikannya sebagai hiasan rumah, hingga ungkapan cinta kepada kekasih.

Bunga ini merupakan bunga yang dilindungi mengingat ekosistemnya yang hanya ada di pegunungan tinggi dan populasinya yang terbatas. Namun "status" ini tidak menghalangi para "pencuri" Edelweiss untuk memetik -dan merusak- bunga Edelweiss. Beberapa larangan memetik bunga ini sudah ditetapkan di berbagai gunung di Indonesia, namun sekali lagi ini tidak dapat menghentikan aksi "pencurian" liar ini.

Banyak orang yang merasa bangga dengan serumpun bunga Edelweiss di tangannya, melambangkan kegagahannya menaklukkan ganasnya gunung yang didaki. Tapi itu hanyalah persepsi orang-orang bodoh yang tidak tau pentingnya kelestarian alam ini. Alam tidak untuk ditaklukkan, dan Edelweiss bukanlah bunga hiasan.


Merupakan sebuah tanda kebodohan berbangga hati dengan membawa Edelweiss turun ke dataran rendah, toh bunga ini akan berubah warna setelah dipetik, tak sesegar saat tumbuh anggun diatas daun-daun hijaunya. Kenapa tidak pandan laut saja yang dibawa ke rumah? atau murbei yang bisa tumbuh di dataran 100 mdpl? Toh semuanya juga tidak ada di sekitar rumah anda.

Dilema ini sudah menjadi tanggung jawab bagi kita para penggiat alam yang kerap berkecimpung di habitat bunga Edelweiss. Mari kita bersama-sama saling mengingatkan untuk menjaga kelestarian bunga Edelweiss atau setidaknya mengingatkan diri sendiri untuk tidak "mencurinya".








bersambung...

10 Mei 2009

Tradisi Merapi Wapalhi, 2-3 Mei 2009


Tradisi merapi (TM) adalah salah satu acara rutin dari Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (Wapalhi) Politeknik Negri Semarang yang diadakan setiap tahun. Beberapa rangkaian acara dalam TM adalah pendakian masal gunung Merapi, bakti sosial, dan upacara pelantikan kepala suku Wapalhi, oleh karena itu TM dibuka untuk umum.

Jum'at, 01 Mei 2009
Sore hari yang cerah mengiringi keberangkatanku sendiri dari terminal Jombor, Jogja. Aku berangkat tepat pukul 17:00 menggunakan bus Patas Nusantara dengan membawa gitar dan sebuah backpack yang menempel di punggungku.

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan karena backpack dan gitarku hanya memberikan ruang gerak yang sangat sempit, akhirnya aku tiba di Semarang, tepatnya Sukun pada pukul 20:00. Gigih datang menjemputku sekitar 10 menit setelah aku menunggu. Dengan motor tanpa lampu depan, kami menerobos hujan yang cukup lebat mengguyur Semarang malam itu, dan akhirnya kami sampai di kost Gigih pukul 20:30.

Pukul 21:00 kami bergegas menuju posko Wapalhi, karena di posko sedang diadakan reuni Wapalhi yang dihadiri oleh anggota Wapalhi dari seluruh angkatan. Aku yang memang bukan anggota Wapalhi hanya mengikuti acara di belakang dan sekadar ngobrol dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Acara selesai pada pukul 00:00, tetapi kami masih tetap bersantai di posko hingga pukul 04:00

Sabtu, 02 Mei 2009
Seusai makan siang di sebuah warung tegal, kami segera bersiap untuk berangkat ke posko, karena acara akan di mulai pukul 13:00. Kami tiba di posko pukul 13:30, dan rupanya upacara pembukaan baru saja dimulai. Peserta TM tahun ini terbilang cukup banyak, kurang lebih 200 peserta yang berasal dari berbagai kota di Jawa.

Kebetulan aku ikut bersama rombongan panitia yang akan diberangkatkan oleh truk terakhir, yaitu truk nomor 6. Setelah menunggu lama, akhirnya kami diberangkatkan pukul 15:30. Truk kami terasa penuh karena ditambah dengan beberapa peralatan panitia yang akan di gunakan di base camp Merapi (Selo).

Setelah melewati beberapa masalah di perjalanan -salah satu truk sempat mengalami kerusakan-, kami tiba di Selo pukul 19:00. Beberapa dari kami -Aku, Gigih, Gombong, Ulum, Hasan, Emon, Bebek, dan beberapa senior angkatan mereka- memilih untuk turun di pasar Selo.

Kami menyempatkan diri menikmati mie ayam yang tersedia di pasar Selo sebelum melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi. Sungguh nikmat sekali menikmati hidangan mie ayam dengan segelas teh panas di dinginnya Selo saat malam. Sembari menikmati makan malam, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan seorang bapak yang rupanya sedang touring dengan istrinya menggunakan sebuah sepeda motor butut. Sungguh sebuah kisah yang menarik dimana sepasang suami istri tersebut sudah cukup berumur untuk berwisata seperti ini.

Kami bersama-sama melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi yang terletak cukup jauh dari pasar Selo. Sesampai di base camp, ternyata para peserta sedang menikmati hidangan malam yang disediakan panitia, namun perut kami sudah cukup penuh dengan semangkuk mie ayam sedap di pasar Selo.

Malam itu panitia menyediakan sebuah tontonan film dokumenter tentang letusan-letusan gunung berapi di dunia. Aku hanya menonton sebentar karena sebenarnya aku sudah pernah menonton film dokumenter ini. Kami melanjutkan malam dengan berjalan-jalan di sekitar base camp dan berbincang-bincang di depan pawon untuk menghangatkan tubuh.




Minggu, 03 Mei 2009
Pukul 02:00, mataku sudah terlalu berat untuk menahan kantuk yang menggerogotiku, ditengah dinginnya Merapi, kami memejamkan mata saat para peserta memulai pendakian. Sungguh nikmat rasanya tidur berselimutkan sleeping bag di depan perapian.

Belum lama mata terpejam, suara Gigih dan Gombong mengagetkan ku. "Bangun bangun!!! mau naik nggak!!!". Dengan malasnya, akhirnya kita berangkat pukul 03:15 pagi hari. Suhu terasa sangat dingin, menembus selembar sarungku yang menyelimuti tubuhku.

Tanpa berbekal lampu senter/headlamp, kami berjalan terperosot beberapa kali, membuat tenaga kami sangat terkuras. Perlahan-lahan rombongan kami -yang berangkat akhir- mulai terpisah, hingga akhirnya kami berempat -aku, Gombong, Gigih, Bebek- yang masih tetap berjalan bersama.

Mentari sudah bersinar, perjalanan kami pun makin mudah. Di persimpangan entah apa namanya -aku tidak hafal daerah Merapi-, kami memilih untuk mengambil jalur alternatif. Ternyata jalan yang kami lalui cukup berat, dimana jalan yang tersedia tidak jelas. Dengan berjalan menyisir punggung bukit, kami melewati taman Edelweiss yang sangat cantik. Aku dan Gigih terlalu asik mengambil gambar bunga dan pemandangan di sekitar kami hingga kami terpisah dengan Gombong dan Bebek.

Kami kembali melanjutkan perjalanan ditengah segarnya udara pagi Merapi. Dalam perjalanan, kami menemukan 2 goa kecil yang cukup cantik, namun sayang sampah berserakan di dalam goa tersebut. Sekali lagi kami terlalu asik mengambil gambar di sana. Tak jauh dari Goa tersebut, akhirnya kami menemukan jalur utama pendakian, dan di sana kami kembali bertemu dengan Gombong dan Bebek. Rupanya masih banyak peserta yang tertinggal di belakang kita.

Perjalanan kami lanjutkan perlahan karena memang pemandangan di sekitar kami terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Hamparan bukit bebatuan yang terpantul cahaya matahari pagi, serta hamparan gunung di seluruh Jawa Tengah yang terlihat indah dari atas gunung Merapi, memiliki keindahan tak terlupakan sepanjang hidupku.

Perjalanan kami berlanjut hingga kami menemukan sebuah tanah lapang dengan beberapa bongkah batu besar yang -daerah tersebut- disebut dengan Pasar Bubrah. Disinilah pendakian kami berakhir tepat pukul 07:45, ini bukanlah puncak Merapi, tapi kami tidak menginginkan untuk mencapai puncak merapi, karena pendakian ini memang kami rencanakan hanya sampai Pasar Bubrah saja.

Pada pukul 08:30, upacara Tradisi Merapi Wapalhi dilangsungkan di Pasar Bubrah. Upacara tersebut meliputi pengangkatan kepala suku baru Wapalhi dan pelantikan Anggota Wapalhi. Upacara pengangkatan kepala suku baru diikuti oleh seluruh peserta TM. Namun saat pelantikan anggota Wapalhi, para peserta diperbolehkan untuk meninggalkan lapangan upacara. Aku yang hanya berstatus peserta tak jelas -panita bukan, senior bukan, orang tua bukan, tapi tidak bayar- hanya duduk di puncak sebuah batu besar di sekitar lokasi upacara dan mengambil gambar saat upacara berlangsung.

Upacara selesai pada pukul 09:45, kami segera bersiap melakukan perjalanan kami menuruni gunung Merapi. Pada pukul 10:00 kami memulai perjalanan turun dari pasar bubrah, namun belum lama kami melangkahkan kaki, terdengar teriakan "Wapalhi...P3K!!!". Rupanya ada salah satu peserta yang terluka akibat dagunya terkena batu yang jatuh saat mendaki puncak Merapi. Sebenarnya ini bukanlah tanggung jawab panitia karena terjadi saat pendakian ke puncak -panitia sudah mengingatkan pendakian hanya sampai di Pasar Bubrah, selebihnya diluar tanggung jawab-, namun dengan jiwa besar, panitia tetap mengurus korban sebaik-baiknya dengan lapang dada.

Kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke base camp. Kami tiba di base camp pukul 12:30 siang, kami segera menuju warung depan base camp untuk menikmati segelas es teh dan gorengan hangat di tengan panasnya terik mentari.

Setelah menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia, Upacara penutupan TM dimulai pukul 15:00. Upacara berlangsung sangat meriah, karena ada pembagian doorprize bagi beberapa peserta TM. Saat upacara berakhir, ada sebuah pengumuman yang mengagetkan seluruh peserta TM, ternyata salah satu peserta individu -tidak atas nama organisasi- TM mencuri HP salah satu peserta lain, sungguh perbuatan yang sangat menodai kegiatan alam bebas. Beruntung panitia dapat menangani kasus tersebut dengan baik dan tidak dengan cara-cara yang bodoh.

Truk peserta di berangkatkan pada pukul 16:00, namun 1 truk terakhir -truk panitia- masih menunggu para panitia yang masih membereskan semua yang tersisa. Beberapa saat kemudian datang seorang senior yang baru saja sampai di base camp dan mengatakan bahwa masih ada 3 peserta yang berada di atas, dan salah satunya sudah tidak mampu berjalan. Spontan kami segera mempersiapkan penyelamatan kepada peserta tersebut. Setelah peralatan siap, kami -kurang lebih 10 orang- melakukan proses pencarian dan penyelamatan (SAR). Namun tak lama kami mendaki, peserta tersebut rupanya sudah mampu berjalan meskipun -sangat- pelan dan di tuntun. Lega rasanya seluruh anggota sudah turun dengan selamat.

Waktu menunjukkan pukul 19:00, truk terakhir yang sangat penuh -melebihi saat keberangkatan- mulai berjalan pelan, semua orang yang ada di dalam truk tersebut sudah sangat mengantuk. terlihat beberapa orang tidur sambil berdiri tidak peduli guncangan laju truk. Akhirnya kami sampai di posko Wapalhi pukul 22:00. Senang rasanya sudah sampai di posko dan bisa meluruskan kaki, namun sedih rasanya kembali berpisah dengan teman-temanku.

Teman, kita pasti akan kembali berpetualang bersama lagi

bersambung...

23 April 2009

Earth Day di Indonesia



Tepat 1 hari setelah perayaan hari kartini di Indonesia, masyarakat seluruh dunia merayakan Earth Day (Hari Bumi). Perayaan pada tanggal 22 April ini dilakukan guna mengingatkan kita akan pentingnya kelestarian alam kita yang semakin hari semakin rapuh karena kurangnya rasa peduli kepada kelestarian Bumi ini.

Akan tetapi, seperti yang kita semua ketahui, keberadaan Earth Day di Indonesia kurang begitu populer. Masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang lebih mengetahui keberadaan Valentine Day dibandingkan dengan Earth Day. Salah satu penyebab kurang populernya Earth Day di Indonesia adalah kurangnya dukungan dari Pemerintah kepada Earth Day. Ironisnya, Pemerintah kota Jakarta tahun ini telah melakukan dukungan bagi Earh Hour dengan mematikan lampu pada tanggal 28 Maret lalu. Namun tidak ada dukungan yang muncul guna memperingati hari Bumi atau Earth Day.

Sangat disayangkan sekali bahwa Earth Day kurang populer di Indonesia, karena justru di hari Bumi ini kita seharusnya semakin sadar akan pentingnya kelestarian Bumi, tetapi justru pemerintah kurang mendukungnya, dan bahkan ada seorang teman yang berkata "kado pemerintah di Earth Day adalah MENGELUARKAN IZIN PERTAMBANGAN DI AREA HUTAN LINDUNG", bukankah itu sangat menyedihkan.

Tercatat beberapa perusahaan besar sangata mendukung gerakan ini. sebut saja Google, Yahoo, dll. Mereka bahkan merubah logo produk mereka pada hari tersebut (lihat gambar di bawah).



Ada beberapa pertanyaan menarik yang dikutip dari sebuah thread di Kaskus.

  • apa pendapat anda tentang hari Bumi yg dirayakan hari ini?
  • apakah anda sudah merasa "peduli" thd bumi n lingkungan kita ini?
  • jika ya, apa yg sudah anda lakukan?
  • jika belum, apa yg akan anda lakukan?
  • apa pendapat anda thd orang yg "mengaku peduli" terhadap alam, bumi dan lingkungan sekitar tetapi tidak ada tindakan nyata sama sekali?
Bagaimana dengan anda??

bersambung...

09 April 2009

Sepeti cave, Underworld



Sabtu, 04 April 09

Ketika mentari menerobos jendela kamarku, aku terbangun dan bergegas mempersiapkan diri untuk petualangan baru dalam hidupku. Ya, caving dihari itu memang merupakan sebuah pengalaman baru dalam hidupku.

Seusai mandi pagi, kami (Aku dan Gombong) segera melakukan perjalanan menuju Purworejo pada pukul 08:30 WIB. Karena kami tidak mengetahui detail lokasi, kami sempat tersesat beberapa kali di perbukitan Purworejo, dan itu menghambat perjalanan kurang lebih 1 jam.
Setelah melewati berbagai rintangan yang ada, akhirnya kami tiba di base camp Mbah Cokro (kecamatan Kali Gesing) pada pukul 11:00. Rupanya teman-teman lain (dari WAPALHI Semarang) sudah menunggu disana. Huhh, rupanya kita terlambat.

Setelah menyantap makan siang bersama dan berramah tamah dengan mbah Cokro, tim kami (9 orang) mulai melakukan perjalanan pertama kita ke Goa Sepeti pada pukul 13:00. Goa Sepeti merupakan goa vertikal yang memiliki kedalaman 24 m dan hanya memiliki satu akses saja. Secara pengalaman, tim kami terdiri dari 3 orang expert, dan 6 orang pemula termasuk aku.

Kami tiba di mulut goa tepat pukul 13:00. Langsung saja aku melihat kedalam goa, dan ternyata goa Sepeti tidak terlihat cukup dalam. Akan tetapi saat sebuah batu dilemparkan kedalam goa, pantulan suara yang terdengar menunjukkan bahwa dasar yang terlihat bukanlah dasar yang sebenarnya.

Setelah mempersiapkan peralatan dan penentuan jalur selama 1 jam, satu per satu anggota tim kami mulai menuruni tali (biasa disebut rappeling). Tetapi aku yang benar-benar baru pertama kali memegang alat, meminta bantuan Gombong untuk menjelaskan cara kerjanya. Cukup dengan kursus 5 menit, akhirnya tiba giliranku untuk masuk kedalam goa. Tidak ada masalah dengan rappeling yang aku lakukan, semuanya berjalan mulus, bahkan perasaanku tidak terlalu takut, mungkin karena aku sangat menginginkan caving sejak lama.

Setelah tim terkumpul di dalam goa(kecuali yang bertugas diluar), kami menelusuri goa yang ternyata tidak begitu luas selama 15 menit, namun ada satu titik yang sangat menarik bagiku, yaitu kolam air dengan satu sisi dinding yang tegak berdiri gagah seolah menjaga kemurnian kolam tersebut. kolam tersebut berada ujung lorong yang hanya bisa dicapai oleh orang berbadan kurus (seperti aku) dengan posisi badan miring karena jalannya sangat sempit sekali. Sungguh sebuah kemegahan alam yang baru kali ini aku rasakan.

Tepat pukul 16:30, kami mulai menaiki tali (disebut dengan prusiking). Gombong mencoba menjadi orang pertama yang memanjat, tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata Gombong memanjat sangat lama, padahal dia termasuk anggota yang berpengalaman. Aku mendapatkan kesempatan kedua, ternyata memang benar bahwa prusiking tidak semudah yang terlihat, semua tenaga terkuras habis, dan frustasi menyelimuti pikiran. perasaan yang ada hanya lelah, dan akhirnya aku sempat menyerah waktu hampir sampai di mulut goa karena prusik ku menyakngkut di kernmantel yang telah di balut dengan plester. Tapi akhirnya aku berhasil menaklukkannya karena dukungan Gombong dan Rahmat.

Masalah besar datang saat aku dan Gombong menunggu ditengah hujan lebat dan malam yang dingin tanpa cahaya dan atap. Rupanya satu-satunya perempuan dalam tim kami memulai prusiking, sekitar 2 jam dia tidak bisa bergerak keatas, mungkin karena tenaganya sudah sangat terkuras, dan akhirnya kami memutuskan untuk menariknya. 3 orang menarik, 1 orang mengendalikan tali. Dan yang lebih parah, saat si korban sampai di mulut goa, dia terlihat sangat shock, dan akibatnya hingga pagi hari dia tidak berbicara sepatah katapun. Karena adanya masalah tersebut akhirnya sisa anggota tim kami yang masih berada di bawah tidak lagi menggunakan prusik, tetapi menggunakan SRT (Single Rope Technique). Proses ini jauh lebih mudah dibanding dengan prusiking, menghemat waktu dan tenaga.

Akhirnya seluruh anggota tim berkumpul di sekitar mulut goa pada pukul 01:00 dini hari. Setelah alat kami kemasi kembali, akhirnya kami pulang ke base camp pada pukul 02:30 dan sampai di base camp pada pukul 03:00. Setelah membersihkan badan dan makan malam (lebih tepat disebut makan sahur), kami beristirahat pada pukul 04:30.

Pagi harinya aku dan Gombong tidak mengikuti caving kedua menuju goa Nguik (goa Horizontal) karena kami sangat lelah (hanya kami berdua yang prusiking). Sembari menunggu teman-teman caving, kami menyempatkan diri mengobrol dengan mbah Cokro yang ternyata juga seorang petualang. Dia adalah juru kunci goa-goa disekitar goa Seplawan yang merupakan goa utama di daerah tersebut

Setelah makan siang dan berkemas, kami berpamitan dengan mbah Cokro dan keluarga pada pukul 14:00. Pada saat itu pula aku dan Gombong berpamitan dengan tim kami karena kami harus berpisah arah. Tanpa disadari, ternyata kami masih harus melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Dan akhirnya kami sampai di Jogja tepat pukul 18:00

bersambung...

23 Maret 2009

Earth Hour 2009



Vote Earth!. Itulah seruan dari aksi "Earth Hour" yang di galang oleh WWF. Aksi ini merupakan usaha WWF untuk turut menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Aksi ini mengajak kita semua untuk melakukan sebuah langkah kecil yang sangat berguna bagi kelestarian Bumi ini. Sebuah aksi yang sangat baik dan bijaksana mengingat kondisi Bumi saat ini dan melihat sulitnya menyadarkan sebagian orang untuk menjaga kelestarian Bumi.

Tahun 2009 adalah tahun ketiga dari aksi ini. Earth Hour dimulai pada tahun 2007, dimana 2,2 juta jiwa di Sydney memadamkan lampu secara bersamaan, hal ini tentunya melalui dukungan pemerintah mereka. Pada tahun 2008, tercatat 50 juta orang memadamkan lampu secara bersamaan, bahkan beberapa lampu properti kota yang besar turut dipadamkan, sebut saja Golden Gate Bridge di San Francisco, Rome’s Colosseum, the Sydney Opera House dan billboard Coca Cola di Times Square turut dipadamkan untuk mendukung aksi ini. Dan di tahun 2009 ini, WWF mentargrtkan untuk mencapai jumlah 1 Milyar pendukung aksi ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mendukung aksi ini?
Mudah sekali jawabannya, kita hanya perlu memadamkan lampu dan peralatan elektronik secara bersama-sama pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2009 mulai pukul 20:30 - 21:30 waktu setempat. Ini hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun.

Apa efek dari pemadaman listrik tersebut bagi kita?
Tidak bisa dipungkiri, bahwa aksi ini membawa efek yang sangat baik bagi kelestarian Bumi kita. WWF menyebutkan, pemadaman listrik yang akan dilakukan di kota Jakarta sama dengan :
  1. 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
  2. Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
  3. Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2
  4. Menyelamatkan lebih dari 284 pohon
  5. Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang

Apa yang dapat kita lakukan saat pemadaman listrik?
  1. Undang teman dan keluarga untuk pesta “tanpa lampu” di depan rumah. Sajikan hidangan ringan yang merupakan produksi negeri sendiri, sambil bermain gitar dan bernyanyi bersama.
  2. Matikan lampu, komputer dan telepon selular. Gunakan waktu sunyi tersebut untuk berisitrahat dari dunia listrik dengan bermeditasi untuk rileksasi pikiran dan tubuh.
  3. Undang teman spesial untuk makan malam romantis atau hanya sekedar ngobrol sambil ditemani cahaya lilin.
  4. Undang teman-teman untuk kemping di halaman rumah. Menyanyikan lagu, berbagi cerita-cerita seram, dan membuat jagung bakar di perapian.
  5. Melemaskan otot dan serta menenangkan pikiran dengan berendam menggunakan garam mandi sambil ditemani cahaya lilin.
  6. Matikan komputer dan menulis surat menggunakan kertas dan pena sambil ditemani cahaya lilin, seperti halnya yang dilakukan oleh orang pada masa belum ada listrik.
  7. Bersama teman atau keluarga bermain tebak-tebakan, catur atau kartu sambil duduk- duduk di depan rumah.

  8. Main tebak-tebakan bayangan senter.
  9. Lihat langit malam melalui teleskop [jika punya] dan nikmati indahnya pemandangan bintang di langit.
  10. Ambil foto atau video bagaimana kamu dan keluarga menghabiskan waktu pada Earth Hour dan jadikan foto dan video keluarga anda sebagai inspirasi orang lain dengan mengirimkannya ke halaman TAKE ACTION di www.earthhour.org/indonesia klik Facebook, Flicker atau YouTube. Dan, jangan lupa ceritakan kisah seru keluarga anda dengan mengirimkan artikel ke tim Earth Hour Indonesia di climate@wwf.or.id


Mudah bukan?
Mari kita selamatkan bumi!!!


Sumber : www.earthhour.org/

bersambung...

17 Maret 2009

Extreme Weekend




07 Maret 2009

Sebuah perjalanan yang tak terduga. Bagaimana tidak, kabar perjalanan baru aku terima hari Sabtu tanggal 7 Maret jam 11:00 siang via status Facebook Gombong. Aku berangkat sendiri dari Jogja pukul 17:00 naik bus Nusantara (Rp. 35.000) dan sampai di semarang (Sukun) tepat pukul 20:00. Setelah nunggu 30 menit, akhirnya mereka datang juga.

Dengan bekal seadanya, kami (Aku, Gombong, Gigih, Engkek) memulai perjalanan ke gunung Ungaran (2050 mdpl) dengan menggunakan 2 motor. Kami memilih base camp terdekat yaitu Perumasan. Darisukun kami berangkat pukul 20:30. Perjalanan melewati daerah Gunung Pati yang bukan merupakan sebuah gunung..hehehe.

1 jam perjalanan pertama terasa biasa saja, tapi setelah itu kami harus berjuang keras melewati medan yang sangat berat. Bagaimana tidak, bebatuan licin sepanjang perjalanan dengan sudut kemiringan yang cukup tinggi membuat kami (sebenernya cuma aku) berkali-kali harus turun dan mendorong motor..Namun semuanya terbayar dengan keindahan hamparan kebun teh yang segar (kan perjalanan malem..mang keliatan???).

Kami sampai di desa Perumasan pukul 22:45. Sejenak kami beristirahat di base camp Biyung, setelah kami mengisi perut dan mengisi air, kami mulai melakukan pendakian tepat pukul 00:00. Sekedar info, di atas sudah ada 3 orang teman kami (Tatag, Dono, Singgih) yang nungguin logistik yang kami bawa..hehehehe..Perjalanan malam yang sangat melelahkan (karena kami gak biasa pendakian malam). Akhirnya kami sampai di camp pukul 03:00, dan malam itu kami tutup dengan makan bersama dan tidur pulas.

08 Maret 2009

Pagi yang sangat cerah sehingga membuat tenda kita terasa panas. Saat pertama kuberanjak dari tenda, pemandangan terasa sangat menakjubkan, indah tak terbayangkan, hamparan perkebunan teh dan jajaran perbukitan yang mengelilingi kota-kota yang tersusun rapi, serta Rowo Pening yang terlihat jelas melengkapi keindahan gunung Ungaran. Itulah keindahan alam. Namun tanpa disadari, sekitar pukul 09:00 hujan turun tiba-tiba dan memaksaku dan gombong sedikit berbasah-basah ria. Dan hujanpun terus menemani hingga sore hari sehingga membuat kita mengurungkan niat kita menggapai puncak gunung Ungaran.

Pukul 17:00 kami putuskan untuk turun walaupun rintik gerimis masih cukup membasahi kami. Seperti biasa sebelum kami melakukan perjalanan, kami mengabadikan momen-momen indah bersama. Perjalanan turun kami terasa sangat cepat, kami tiba di base camp >Perumasan pukul 16:15. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk langsung mendirikan tenda. Kami menghabiskan malam dengan tawa canda yang sangat mengobati rasa lelah kami.

09 Maret 2009

Kami bangun agak kesiangan, dengan cepat kami memasak sisa logistik yang masih ada dan dilanjutkan dengan packing. dari tempat ini kami kembali berpisah (dengan rombongan Tatag, Dono dan Singgih) karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke base camp Mawar.

kami memulai perjalanan kembali ke semarang pukul 10:45. Kami beristirahat untuk makan siang di Gunung Pati pukul 12.00, dan kami memutuskan untuk berpisah karena aku harus kembali ke Jogja secepatnya. Dari Gunung Pati aku dan Gigih langsung menuju Jogja tepat pukul 12:30. Karena aku harus tiba di Jogja secepatnya, Gigih menancap gas motor dengan kencang ditengah padatnya jalanan (aku yang dalam kondisi takut naik motor sangat merasa ketakutan). Dan akhirnya kami sampai di Jogja pukul 14:30.

Setibanya di kost kami istirahat sejenak, dan kemudian aku langsung melanjutkan perjalanan ke Jupiter Paintball. Disana teman-teman sudah menunggu karena permainan akan dimulai pukul 15:00, tapi untungnya aku tidak terlambat (thanks to Gigih).



Paintball kami mulai pukul 15:00. peserta kali ini hanya 14 orang (Apid, Cangak, Gentong, Aku, Olly, Yudha, Sigit, Harry, Klepon, Widi, Mirwan, Yaya, Coki, Salhazan -- dari kiri ke kanan). Team dibagi menjadi 2 yaitu Alpha (orange) dan Bravo (hijau). Kami menggunakan Jungle stage, yaitu arena dengan cover berbagai drum, papan, dan pepohonan, namun sayangnya kali ini semak belukar sudah mereka (provider) bersihkan, jadi sekarang tempat lebih terbuka. Tim kami (Alpha) memenangkan pertandingan dengan poin 3-1. Permainan selesai pukul 17:00, namun sayang kali ini aku kena head shot dari harry dan kehabisan peluru 2 kali. Hehehe..tapi semuanya senang.

Setelah lelah bermain paintball, kami bersama-sama makan malam di warung makan ayam (lupa namanya) di Seturan, hidangan ayam goreng kami nikmati sambil bercanda tawa bercerita tentang pertandingan tadi. Selepas makan, kami berpisah untuk kembali ke kost masing-masing.

Sampai disinilah petualangan akhir mingguku berakhir, walaupun lelah sangat terasa, namun bahagia bersama teman-teman tak akan terlupakan..

Thanks sob...

bersambung...

24 Februari 2009

Nims Island


Sebuah pulau terpencil bernama pulau Nim, yang hanya dihuni oleh seorang gadis bernama Nim Rusoe (diambil dari nama pulau tersebut) dan Jack Rusoe (ayah Nim) yang merupakan seorang ilmuwan. Mereka berdua sangat merahasiakan keberadaan pulau tersebut karena mereka tau jika banyak orang yang mengetahui keberadaan pulau Nim yang sangat indah, maka keindahan pulau tersebut, serta habitat flora dan fauna yang ada didalamnya akan rusak.

Suatu hari ketika Jack akan pergi untuk meneliti Protozoa, Nim ditinggalkan di pulau bersama teman-temannya (Lizard, Anjing laut, Burung camar, dan Penyu). Jack berjanji akan pulang 2 hari kemudian. Namun ternyata setelah berada di tengah lautan, Jack di terjang badai, badai itupun menghancurkan perhunya. Setelah mengetahui bahwa Jack telah hilang, Nim meminta Alexandra (yang merupakan penulis buku petualangan favorit Nim) untuk membantu mencari ayahnya. Namun ternyata Alexandra adalah seorang "Borderline Agoraphobic" (takut pada dunia luar, selalu hidup di dalam rumahnya), dan dia harus menempuh perjalanan berat menuju pulau Nim.

Sungguh merupakan salah satu film yang menarik dan memberikan kita semangat untuk menjaga kelestarian alam ini. Film yang dibintangi oleh Abigail Breslin (Nim), Gerard Butler (Jack) dan Jodie Foster (Alexandra Rover) disajikan dengan sangat baik, menarik, dan memuat pesan yang sangat penting bagi kita. Dimana seorang anak berjuang keras mempertahankan sebuah pulau dari tangan asing yang akan berakibat pada kerusakan alam tersebut.

Sebenarnya cukup banyak film yang memiliki pesan tersembunyi dibalik ceritanya. Sebut saja Wall-E, The Day after Tomorrow, The day The Earth Stood Still, dll., semuanya memiliki pesan baik akan pentingnya menjaga kelestarian alam ini. Sebuah langkah yang bagus untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

bersambung...

23 Februari 2009

Keindahan Wisata Perairan Indonesia


Hawaii, Karibia, Phuket, Galapagos, mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, boleh dibilang itu adalah tempat terbaik untuk mendapatkan sensasi wisata alam yang luar biasa. Hamparan pasir putih yang halus, desir ombak yang menyapu jejak langkah, hingga terumbu karang berwarna seakan lukisan Tuhan, tak akan membuat kita berkata "tidak" untuk singgah di indahnya tanah "mereka".

Tapi seperti yang kita semua tau, singgah di tanah mereka "tak semurah" singgah di tanah air kita. Puluhan bahkan ratusan juta Rupiah tak akan terasa untuk mencicipi keindahan alam "mereka". Namun kita semua juga tau dengan keadaan ekonomi masyarakat Indonesia, mungkin hanya segelintir orang kita yang mampu memijakkan kaki mereka di pulau yang banyak orang menganggapnya surga dunia. Sungguh sangat disayangkan

Mengapa harus mengeluh dengan keadaan tersebut? Menurut majalah Travel + Leisure pada tahun 2007, Pulau Bali telah 8 kali berturut-turut menempati peringkat pertama “World’s Best Islands” (Pulau terbaik di dunia). Prestasi ini sangat luar biasa mengingat Bali telah jauh mengalahkan Hawaii yang berada di posisi 9 dan Phuket di posisi 8. Bali adalah milik Indonesia.

Mungkin tak banyak dari kita yang mengetahui keindahan alam Indonesia yang kita miliki. Sebut saja Pulau Lombok, Kepulauan Karimun Jawa (Jepara), Kepulauan Seribu, Raja Ampat (Papua), Pulau Sempu (Malang - memiliki pemandangan menyerupai pantai dalam film The Beach), Iboih (Aceh), Bunaken (sulawesi), Pulau Komodo, Pulau Moyo, dan masih sangat banyak sekali wisata alam Indonesia yang sangat sangat indah dan wajib di kunjungi (dan juga dilestarikan).

Jadi mengapa harus menghabiskan dana yang sangat banyak jika juga dapat menikmati keindahan alam Indonesia yang luar biasa dengan biaya yang sangat murah?

bersambung...

13 Februari 2009

lombok...pulau impian..



Tepat satu mingu hilangnya motorku, aku melakukan perjalanan "luar" Jawa pertamaku, dan tujuanku adalah pulau lombok. Pulau yang telah ku impikan sekian lamanya, pulau yang memiliki sejuta pesona yang menawan, pulau yang selalu menyajikan keindahannya, pulau yang begitu memikat hatiku...

catatan perjalanan dapat diunduh disini

bersambung...

11 Januari 2009

tahun baru di karimun....karimun di tahun baru...


wwwwaaaaahhh...setelah tertunda 2 bulan, akhirnya keluar juga ni tulisan

setelah menunggu untuk sekian taun..(dari jaman SMA pengen kesana, diitung aja sekarang dah berapa taun berarti??)..akhirnya aku sampe juga ke kepulauan karimun jawa...gembira...bahagia...ceria...suka...cita...yang kurasa...(lebayyyyy)...wis intine seneng...gitu aja deh...eh, ternyata bisa upload sekarang temen2..hehehe

kami berangkat ber 6.(aku, gigih, chimenk, gombonk, ulum, ngkek)..sebenernya rencana gak jelas gitu...gara2 "tang tung...mangkat"(cak cek...berangkat...kira2 gitu deh klo di indon-in).kami jadi berangkat tanpa informasi yang jelas, perbekalan yang memadai, dan duit yang ngepress...

langsung wae yo konco2...


Semarang, 30 Desember 2008

kami berangkat dari semarang,(khusus aku n chimenk dari jogja..pegel bokonge), kami naik motor, dua motor lampunya gak beres.kami dari semarang jam 12 malem(sapa tau ada mba kunti mo liburan juga).kami naik motor pelan2 kira2 2 jam deh sampe jepara, jadi dari semarang--> demak-->jepara gitu...di perbatasan sempet istirahat ngopi dulu, malah sama bapak2 dikira jalan kaki dari semarang..(naik motor aja dah mo mampus rasanya..gimana jalan kaki???)

di jepara kami transit dulu di rumah temen (thanks 2 kosovo) yang belum dihubungi sebelumnya (kami kayak maling, jam stengah 3 ketok pintu...).kami tidur sebentar, nah, gobloknya ketua panitia yang gak cari info itu...(mampus koe let...). kami tu gak tau jadwal pemberangkatan kapalnya itu..denger2 kapalnya cuma berangkat hari sabtu...dah pada pasrah gitu tampangnya...jauh2 sampe jepara masa taun baruan suruh nonton superglad???wedew...gak seru...

Jepara, 31 Desember 2008

kami bangun jam stengah 7 an deh...disuguhin teh anget buatan mak'e kosovo alias bu Kasdi, ternyata ada kabar dari mak'e kosovo klo khusus akhir taun ni ada pemberangkatan jam 9..wedew...buru2 semua deh pokoknya..sat set sat set..(kira2 bunyinya gitu), makan, mandi, packing,....and....tang tung,,,,,mangkat..kami di anter temen kosovo naik pick up sampe ke pelabuhan jepara...seger banget pagi2 naik pick up...

sekitar jam 9 kurang 15 kami dah sampe di dermaga...wuhh...bahagia rasanya (lebayyy lagiii).tapi beneran...kami tu...(lebih tepatnya aku) seneng banget dah mau jalan ke karimun...my wonderland...

dah beli tiket seharga 30rb perorang, kami naik kapal langsung ke atas..cari tempat yang seger...toh perjalanan cuma 2 jam...katanya....itu baru katanya lo...maklum lah direkturnya gak punya inpo...wekekekeke...(mampus lagi koe let...),setelah bertanya tanya..ada orang yang bilang 4 jam...huff...sepertinya bakal jadi perjalanan membosankan nih...tapi temen2 malah ragu...yang bener 2 jam ato 4 jam sih???kami putuskan aja tanya sama ABK, "pak, pak, perjalanan sampe karimun jam berapa ya pak??", gampang aja bapak itu jawab "setengah empat".ooowww....berarti...WAAAAAAA....6,5 jam perjalanan laut...wedew...mabuk mabuk dah sekalian...

1 jam pertama di laut sempet di guyur ujan cukup deres..seger banget...gak takut basah rasanya...mumpung bahagia...hehehe...tapi, itu baru satu jam pertama, berarti masih ada 5,5 jam berikutnya...ampun deh makkk...
panas mulai menyengat, pulau jawa perlahan ditelan lautan..(peribahasa doang om....bukan do'a).satu persatu makhhluk tepar di lantai besi..huf...bete juga ya...pengen njajan gak ada duit...kasian amat ya kami..tapi akhirnya tetep aja beli roti 1 sama kopi 2 buat rame2...lumayan ganjel perut...matahari tepat diatas kepala..panas membakar kulit..cuma pegang selinting rokok sambil gitaran sendiri...angin semilir bikin ngantuk,,,tapi klo tidur ntar malah gak ada yang jaga barang…waduh…

5 jam berlalu di tengah lautan lepas..di ujung terlihat segaris pulau yang menyapa seakan mendambakan kehadiran kami..(lebay lagi…)langsung aja aku berdiri menatap indahnya pulau pujaan hatiku…ya…karimun…Jam tanganku menunjukkan waktu tepat 15.30..kapal mulai merapat di dinding dermaga…indahnya pulau ini memang gak Cuma kata orang aja..semuanya terlihat indah..dari kapal keliatan juga pulau menjangan besar yang juga terlihat indah dan tak berpenghuni...

Pas keluar dari kapal…mak nyussss….rasanya…seneng banget akhirnya dah sampe di karimun jawa coy…pokoke seneng banget..tapi masalahnya..sampe situ kami gak tau mau kemana lagi n ngapain..wakakaka...sama sama bingung..akhirnya gigih tanya sama orang jalan ke dermaga nelayan, coz dari situ kami bisa nyebrang ke pulau2 lain..kira2 1 km kami jalan kaki sambil belanja nglengkapin bekal yang gak cukup(bener2 gak cukup)..di tengah perjalanan kami mutusin tujuan kami adalah pulau menjangan besar yang terlihat tenang dan indah dari kapal.

sampe di dermaga, gak perlu tanya orang, ada orang (pak parmo) yang nyamperin kami, "mau nyebrang mas?".langsung aja kami jawab iya.tadinya ditawarin PP 50, kami tawar dapet 30 PP buat 6 orang (1 perahu).dari puluhan perahu yang numpuk di dermaga, ternyata nyempil tu perahu kecil banget punya pak parmo..wew...kecil amat...lucunya, pas nyebrang tu si ngkek keliatan ketakutan, pegangan sisi perahu n carrier dia.wakakaka..dah gitu perahunya sempet wrap di tengah...maklum, parmo si pelaut kan jago potong kompas alias nyasak laut..wakakaka...but thanks a lot pak...

sampe di menjangan besar kita turun tepat di depan pos penangkaran penyu, di samping kandang burng elang pantai.pasirnya terasa halus banget.airnya jernih. 5 menit kita tanya lokasi sumur air tawar (padahal payau) sama pak parmo, kita langsung jalan ke timur, coz dari kapal tadi kelihatannya sisi timur ada tempat bagus banget.tapi aku sama gombong ke sumur dulu ambil air, yang lain lanjut cari lokasi camp kami..di sumur kami ambil air beberapa botol yang ada.tapi kok banyak nyamuk ya????

malem pertama kami lewati dengan makan nasi gak jelas rasa semrawut...trus nangkep ikan2 kecil buat umpan mancing (ternyata ikan gede pada gak doyan). kami nangkep ikan pake daun kelapa basah di jadiin jaring buat ngggiring ke pasir, ada juga yang kami tangkep langsung pake tangan.padahal cuma pake senter redup 1 samalampu badai..kebetulan pas pulang ada kepiting agak kecil, nah, tangkep aja sekalian..tapi apesnya...tanganku di capit sampe berdarah...kurang ajar tu kepiting.dagingnya dikit, tanganku robek...

Menjangan Besar island, 01 Januari 2009

tepat jam 00 malem kami nonton kembang api yang cuma ada satu di pulau yang jauh di sana...abis tu muncul di karimun beberapa flare yang di tembakin keatas..lumayan juga deh dari pada gak ada..tapi cuma bentar..suasana tetep aja hening...abis tu pada tepar deh...di temani ratusan nyamuk yang menyerang.

paginya kami masak kayak biasa.agak lumayan deh rasanya..abis tu kami cari makanan tambahan kayak kepiting kecil(kami sebut jingking).aku sama ulum, gigih sama gombong, yang di camp ngkek sama chimenk.kami jalan ke arah timur..tapi akhirnya aku sama ulum kepisah, untungnya aku ketemu gombong n gigih..10 menit jalan, ternyata tempat yang keliatannya bagus banget dari kapal tu parah...isinya karang..gak bisa buat camp deh..kami bertiga terus jalan, niatnya sekalian cari lokasi camp ke 2.

saking asiknya kami jalan, gak kerasa udah jauh, sempet nglewatin rawa2(sumpah ngeri rawanya, banyak nyamuknya lagi), bebatuan merah raksasa, hutan bakau, padang pasir...ternyata kita dah muterin setengah pulau. nah, masalahnya kami bertiga dah sama2 capek, laper n lemes. klo mo balik lagi jauh banget, muter lagi juga kayaknya masih jauh banget..akhirnya kita putusin buat potong kompas, keliatannya deket kok.ternyata,....ampun mak,....semak belukarnya lebet banget..dah gitu jauh pula...bener2 nguras tenaga banget lewat semak belukar itu...

sampe di camp ternyata bukannya nyaman, dicamp kok panas banget udaranya..akhirnya kami pada buka pakaian (sisain kancutnya doank), trus ngubur diri deh di pasir...uh, enak banget cuy, cobain deh...(ada fotonya lo...tapi dilarang nonton, bukan muhrim...wakakakaka)

sore hari kita lewati dengan berenang bareng bulu babi..(hiii...serem lo). trus malem harinya kita lewati dengan berhimpitan di dalem tenda kapasitas 5 orang, coz di luar ujan n angin kenceng cuy...


Menjangan Besar island, 02 Januari 2009



hari ketiga dah mulai kami nikmati bersama.walaupun bekal mulai menipis banget (yang gak doyan terong jadi doyan...ya gak lum???). tapi kami tetep aja seneng..hehehe. abis makan pagi, kami langsung packing semua barang kami, kami mutusin buat pindah camp ke sisi barat pulau, kata pak moko (si penjaga pulau...tapi rumahnya kok gak di pulau itu ya???) di sisi barat lebih enak, ada angin, jadi nyamuknya dikit (itu baru nikmat...)

siang itu kami (aku, cimenk, gigih) main ke rumah pak moko, liat penangkaran hiu..sebenernya kita bisa renang lo sama hiu2 itu, tapi sayang kami gak punya duit..(bilang aja takut..), trus kami bertiga renang di laut dalam cuy,...ngeri sih sebenernya...tapi seger banget rasanya...abis tu kami ngobrol2 sama pak moko, eh, malemnya kami diajak mancing di laut, tapi cuma 2 orang aja..(kebetulan yang gak mabuk laut cuma aku n gigih)...lumayan d buat makan, kebetulan kami juga bawa pancing.

kami berangkat mancing dari maghrib sampe jam 11 malem, dan menutup malam dengan ikan bakar hasil tangkapan aku (cuma 2 ekor), dan banyak sekali ikan hasil tangkepan pak moko yang di hibahkan ke kami...(thanks banget pak...)

Menjangan Besar island, 03 januari 2009

pagi hari menyambut...jadwal pagi hari...seperti biasa, pindah tidur ke tepi pantai...wakakakaka. waktu kami lalui dengan malas2an, super malas...gak tau mau apa, tapi ada yang cukup berkesan buat aku, sore itu aku jadi boatman-nya pak moko mancing cumi2, biarpun cuma bisa ngedayung perahu rafting, dayungan perahu nelayan ku gak jelek2 banget kok kata pak moko...hehehehe

abis itu pak moko ngajakin aku ngasih makan elang yang dipinggir pantai itu. nah lucunya, pak moko kan tau kami keabisan duit tuh...kebetulan ikan2 di kolamnya (bisa di bilang piringnya) si elang tu masi banyak, nah, aku suruh ngambilin ikan yang pada mati sama pak moko, nah..."buat apa pak???", pak moko sih sante aja jawab (dasarnya pak moko asik banget orangnya)."ya buat makan kalian yang pada kelaperan"...ya sudah lah...toh masih seger juga...jadi makan sisa elang deh...tapi gak kerasa pas udah dimakan...beeehhh...dah pada laper semua sih ya. di goreng kering banget, klo gak salah ikannya ada 10 lebih....langsung abis...

malemnya gigih n gombonk nyebrang sama pak moko, mau ngelobi keluarganya temennya gigih (padahal baru sekali ketemu di merbabu) yang besok mau kita datengi sebagai tempat transit dan mengadu nasib padahal anak itu lagi di jogja...wekekekeke...alhamdulillah proposal di terima...dasar anak2 gak tau malu..tapi gak papa, dari pada kami terlantar..hehehe

Menjangan Besar island, 04 januari 2009

pagi hari kami rencana mau cepet2 nyebrang ke karimun, paling nggak biar bisa minum air tawar deh..hehehe, tapi gak tau kenapa aku sama gigih jalan2 di air dangkal, cuma bawa tombak dari kayu kecil di iket di pisau, kami berdua jalan klo diliat2 sih 2 km lebih deh, tapi enaknya, airnya gak dalem, paling dalem se perut deh..hehehe asik kan

sepanjang perjalanan itu banyak banget keindahan laut yang kami nikmati. ada banyak bintang laut lo...ada yang mirip banget sama patrick di spongebob squarepants itu...nah, gebleknya, pas kami jalan ada ikan pari lumayan gede, tau gak trus kami ngapain???kami kejar tu ikan pari sambil gigih lemparin tombak...(--psssttt...tenang dulu kayak ekspresi kami abis ngejar ikan pari--)..."ikan pari kan yang bunuh steve itu kan???", nah looo...kami berdua jadi ngeri deh...tapi jangan salah cuy, abis itu ada lagi ikan pari, tapi bukannya kami takut, malah kami buru lagi tu ikan..wakakakaka...belum selesai nih...masih ada lagi, malah gak cuma satu...wakakakak...dasar orang2 gila...

abis itu kami balik sambil ketawa2 n langsung masak bareng anak2, abis makan kami langsung packing, pamitan sama pak moko, trus nyebrang sama pak parmo deh...

sampe di rumah temennya gigih (namanya aku lupa), kami di sambut baik banget, diem2 kami rebutan jajanan yang di sajiin ibunya..wakakaka...emang pada gak tau malu, tapi sampe situ, langsung kamar mandi jadi antri...seger banget rasanya mandi..malem harinya kita sempet jalan2 di kampung karimun, sekalian mau ke tempat temennya bapaknya temen kami (wekekekeke...panjangnya tu silsilah).namanya pak datang, tapi pas kami datang, pak datang tidak datang membukakan pintu dan mengucapkan selamat datang, soalnya pak datang lagi nge datang in rumah mertuanya..wekekekeke...lama2 datang bulan nih...

Karimun island, 05 januari 2009

pagi2 kami siap2, yang mandi yo mandi, coz penyebrangan kapal ke jepara cuma ada jam 7(klo gak 7 ya 8, lupa gak di catet).abis pamitan, kami langsung berangkat menuju pelabuhan, kami jalan cukup jauh, nah pas lagi santai jalan, klakson tu kapal bunyi...halah...lariiiiii.......jangan sampe kita ketinggalan kapal...masa musti seminggu lagi....untungnya tu nahkoda gak ninggalin kami...huff...

beli tiket lagi dengan harga yang sama, kami langsung naik ke kapan, lansung menuju tempat kami, di dek atas..pertama sih asik...abis itu...beeeeh...panas ommm....dah gitu tepar semua, tinggal aku sama gigih, tapi abis itu lagi2 aku jaga sendirian...huff...untung aja bawa kelapa yang udah di kupas..hehehe,...malah kelapanya satu dituker sandwich sama bule..hehehe

siang hari kami kembali memijakkan kaki di jepara, dermaga terasa sesak, berhimpitan orang2 yang entah apa kesibukannya...kami di jemput sama temen2, ida, suami ida, adik ida, kosovo, ceweknya kosovo, n temennya kosovo...hehehe..banyak banget yang jemput ya...kami langsung ke rumah ida dulu, disana kami disuguhi es soda gembira, gorengan, rokok djarum super, kacang rebus, kurma...bbeeehhhh...nikmatnya,.,,,,thanks banget da...

sorenya kami ke rumah kosovo, n dilanjutin jalan2 ke pantai kartini...pantai lagi...ya pantai lagi...tapi pantai kartini tak seindah pantai di menjangan...jauh berbeda,,,sangat berbeda...aku mulai merindukan indahnya menjangan..keheningannya yang menghangatkan jiwa, kemurniannya yang memutihkan hati...sunguh simfoni yang begitu indah..

Jepara, 06 Januari 2009

pagi hari setelah sarapan, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang ke semarang..hati kami bahagia, semua penat tlah berlalu, semua beban tlah terurai..karimun..kenanganmu takkan hilang dari ingatan kami...

miss u karimun

bersambung...

ShareThis

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP