Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2009

Argopuro, 15-19 Agustus 2009 (Kaskus OANC Trip)


The team :

* Andre Andika
* Dedi Kurniawan
* Muhammad Tirta Kusuma
* Qomar Ardhani


Argopuro adalah sebuah gunung dalam jajaran pegunungan Yang Timur yang berada di kawasan kabupaten Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Situbondo. Gunung tersebut memiliki 2 puncak utama yaitu puncak Rengganis dan puncak Argopuro sebagai puncak tertingginya (3088 mdpl). Jalur pendakian resmi gunung tersebut adalah jalur Baderan yang berada di desa Baderan, kecamatan Sumber Malang, Situbondo. Jalur pendakian tersebut merupakan jalur pendakian terpanjang di pulau Jawa.

Kamis, 13 Agustus 2009
Perjalanan dimulai pada tanggal 13 Agustus 2009. kurang lebih pukul 19.00 Andre berangkat menuju Surabaya dengan kereta eksekutif Gajayana dari Bandung. Malam itu juga pukul 23.00 aku dan Qomar berangkat dari Jogja menuju Surabaya dengan bus ekonomi Mitra (Rp. 34.000) yang tak kalah garang dengan bus Sumber Kencono.


Jum'at, 14 Agustus 2009
Aku dan Qomar tiba di terminal Purabaya Surabaya pada pukul 07.00 dan melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo pada pukul 07.30 dengan bus ekonomi Ladju (Rp.12.000). Saat bus memasuki kota Probolinggo, para penumpang bus di kagetkan oleh sebuah angkot yang tengah terbakar di pinggir jalan (Photo menyusul). Kami tiba di terminal Probolinggo pukul 09.45. Cuaca terasa cukup panas bagi kami yang tidak terbiasa hidup di daerah panas seperti Probolinggo. Sambil menunggu kedatangan bus, kami berdua menyempatkan diri menikmati sarapan pagi Soto dan Es Teh seharga Rp.10.000 di warung Sidodadi di samping terminal.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Dedi di Paiton Probolinggo menggunakan bus ekonomi (Rp. 6.000) pada pukul 10.30. Kami tiba di Paiton Gudang Garam kurang lebih pukul 12.00 dan segera di jemput oleh Dedi dengan motornya. Di rumah Dedi kami kembali check list untuk menghindari kesalahan fatal nantinya. Pukul 13.30 Andre pun tiba di rumah Dedi. Siang itu kami mendiskusikan keikutsertaan karees yang belum pasti dan tanpa kabar yang pada akhirnya kami putuskan untuk tidak memasukkan karees dalam tim karena keterbatasan waktu kami.

Pukul 16.00 kami berangkat menuju pasar Besuki dari Paiton Gudang Garam menggunakan bus ekonomi (Rp. 5.000) yang sangat penuh. Sepanjang perjalanan tersebut kami disuguhi dengan pemandangan laut lepas dengan diselingi hutan bakau yang tumbuh tinggi di pinggir jalan. Kami juga melewati sebuah PLTU yang berdiri megah di daerah yang cukup sepi itu.

Kami tiba di pasar Besuki pukul 16.30. Karena kami datang terlalu sore, kami tidak mendapatkan angkutan menuju desa Baderan. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju Baderan (Rp. 20.000) yang mana jalan menuju desa tersebut sangat berliku dan menanjak cukup curam. Kami berangkat pukul 16.45 dan tiba di desa Baderan tepatnya di Resort KSDA pegunungan Yang Timur pada pukul 17.30.

Setibanya di sana kami disambut dengan hangat oleh pak Susiono selaku kepala Resort KSDA pegunungan Yang Timur yang sangat gemar minum kopi semalam di pagi hari. Kami berbincang dengan pak Susiono hingga pukul 22.00. Kami menginap di resort KSDA dengan biaya Rp. 2.000 / kepala (Resort termurah di dunia)

Sabtu, 15 Agustus 2009
Pagi yang cukup cerah dan udara yang segar menyapa kami di pagi itu. Kurang lebih pukul 07.00 kami menyempatkan diri untuk menikmati sarapan pagi nasi telor dan teh hangat (Rp. 5.000) di warung pertigaan di dekat Resort KSDA. Saat akan menikmati sarapan pagi, kami kedatangan 5 orang pendaki dari Surabaya (Wingga, Udin, Acong, Pak To, Buston) yang ternyata salah satunya adalah kaskuser yang juga selalu memantau thread trip Argopuro kali ini.

Pukul 09.00 setelah kami packing , berpamitan dengan pak Susiono dan berdoa, kami memulai pendakian bersama dengan 5 orang rombongan dari Surabaya dengan Andre sebagai Leader. Cuaca siang itu sangat cerah sehingga membuat kami selalu merasa kehausan, karena selama kurang lebih 4 jam pertama kami berjalan di sisi bukit bagian timur yang sangat terbuka. Pukul 13.00 kami mulai memasuki kawasan hutan yang tidak begitu rimbun, sehingga panas masih cukup menyengat kulit kami. Pukul 13.30 kami beristirahat untuk menikmati makan siang sejenak.

Pukul 14.30 perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Mata Air II sebagai target camp hari pertama kami. Di tengah perjalanan tepatnya pukul 16.00, kami di guyur hujan yang cukup deras untuk membasahi seluruh pakaian yang kami kenakan saat itu. Dan kami memutuskan untuk berhenti sejenak di tempat yang cukup teduh. Ternyata hujan tak kunjung reda, gerimis masih saja menetes di sore itu. Kami melanjutkan perjalanan dalam kondisi basah kuyup (hanya sebagian dari kami). Pukul 17.30 kami tiba di pos Mata Air I yang ditandai dengan papan yang tertempel di sebuah pohon di kiri jalan. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk bermalam di pos Mata Air I. Malam itu kami diserang oleh puluhan tikus yang berwarna kuning keemasan yang sangat lincah dalam hal mencuri makanan kami.

Minggu, 16 Agustus 2009
Setelah menyantap sarapan pagi dan packing, kami melanjutkan perjalanan menuju Cisentor sebagai target berikutnya pada pukul 10.00. Trek yang kami lalui cukup berat hingga pos Mata Air II yang berada sebelum patok kayu nomor Hm 20 dan berada pada bekas kayu tumbang yang ternyata tidak memiliki space untuk lebih dari 1 tenda.Mata air terdapat di lembah sisi kanan jalan. Kami tiba di pos Mata Air II pukul 12.00. Disana kami bertemu dengan rombongan bapak-bapak crosser. Setelah menambah persediaan air, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya yaitu Alun-alun Kecil (Sabana dengan ketinggian 2100 mdpl). Jalur yang kami lalui cukup menyenangkan karena landai dan beberapa kali menurun. Kami tiba di Alun-alun Kecil pukul 14.00.

Setelah beristirahat cukup lama dan berfoto-foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Besar yang juga merupakan salah satu sabana di pegunungan ini. Dalam perjalanan ini kami mulai menjumpai beberapa pohon Edelweiss yang bunganya baru saja mekar. Kami tiba di Alun-alun Besar pada pukul 16.00. Pemandangan di Alun-alun besar sangat indah. Sedikit menyerupai default background Microsoft Windows XP.





Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur dan tiba pada pukul 18.30. Sebuah sabana besar yang konon akan di jadikan sebuah bandara pada jaman penjajahan Belanda. Di sabana tersebut terdapat sebuah sungai yang cukup besar dan di sana terdapat banyak selada air yang sangat segar. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk bermalam di Cikasur. Malam itu aku dan Qomar menerima tantangan menarik dari Andre untuk berjaga malam dengan mengenakan celana pendek, kaos tipis, dan sarung hingga pukul 04.00 pagi dalam suhu 7°C. Dengan santai kami menerima tantangan tersebut dan berhasil memenangkan tantangan tersebut.





Senin, 17 Agustus 2009
Beruntungnya salah satu teman kami dari rombongan Surabaya yang melihat 4 ekor burung Merak berjemur di Cikasur pagi itu. Setelah menyentap sarapan pagi singkat, tutup Trangia Qomar sempat hilang, akhirnya aku dan Qomar tertinggal dari barisan. kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Cisentor berdua pada pukul 10.30. Jalur yang kami lalui bervariatif, menanjak dan menurun. kami mengenakan pakaian lengkap dikarenakan banyaknya semak belukar yang menghalangi jalan. Tak ketinggalan tanaman penyengat yang biasa disebut pohon Djancuk juga banyak terdapat di jalur ini. Jalur yang paling berbahaya ada di punggungan sebelum tiba di Cisentor. Jalur tersebut sangat sempit dan berada di sisi jurang, terlebih saat melewati jembatan yang terbuat dari sebuah pohon besar yang tumbang, kami harus ekstra hati-hati melewati jembatan tersebut.



Kami tiba di Cisentor pukul 14.00. Cisentor adalah sebuah lembah dengan sungai yang mengalir cukup deras di dasar lembah tersebut. Di Cisentor inilah pertemuan dari jalur pendakian Baderan dan Bremi. Pertemuan jalur tersebut ada di samping pos Cisentor. Karena waktu tidak memungkinkan lagi, kami memutuskan untuk bermalam di Cisentor. Alhasil kami tidak mengibarkan bendera merah putih dan kaskus OANC pada tanggal 17 Agustus. Sore itu juga rombongan dari Surabaya yang sedari awal pendakian selalu bersama kami tetap melanjutkan perjalanan ke puncak Argopuro dan kembali ke Cisentor di malam hari.

Selasa, 18 Agustus 2009
Pagi yang sangat dingin terpaksa harus kami lawan untuk mencapai puncak Argopuro. Tepat pukul 06.45, tanpa sarapan kami berangkat menuju Rawa Embik. Sebuah kesalahan fatal dimana kami tidak menyempatkan diri untuk mengisi perut kami, dan ternyata Andre yang membawa satu-satunya carrier hanya berisi 2 batang cokelat yang mengakibatkan kondisi fisik kami menurun drastis hati itu.

Perjalanan menuju Rawa Embik cukup mudah tanpa beban di punggung kami. Jalan yang kami lalui cukup landai dengan pemandangan hutan Pinus dan Edelweiss di sepanjang perjalanan diselingi beberapa sabana kecil. Kami tiba di Rawa Embik pada pukul 08.00. Rawa Embik adalah sebuah sabana dengan sungai kecil sebagai sumber air tertinggi di gunung Argopuro. Setelah beristirahat dan mengambil air di sungai, kami melanjutkan perjalanan menuju persimpangan puncak pada pukul 08.30. Kami kembali di suguhi dengan pemandangan Edelweiss dan Pinus yang cukup lebat. Namun kali ini kami harus ekstra hati-hati dengan pohon-pohon Pinus kering yang ada di sekitar kami. Karena di jalur tersebut sangat banyak pohon tumbang yang menindih pohon kering lainnya.





Kami tiba di Simpang Puncak pukul 10.30. Pemandangan di Simpang Puncak cukup menarik, dimana pohon Edelweiss tumbuh di kanan dan kiri jalan di tengah sabana di antara 2 puncak yang terlihat sudah sangat dekat.

Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Rengganis (Jalur Kiri) pada pukul 10.45. Jalur yang kami lalui cukup menanjak dan didominasi oleh bebatuan. Kami tiba di puncak Rengganis pukul 11.00. Sungguh pencapaian yang sangat membahagiakan mengingat perjalanan kami selama 3 hari sebelumnya cukup berat bagi kami. Pemandangan yang disajikan pun benar-benar dapat menghapus rasa lelah kami. Perpaduan antara sejarah, budaya, dan alam yang ada di puncak Rengganis membuat kami terkagum-kagum untuk beberapa saat.






Karena pada saat itu kondisi fisik kami cukup lemah (terlebih Dedi yang memang sedang dalam kondisi sakit), kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro, namun Andre tetap melanjutkan perjalanannya menuju puncak Argopuro pada pukul 11.50. Setelah puas mengabadikan keindahan puncak Rengganis dalam kamera saku, kami bertiga kembali menuju Simpang Puncak pada pukul 12.00 dan tiba di Simpang Puncak pukul 12.10.

Andre tiba di puncak Argopuro sebagai delegasi dari tim kami pada pukul 12.15 dan mengabadikan puncak tersebut dalam beberapa foto (menyusul) selama 15 menit. Pukul 12.30 Andre beranjak dari puncak Argopuro menuju Simpang Puncak dimana kami bertiga tertidur di bawah pohon Pinus menunggu Andre. Andre tiba di Simpang Puncak pada pukul 12.45. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Cisentor pada pukul 13.30 dengan kondisi lapar. Pukul 14.00 kami tiba di Rawa Embik dan beristirahat sejenak. Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 14.30 dan tiba di Cisentor pada pukul 15.00. Karena kondisi badan kami dan waktu yang tidak memungkinkan, kami kembali memutuskan untuk bermalam di Cisentor.

Rabu, 19 Agustus 2009
Pagi itu kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, kami menyantap sarapan bersama sambil mendiskusikan rencana perjalanan selanjutanya. Disitu muncul sedikit perdebatan alot antara keputusan Andre untuk bermalam di Taman Hidup apapun resikonya dan keputusan untuk langsung menuju Bremi karena keadaan Dedi kurang baik. Perbedaan pendapat itu terus berlanjut sepanjang hari itu.

Kami memulai perjalanan turun pada pukul 10.00 menuju Aeng Poteh (Air Putih), yaitu sebuah sungai kecil di sebuah lembah di jalur Bremi. Jalur menuju Aeng Poteh cukup landai, Namun kami harus mengenakan pakaian lengkap untuk menghindari luka goresan semak belukar yang tumbuh tinggi di sepanjang jalan menuju Taman Hidup. Kami tiba di Aeng Poteh pukul 11.00 sembari sejenak beristirahat dan mengganti air kami karena air dari Cisentor kurang segar.

Pukul 11.15 kami melanjutkan perjalanan menuju Cisinyal, sebuah tempat dimana hampir semua sinyal handphone cukup kuat diterima. Perjalanan menuju Cisinyal sangat berat, dimana kami harus mendaki (dalam perjalanan turun) beberapa punggungan bukit yang cukup curam dan menghindari pohon Djancuk yang tersebar dimana-mana. Formasi kali itu pun turut berubah, Andre yang selama ini menjadi leader berada di belakang dan Dedi sebagai leader.

Kami tiba di Cisinyal pada pukul 12.15. Pada saat kami tiba di Cisinyal, kami melihat sebuah pemandangan menyedihkan, dimana sebuah bukit (diluar jalur pendakian) di sisi kiri pandangan lurus dari Cisinyal mengalami kebakaran hutan. Langsung saja aku menghubungi pak Susiono untuk mengabarkan kebakaran tersebut, namun sayang pak Susiono saat itu juga sedang dalam pendakian gunung Argopuro untuk pemantauan.

Kami kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 12.30 di tengah terik matahari. Jalur yang kami lalui berikutnya sangat bertolak belakang dengan jalur sebelumnya, jalur ini menurun sangat curam, cukup untuk menggetarkan lutut kami. Perjalanan terasa sangat panjang dan membuat kami frustasi. Kepenatan tersebut hilang saat kami memasuki kawasan hutan lebat berlumut tebal yang ada di sekitar Taman Hidup. Hutan tersebut sangat indah dan sejuk, jalurnya pun landai. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikannya dalam foto.



Pukul 16.00. Kami tiba di Taman Hidup. Sebuah Danau yang cukup besar di tengah pegunungan Yang Timur. Dengan hutan lebat yang mengelilinginya menjadikan danau ini sangat indah dan sejuk. Setelah kami mengambil air cadangan untuk melanjutkan perjalanan turun dan berfoto-foto, akhirnya Andre setuju dengan keputusan kami untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin dikarenakan kencangnya angin yang bertiup dan tidak ada satu orang pun di Taman Hidup.

Air di danau ini terlihat cukup keruh, tapi itu tak berarti air danau ini kotor. Seperti kata-kata yang keluar dari mulut pak Susiono "Alam itu tidak kotor, hanya manusia yang mengotorinya, toh kotornya alam kotor yang organik dan tidak berbahaya". Airnya pun sangat dingin meskipun ketinggian danau ini tidak setinggi sungai di Cisentor. Meskipun Saat itu matahari masih menyinari sebagian sisi danau, dingin terasa menusuk hingga tulang jari tangan saat aku mengambil air.

Pukul 16.45 sore itu kami bergegas melanjutkan perjalanan kami karena waktu yang terus berputar dan angin di Taman Hidup sore itu yang cukup membuat bulu kuduk kami berdiri. Jalur yang kami lalui berikutnya tetap berupa hutan lebat, namun kali ini dengan tingkat ke-curam-an yang tinggi, membuat lutut kami semakin bergetar.

Hari pun mulai gelap, senter dan Headlamp pun disiapkan. Formasi berjalan kami pun kembali berubah. Andre tak lagi berada di posisi belakang karena dia terlihat mulai melemah. Perjalanan itu cukup melelahkan bagi kami dan membuat mental kami cukup jatuh, selain karena kondisi fisik yang sudah sangat lelah, kami dibingungkan oleh percabangan jalan yang sangat banyak. Sebuah pilihan yang berat untuk bertahan di Taman Hidup atau melanjutkan perjalanan dalam kondisi fisik yang lemah di malam hari. Mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kesalahan yang harus kami lakukan pada saat itu.

Karena keterbatasan info yang kami miliki tentang jalur yang harus kami ambil setelah Taman Hidup, kami memutuskan untuk bermalam dimanapun kami sampai jika tidak menemui tanda perkampungan pada pukul 21.00. Namun setelah melalui perjalanan malam yang cukup melelahkan, kurang lebih pukul 19.30 kami mulai memasuki hutan produksi karet dan melihat lampu perkampungan. Saat itu harapan mulai muncul dan menghapus keraguan kami.

Kami terus berjalan menembus malam dalam kelelahan yang berat. Andre mulai terlihat melemah. Dia sempat terjatuh seperti orang pingsan, kontan kami menolongnya dan akhirnya carrier yang dia gunakan kami lepas dan kami bawa secara bergantian supaya Andre dapat berjalan dengan baik. Tatapannya kosong, mukanya pun sangat pucat, sebuah keheranan yang sangat besar bagi kami. Andre yang pada saat pendakian sebagai leader dan berjalan begitu gagah dan cepat seperti anggota marinir yang kerap melatih fisik mereka di gunung ini, berubah menjadi Andre yang seperti seorang pendaki pemula yang mengalami frustasi pada pendakian pertama.

Setelah 1 jam berputar-putar di ladang penduduk dan kebingungan arah, kami mengambil keputusan untuk "nyasak" jalur di ladang. Aku dan Qomar yang masih cukup memiliki tenaga mencari jalur terdekat menuju perkampungan. Alhasil kami menemukan jalan pintas yang tidak lazim. Kami tiba di perkampungan kurang lebih pada pukul 20.30 tepat di belakan rumah warga.

Kami sangat bahagia saat tiba di perkampungan. Dengan kondisi yang lemah kami berjalan mencari warung yang masih buka malam itu. tapi naasnya kami tiba terlalu larut hingga tak ada lagi warung makan yang buka.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menuju Polsek Bremi, dalam perjalanan tersebut andre kembali hampir terjatuh dan karena dia kembali membawa carriernya sendiri, jalannya pun tak lagi bisa lurus. Akhirnya kami melepas carriernya lagi dan Qomar menopang jalannya sambil membawa carrier Andre dan aku memanggul carrier Qomar yang cukup ringan, sedangkan Dedi kami tugaskan untuk mencari warung. Setibanya di Polsek, kami segera membeli mie dan telor serta minuman segar di toko depan Polsek karena memang tidak ada lagi satupun warung makan yang buka. Kami tiba di Polsek Bremi pukul 21.00. Kami memutuskan untuk bermalam di Polsek Bremi. Malam itu kami beristirahat cukup nyaman meskipun hanya beralas matras dan SB.

Kamis, 20 Agustus 2009
Kami menikmati sarapan pagi nasi daging dan teh hangat (Rp.6.000) di warung lesehan yang berjarak kurang lebih hanya 100 meter dari Polsek Bremi pada pukul 08.00 (Bremi - Pajarakan Rp. 9.000, Bremi Probolinggo Rp. 12.000). Di warung itu kebetulan ada bus jurusan Bremi Probolinggo yang sedang parkir menunggu penumpang, langsung saja kami menaiki bus tersebut pada pukul 08.30 setelah menikmati sarapan pagi. Aku, Qomar dan Dedi menuju Pajarakan yang merupakan pertigaan jalan raya Probolinggo - Banyuwangi ke Bremi karena kami akan singgah sejenak di rumah Dedi, dan Andre menuju Probolinggo karena harus mengejar kereta ke Bandung. Kami tiba di Pajarakan pada pukul 09.30, disitulah kami berpisah dengan Andre.

Kami bertiga melanjutkan perjalanan ke rumah Dedi dan tiba di sana pada pukul 10.15 dengan menggunakan bus ke Paiton Gudang Garam (Rp. 4.000) dan angkot menuju rumahnya (Rp. 3.000). Setelah menyalin foto yang ada di kamera Dedi, beristirahat dan makan siang, aku dan Qomar melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja pada pukul 14.00 dengan bus menuju Surabaya (Rp. 18.000) langsung karena kami mendapat bus jurusan Banyuwangi-Surabaya. Kami tiba di Terminal Purabaya Bungurasih Surabaya pukul 20.00 dan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan bus patas Eka (Rp. 62.000) pada pukul 22.00.

Kami tiba di Terminal Giwangan Jogja pukul 05.00. Dari situ kami berpisah karena tujuan kami berbeda. Qomar menggunakan bus jalur 15 dan aku menggunakan bus Trans Jogja (yang baru pertama kali ini aku naiki) menuju perempatan Kentungan (Rp.3.000). Aku tiba di kost pada pukul 07.00 pagi.

...KEINDAHAN ARGOPURO DAN PERJUANGAN PANJANGNYA TAK AKAN HILANG DARI INGATAN...

...JANGAN PERNAH BERUSAHA UNTUK MENAKLUKKANNYA, RESAPILAH KEINDAHANNYA DALAM JIWA...


Thanks to :

* Tuhan YME
* All OANCeh
* Rombongan Surabaya (Yang setia menemani perjalanan kami)
* Pak Susiono (Atas semua info dan ijin yang diberikan)
* dan teman-teman semua yang mendukung kami.

bersambung...

26 Mei 2009

Sebuah catatan di atas kertas usang



Dua lembar kertas usang kembali ku temukan di antara tumpukan buku yang -hampir- tak pernah kubaca, kertas yang berisi catatan perjalanan pendakian gunung Semeru tahun 2005 aku temukan setelah 4 tahun ini aku cari. Bahagia rasanya kembali menemukan catatan itu. Ku baca dan ku baca berulang-ulang, merasakan kembali perjalanan yang penuh suka duka 4 tahun yang lalu.

Dari catatan perjalanan tersebut, aku menuliskannya dalam salah satu blogku yang lain. Memang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kertas usang tersebut, namun tulisan ini lebih kepada informasi pendakian Semeru. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Mount Semeru is the highest volcano in Java. With his "Puncak Mahameru" peak at an altitude of 3.676 meters above sea level (MASL), the Mount is included in the Bromo Tengger Semeru National Park. This mountain is located in the city of Malang and Lumajang.

Semeru is a favorite mountaineering area for Indonesian mountaineers, because it has a great view. Crater "Jonggring Saloko" which is located on top of the "Puncak Mahameru" always blowing a smoke every 15-30 minutes, the smoke is a toxic gas that is very dangerous, the mountaineers are advised not to approach crater, and leave the summit before noon, because the wind blow towards the peak in the afternoon.

  1. Where's the interesting place?

    • Tumpang - Ranu Pani (Ranu = Lake) : off road trip with the view of under the cloud desert, Bromo mount, and Tengger mount.

    • Ranu Kumbolo : a 14 hectares lake located at an altitude of 2400 MASL, is the best place for camping with a very

    • Tanjakan Cinta (Tanjakan = climb, Cinta = love): A climb that is at the end of the Ranu Kumbolo have a myth about the love, that is if someone can climb through without a stop and turn, then his love wishes will be happen. The scenery is good

    • Oro-oro Ombo (Oro-oro = Savanna, Ombo = wide): A Savanna is a quite wide and it is surrounded by hills. It has a very interesting scene.

    • Kalimati (Kali = river, Mati = dead): A terrain at 2.700 MASL, is located in the pine forest with spectacular view of Puncak Mahameru, this place became one of the favorite areas of photography.

    • Puncak Mahameru : The highest place on the Java island, form of paving sand. Overlooking the crater "Jonggring Saloko" that blowing every 15-30 minutes, it was the most beautiful place in Semeru. It was a beautiful scenery.

  2. When to go?

    • Climbing should be done in the dry season( June, July, August, and September). Should not climb in the wet season because of frequent storms and landslides, rainy season occurs in November-April.

  3. How to get there?

    • Come to Malang by bus, train, or plane

    • Malang – Tumpang : 30 minutes, use public transport to Tumpang for about Rp. 10,000 / person. Other alternative is to charter a car transportation.

    • Tumpang - Ranu Pani : 2 hours, use the Jeep for about Rp. 30.000 / person. Other alternative is to use the vegetable truck (a little amount of people) with a cheaper price (Mr. Machis +62341787490). Bromo Tengger Semeru National Park fee is about Rp. 5,000/person

  4. Trekking Route:

    • Ranu Pani - Base camp (2.200 MASL). Ranu Pani is the Semeru mountain climbing base camp. You can spend the night in the base camp and explore porter. It was sloping climbing path.

    • Watu Rejeng. Watu Rejeng (5 KM from Ranu Pani) is a very beautiful steep stone. Scenic pines forest covered a valleys and hills are very beautiful. You also see the explotion of smoke from the top Semeru. It was sloping climbing path

    • Ranu Kumbolo (2.400 MASL). Ranu Kumbolo (5 KM from Watu Rejeng, about 5-6 hours from Ranu Pani) is the most strategic place for camping. In addition to water sources and have wood that much, Ranu Kumbolo scene is also very good. It was sloping climbing path.

    • Oro-oro Ombo. It’s a wide savanna, It was sloping climbing path, but before entering the Oro-oro Ombo, you have to climb through Tanjakan Cinta that drain enough the energy for about 30 minutes.

    • Cemoro Kandang (Cemoro = Pine, Kandang = shed). Cemoro Kandang (about 1 hour from Ranu Kumbolo) is a pine forest on the edge of Oro-oro Ombo. Road began a little steep and quite tiring, Cemoro Kandang ended in Jambangan, a few Edelweiss trees with the Savanna, and Puncak Mahameru in the peak.

    • Kalimati (2.700 MASL). Kalimati (5 KM, and about 4 hours from Ranu Kumbolo) is a savanna and a quite strategic for camping. There is also a water source Sumber Mani outside climbing routes (about 30 minutes from Kalimati). It was sloping climbing path

    • Arcopodo (2.900 MASL). Arcopodo (1.5 KM and about 2 hours from Kalimati) is a forest path with a steep ascent. Arcopodo is the last place that can be used for camping.

    • Puncak Mahameru (3.676 MASL). Puncak Mahameru (1.5 KM and about 4 hours from Arcopodo) is the top of the mountain Semeru. The road to Puncak Mahameru very steep and dangerous, as they climb a gravel path and the chasm is between. Leave the before peak hours 10:00 am, because the wind will breathe toxic gas from the crater Jonggring Saloko to Puncak Mahameru in the afternoon.

  5. Tips:

    • Use shoes and gaiters, especially Arcopodo - Peak Mahameru

    • Leave items in the last camp to make it easier to climb to the top of Semeru

    • Prepare at least 4 days of time to enjoy the climbing

    • Terms registration ascent: 2 copy of identity card

    • Semeru topograph http://mapy.mk.cvut.cz/data/Indonesie-Indonesia/Mix/Semeru.jpg


Tulisanku ini juga dimuat di : http://indonesianwild.com/semeru-highest-place-in-java/

bersambung...

14 Mei 2009

Tujuan wisata di Jogja

Jogja, salah satu tujuan wisata para turis domestik dan turis asing yang berkunjung ke Indonesia. Sebuah kota yang penuh dengan keunikan budaya dan sejarah. Dikenal dengan julukan kota pelajar, kota gudeg, kota budaya dan julukan-julukan lainnya, Jogja memang menjadi sebuah tempat yang selalu menyisakan kenangan

Hi,
Please provide more tourism info on visiting Jogja, where is nice & cheap to stay, the food, places to visit, city transportation etc. Also do one for Surabaya and how best to travel bnetween Jogja & Surabaya.Thanks in advance, my friend.


Pertanyaan diatas adalah salah satu kutipan sebuah komentar di blogku yang lain, seorang bule tua bertanya tentang tujuan wisata di Jogja. Itu menunjukkan bahwa Jogja bukan hanya tujuan liburan para wisatawan lokal. Dengan bangga -meskipun aku bukan asli Jogja-, aku segera menuliskan semua pengetahuanku tentang Jogja dan mengirimkannya via email -dengan bantuan google translate- serta memuatnya kembali di blogku yang lain lagi.

Disini aku mau berbagi pengetahuan tentang Jogja sebatas yang aku tau. Semoga bermanfaat bagi kita semua

Terimakasih atas pertanyaannya.
Hal pertama yang saya tanyakan adalah apa yang anda cari di tempat tersebut? Apakah itu wisata alam, budaya, sejarah, atau wisata kota? Dan juga bagaimana gaya liburan anda? Apakah anda berlibur bersama keluarga, ataukah hanya backpacking sendiri saja.

Saya akan mencoba membantu memberikan gambaran ringan tentang Jogja dan Surabaya.


Objek wisata:

  • Wisata alam
  1. Pantai baron, kukup, krakal (jajaran pantai gunung kidul)
    Pantai ini merupakan pantai pasir putih yang ada di Gunung Kidul Jogja, pantai ini relative sepi, sehingga anda dapat menikmati suasana pantai dengan tenang. 2-3 jam dari pusat kota. Hotel tidak banyak tersedia
  2. Pantai parangtritis
    Pantai ini menawarkan hamparan padang pasir dan bukit pasir (Gumuk Pasir) yang sangat luas. 1,5 jam dari pusat kota. Ada beberapa hotel kecil
  3. Kaliurang, Kaliadem, Bebeng
    Kaliurang adalah wisata pegunungan di kaki gunung Merapi. Disana banyak sekali terdapat hotel dalam berbagai kelas, anda dapat menemukan motel dengan harga dibawah Rp. 100.000 (dibawah $10). 45 menit dari pusat kota
  4. Gunung merapi
    Gunung ini merupakan gunung paling aktif di Indonesia. Dengan ketinggian 2950 m, anda akan menikmati petualangan yang sangat menarik. Namun karena jalur pendakian yang kurang aman di bagian Jogja (45 menit dari pusat kota), anda disarankan untuk menggunakan jalur pendakian Boyolali (2-3 jam dari pusat kota), pemandangannya pun lebih bagus

  • Wisata seni dan budaya
  1. Batik short course
    Dengan Rp 250.000 ($ 25) hingga Rp 1.500.000 ($ 150), anda akan diberi kursus cara membuat batik dengan cara tradisional. Salah satu tempat kursus batik adalah Sanggar Kalpika (sebelah barat Tamansari), Balai Batik (Jalan Kusumanegara)
  2. Silver jewelery short course
    Disini anda akan diberi kursus membuat perhiasan perak, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp. 100.000 – Rp. 250.000. salah satu lokasi Silver jewelery short course adalah Studio 76 (Kota Gede)
  3. Batik on wooden puppet (wayang kulit) course
    Belajar membuat batik diatas media kayu merupakan pengalaman yang menarik, dengan biaya Rp. 200.000 ($20), anda akan mendapatkan kursus dan penginapan satu malam di sebuah homestay. Lokasi kursus ada di Dusun Krebet (Bantul). Dari sini anda dapat melanjutkan wisata ke pasar kasongan
  4. Pasar kasongan
    Sebuah pasar kerajinan tangan yang sangat terkenal di Jogja, pasar kasongan menawarkan berbagai kerajinan tangan khas Jogja. Pasar ini berlokasi di kota Bantul. 30 manit dari pusat kota
  5. Pasar gabusan
    Pasar Ini adalah sebuah pusat kerajinan tangan yang terletak di jalan Parangtritis. 20 menit dari pusat kota

  • Wisata sejarah
  1. Kraton Jogja
    Dibangun pada tahun 1755 oleh raja pertama Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono I. Hingga saat ini kraton masih tetap di gunakan sebagai istana sultan Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Anda dapat berkunjung kesana dengan panduan guide Kraton. Berlokasi di jangtung kota Jogja. Di kawasan kraton banyak terdapat hotel kecil dengan tariff murah
  2. Taman sari
    Taman sari adalah sebuah kolam renang kuno yang sudah tidak difungsikan lagi. Berada di belakang pasar ngasem (pasar hewan) di kawasan kraton Jogja, Taman sari sangat menarik untuk dikunjungi, di sana terdapat terowongan bawah tanah, masjid bawah tanah, dan bangunan tua tertinggi di Jogja (Siti Hinggil)
  3. Kota gede
    Salah satu kota tertua di Jogja yang merupakan Kerajaan Islam Mataram Kuno. Dibangun pada tahun 1575 dengan rakyatnya yang disebut mentawisan. Disini anda akan menemukan sekitar 170 bangunan kuno buatan tahun 1700 hingga 1930, juga terdapat masjid tertua dengan arsitektur Hindu dan Budha dan makam para kerabat kerajaan Mataram. Kotagede juga merupakan pusat kerajinan perak. 20 menit dari pusat kota
  4. Malioboro
    Terletak di utara Kraton dan selalu ramai setiap harinya. Malioboro adalah sebuah jalan yang penuh dengan pedagang yang menjajakan oleh-oleh khas Jogja, hingga makanan khas Jogja dengan harga yang sangat murah. Terdapat pasar tradisional Beringharjo yang merupakan salah satu pasar terbesar di Yogyakarta. Di malioboro banyak sekali hotel kecil dan murah, namun juga ada beberapa hotel bintang seperti ibis.
  5. Benteng Vre de Berg
    Benteng ini merupakan benteng Belanda di ujung jalan malioboro (utara Kraton). Disini anda dapat menghabiskan waktu bersantai setelah lelah berjalan menyusuri jalan Malioboro
  6. Candi ratu boko
    Candi yang terletak di sebuah bukit dekat candi Prambanan. Merupakan candi yang di bangun sekitar abad 8-9 dan ditemukan pada tahun 1790, memiliki bentuk candi yang tidak biasa. Sangat menarik menikmati sunset di candi Ratu Boko
  7. Candi prambanan
    Candi terbesar yang ada di Jogja. Terletak di jalan Solo salah satu wisata sejarah yang tidak boleh di lewatkan. Pada hari tertentu diadakan pentas seni tari tradisional yang menceritakan sejarah tua.Hanya 30 menit dari pusat kota Jogja
  8. Candi Borobudur
    Candi terbesar di Indonesia, terletak di kota magelang (tetangga Jogja). Merupakan salah satu kekayaan sejarah Indonesia yang sempat menjadi keajaiban dunia. Anda dapat mencapai lokasi dengan waktu 1 jam dari Jogja.


  • Transportasi
Jika anda akan menjelajah semua tempat wisata dalam waktu terbatas. Sewa mobil dengan biaya sekitar Rp. 400.000 ($ 40) 24 jam + driver. Banyak persewaan mobil di kota
Jika anda ingin menjelajah dengan biaya yang lebih sedikit, sewa sepeda motor dengan biaya sekitar Rp. 50.000 ($ 5) / 24 jam. Jika menggunakan sepeda motor, anda harus sering bertanya terntang arah tujuan anda kepada penduduk lokal.
Jika anda menginginkan berwisata menggunakan angkutan umum, anda harus menuju terminal bus Giwangan, Giwangan adalah terminal bus utama Yogyakarta. Namun cara ini kurang efektif untuk wisata Jogja.
Jangan lupa untuk berkeliling dengan Andong dan Becak yang terdapat di sekitar Kota Jogja. Andong adalah kereta kuda tradisional Jogja, sedangkan Becak adalah kendaraan roda tiga dengan tenaga manusia.

  • Hotel
Anda tidak perlu khawatir dengan hotel di Jogja, jika anda menginginkan hotel dengan harga murah, Jogja memiliki banyak sekali hotel dengan tariff < $ 10 tersebar di setiap sudut kota
Jika anda menginginkan hotel bintang, Jogja juga memiliki hotel berkelas seperti Hyat, Novotel, Ibis, Mercure, etc.
  • Kuliner
  1. Gudeg (makanan khas Jogja)
    Restoran gudeg banyak tersedia di Jogja, salah satu daerah yang terkenal dengan Gudeg adalah Wijilan. Terletak di bagian timur Kraton
  2. Bale Raos Resto
    Satu-satunya restoran yang menyajikan makanan para raja Yogyakarta. Terletak di kawasan Kraton

  3. Bakpia (oleh-oleh khas Jogja)
    Bakpia adalah makanan khas jogja yang terbuat dari kacang hijau. Tersedia di seluruh toko oleh-oleh khas Jogja
  4. Angkringan
    Ankgringan adalah sebuah warung tenda kecil khas Jogja yang tersebar di seluruh bagian kota dan desa. Angkringan menyajikan sajian tradisional seperti nasi bungkus, gorengan, dan wedang jahe. Salah satu Angkringan yang terkenal adalah Angkringan Lek Man yang terletak di utara Stasiun Tugu dengan minuman khasnya Kopi jos, yaitu kopi hitam yang di campur dengan bara.


Peta wisata Yogya http://www.yogyes.com/plug-in/map

bersambung...

10 Mei 2009

Tradisi Merapi Wapalhi, 2-3 Mei 2009


Tradisi merapi (TM) adalah salah satu acara rutin dari Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (Wapalhi) Politeknik Negri Semarang yang diadakan setiap tahun. Beberapa rangkaian acara dalam TM adalah pendakian masal gunung Merapi, bakti sosial, dan upacara pelantikan kepala suku Wapalhi, oleh karena itu TM dibuka untuk umum.

Jum'at, 01 Mei 2009
Sore hari yang cerah mengiringi keberangkatanku sendiri dari terminal Jombor, Jogja. Aku berangkat tepat pukul 17:00 menggunakan bus Patas Nusantara dengan membawa gitar dan sebuah backpack yang menempel di punggungku.

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan karena backpack dan gitarku hanya memberikan ruang gerak yang sangat sempit, akhirnya aku tiba di Semarang, tepatnya Sukun pada pukul 20:00. Gigih datang menjemputku sekitar 10 menit setelah aku menunggu. Dengan motor tanpa lampu depan, kami menerobos hujan yang cukup lebat mengguyur Semarang malam itu, dan akhirnya kami sampai di kost Gigih pukul 20:30.

Pukul 21:00 kami bergegas menuju posko Wapalhi, karena di posko sedang diadakan reuni Wapalhi yang dihadiri oleh anggota Wapalhi dari seluruh angkatan. Aku yang memang bukan anggota Wapalhi hanya mengikuti acara di belakang dan sekadar ngobrol dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Acara selesai pada pukul 00:00, tetapi kami masih tetap bersantai di posko hingga pukul 04:00

Sabtu, 02 Mei 2009
Seusai makan siang di sebuah warung tegal, kami segera bersiap untuk berangkat ke posko, karena acara akan di mulai pukul 13:00. Kami tiba di posko pukul 13:30, dan rupanya upacara pembukaan baru saja dimulai. Peserta TM tahun ini terbilang cukup banyak, kurang lebih 200 peserta yang berasal dari berbagai kota di Jawa.

Kebetulan aku ikut bersama rombongan panitia yang akan diberangkatkan oleh truk terakhir, yaitu truk nomor 6. Setelah menunggu lama, akhirnya kami diberangkatkan pukul 15:30. Truk kami terasa penuh karena ditambah dengan beberapa peralatan panitia yang akan di gunakan di base camp Merapi (Selo).

Setelah melewati beberapa masalah di perjalanan -salah satu truk sempat mengalami kerusakan-, kami tiba di Selo pukul 19:00. Beberapa dari kami -Aku, Gigih, Gombong, Ulum, Hasan, Emon, Bebek, dan beberapa senior angkatan mereka- memilih untuk turun di pasar Selo.

Kami menyempatkan diri menikmati mie ayam yang tersedia di pasar Selo sebelum melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi. Sungguh nikmat sekali menikmati hidangan mie ayam dengan segelas teh panas di dinginnya Selo saat malam. Sembari menikmati makan malam, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan seorang bapak yang rupanya sedang touring dengan istrinya menggunakan sebuah sepeda motor butut. Sungguh sebuah kisah yang menarik dimana sepasang suami istri tersebut sudah cukup berumur untuk berwisata seperti ini.

Kami bersama-sama melanjutkan perjalanan ke base camp Merapi yang terletak cukup jauh dari pasar Selo. Sesampai di base camp, ternyata para peserta sedang menikmati hidangan malam yang disediakan panitia, namun perut kami sudah cukup penuh dengan semangkuk mie ayam sedap di pasar Selo.

Malam itu panitia menyediakan sebuah tontonan film dokumenter tentang letusan-letusan gunung berapi di dunia. Aku hanya menonton sebentar karena sebenarnya aku sudah pernah menonton film dokumenter ini. Kami melanjutkan malam dengan berjalan-jalan di sekitar base camp dan berbincang-bincang di depan pawon untuk menghangatkan tubuh.




Minggu, 03 Mei 2009
Pukul 02:00, mataku sudah terlalu berat untuk menahan kantuk yang menggerogotiku, ditengah dinginnya Merapi, kami memejamkan mata saat para peserta memulai pendakian. Sungguh nikmat rasanya tidur berselimutkan sleeping bag di depan perapian.

Belum lama mata terpejam, suara Gigih dan Gombong mengagetkan ku. "Bangun bangun!!! mau naik nggak!!!". Dengan malasnya, akhirnya kita berangkat pukul 03:15 pagi hari. Suhu terasa sangat dingin, menembus selembar sarungku yang menyelimuti tubuhku.

Tanpa berbekal lampu senter/headlamp, kami berjalan terperosot beberapa kali, membuat tenaga kami sangat terkuras. Perlahan-lahan rombongan kami -yang berangkat akhir- mulai terpisah, hingga akhirnya kami berempat -aku, Gombong, Gigih, Bebek- yang masih tetap berjalan bersama.

Mentari sudah bersinar, perjalanan kami pun makin mudah. Di persimpangan entah apa namanya -aku tidak hafal daerah Merapi-, kami memilih untuk mengambil jalur alternatif. Ternyata jalan yang kami lalui cukup berat, dimana jalan yang tersedia tidak jelas. Dengan berjalan menyisir punggung bukit, kami melewati taman Edelweiss yang sangat cantik. Aku dan Gigih terlalu asik mengambil gambar bunga dan pemandangan di sekitar kami hingga kami terpisah dengan Gombong dan Bebek.

Kami kembali melanjutkan perjalanan ditengah segarnya udara pagi Merapi. Dalam perjalanan, kami menemukan 2 goa kecil yang cukup cantik, namun sayang sampah berserakan di dalam goa tersebut. Sekali lagi kami terlalu asik mengambil gambar di sana. Tak jauh dari Goa tersebut, akhirnya kami menemukan jalur utama pendakian, dan di sana kami kembali bertemu dengan Gombong dan Bebek. Rupanya masih banyak peserta yang tertinggal di belakang kita.

Perjalanan kami lanjutkan perlahan karena memang pemandangan di sekitar kami terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Hamparan bukit bebatuan yang terpantul cahaya matahari pagi, serta hamparan gunung di seluruh Jawa Tengah yang terlihat indah dari atas gunung Merapi, memiliki keindahan tak terlupakan sepanjang hidupku.

Perjalanan kami berlanjut hingga kami menemukan sebuah tanah lapang dengan beberapa bongkah batu besar yang -daerah tersebut- disebut dengan Pasar Bubrah. Disinilah pendakian kami berakhir tepat pukul 07:45, ini bukanlah puncak Merapi, tapi kami tidak menginginkan untuk mencapai puncak merapi, karena pendakian ini memang kami rencanakan hanya sampai Pasar Bubrah saja.

Pada pukul 08:30, upacara Tradisi Merapi Wapalhi dilangsungkan di Pasar Bubrah. Upacara tersebut meliputi pengangkatan kepala suku baru Wapalhi dan pelantikan Anggota Wapalhi. Upacara pengangkatan kepala suku baru diikuti oleh seluruh peserta TM. Namun saat pelantikan anggota Wapalhi, para peserta diperbolehkan untuk meninggalkan lapangan upacara. Aku yang hanya berstatus peserta tak jelas -panita bukan, senior bukan, orang tua bukan, tapi tidak bayar- hanya duduk di puncak sebuah batu besar di sekitar lokasi upacara dan mengambil gambar saat upacara berlangsung.

Upacara selesai pada pukul 09:45, kami segera bersiap melakukan perjalanan kami menuruni gunung Merapi. Pada pukul 10:00 kami memulai perjalanan turun dari pasar bubrah, namun belum lama kami melangkahkan kaki, terdengar teriakan "Wapalhi...P3K!!!". Rupanya ada salah satu peserta yang terluka akibat dagunya terkena batu yang jatuh saat mendaki puncak Merapi. Sebenarnya ini bukanlah tanggung jawab panitia karena terjadi saat pendakian ke puncak -panitia sudah mengingatkan pendakian hanya sampai di Pasar Bubrah, selebihnya diluar tanggung jawab-, namun dengan jiwa besar, panitia tetap mengurus korban sebaik-baiknya dengan lapang dada.

Kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke base camp. Kami tiba di base camp pukul 12:30 siang, kami segera menuju warung depan base camp untuk menikmati segelas es teh dan gorengan hangat di tengan panasnya terik mentari.

Setelah menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia, Upacara penutupan TM dimulai pukul 15:00. Upacara berlangsung sangat meriah, karena ada pembagian doorprize bagi beberapa peserta TM. Saat upacara berakhir, ada sebuah pengumuman yang mengagetkan seluruh peserta TM, ternyata salah satu peserta individu -tidak atas nama organisasi- TM mencuri HP salah satu peserta lain, sungguh perbuatan yang sangat menodai kegiatan alam bebas. Beruntung panitia dapat menangani kasus tersebut dengan baik dan tidak dengan cara-cara yang bodoh.

Truk peserta di berangkatkan pada pukul 16:00, namun 1 truk terakhir -truk panitia- masih menunggu para panitia yang masih membereskan semua yang tersisa. Beberapa saat kemudian datang seorang senior yang baru saja sampai di base camp dan mengatakan bahwa masih ada 3 peserta yang berada di atas, dan salah satunya sudah tidak mampu berjalan. Spontan kami segera mempersiapkan penyelamatan kepada peserta tersebut. Setelah peralatan siap, kami -kurang lebih 10 orang- melakukan proses pencarian dan penyelamatan (SAR). Namun tak lama kami mendaki, peserta tersebut rupanya sudah mampu berjalan meskipun -sangat- pelan dan di tuntun. Lega rasanya seluruh anggota sudah turun dengan selamat.

Waktu menunjukkan pukul 19:00, truk terakhir yang sangat penuh -melebihi saat keberangkatan- mulai berjalan pelan, semua orang yang ada di dalam truk tersebut sudah sangat mengantuk. terlihat beberapa orang tidur sambil berdiri tidak peduli guncangan laju truk. Akhirnya kami sampai di posko Wapalhi pukul 22:00. Senang rasanya sudah sampai di posko dan bisa meluruskan kaki, namun sedih rasanya kembali berpisah dengan teman-temanku.

Teman, kita pasti akan kembali berpetualang bersama lagi

bersambung...

23 April 2009

Earth Day di Indonesia



Tepat 1 hari setelah perayaan hari kartini di Indonesia, masyarakat seluruh dunia merayakan Earth Day (Hari Bumi). Perayaan pada tanggal 22 April ini dilakukan guna mengingatkan kita akan pentingnya kelestarian alam kita yang semakin hari semakin rapuh karena kurangnya rasa peduli kepada kelestarian Bumi ini.

Akan tetapi, seperti yang kita semua ketahui, keberadaan Earth Day di Indonesia kurang begitu populer. Masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang lebih mengetahui keberadaan Valentine Day dibandingkan dengan Earth Day. Salah satu penyebab kurang populernya Earth Day di Indonesia adalah kurangnya dukungan dari Pemerintah kepada Earth Day. Ironisnya, Pemerintah kota Jakarta tahun ini telah melakukan dukungan bagi Earh Hour dengan mematikan lampu pada tanggal 28 Maret lalu. Namun tidak ada dukungan yang muncul guna memperingati hari Bumi atau Earth Day.

Sangat disayangkan sekali bahwa Earth Day kurang populer di Indonesia, karena justru di hari Bumi ini kita seharusnya semakin sadar akan pentingnya kelestarian Bumi, tetapi justru pemerintah kurang mendukungnya, dan bahkan ada seorang teman yang berkata "kado pemerintah di Earth Day adalah MENGELUARKAN IZIN PERTAMBANGAN DI AREA HUTAN LINDUNG", bukankah itu sangat menyedihkan.

Tercatat beberapa perusahaan besar sangata mendukung gerakan ini. sebut saja Google, Yahoo, dll. Mereka bahkan merubah logo produk mereka pada hari tersebut (lihat gambar di bawah).



Ada beberapa pertanyaan menarik yang dikutip dari sebuah thread di Kaskus.

  • apa pendapat anda tentang hari Bumi yg dirayakan hari ini?
  • apakah anda sudah merasa "peduli" thd bumi n lingkungan kita ini?
  • jika ya, apa yg sudah anda lakukan?
  • jika belum, apa yg akan anda lakukan?
  • apa pendapat anda thd orang yg "mengaku peduli" terhadap alam, bumi dan lingkungan sekitar tetapi tidak ada tindakan nyata sama sekali?
Bagaimana dengan anda??

bersambung...

11 April 2009

Malioboro, sumur penghidupan ratusan manusia




Jum'at, 10 April 09

Matahari di sore hari membakar kulit, lalu lintas Jogja yang semakin padat tiap tahunnya, menimbulkan suhu udara yang tinggi dan kepulan asap pembuangan kendaraan bermotor di tiap sudut kota. Jogja hari ini tak lagi asri.

Pukul 16:00 aku diundang oleh keluarga Okky (cewekku) untuk menemani jalan2 di sepanjang jalan Malioboro. Meskipun cuaca sedang dalam kondisi yang tidak bersahabat, aku tetap menyempatkan diri memenuhi undangan. Dengan mengendarai sepeda motor bututku, aku segera meluncur ke jalan Malioboro.

Sesampainya di sana, aku segera bertemu dengan Okky, tapi rupanya Okky sendirian. Ternyata yang lain sedang berada di "pusat Dagadu". Segera saja kami mencari "pusat Dagadu" tersebut yang memang ada di hampir setiap gang sepanjang jalan Malioboro. Setelah bertemu dengan keluarga, aku membisikkan kepada Ibu "Ini palsu semua bu.", karena aku tau betul bahwa gerai Dagadu hanya ada di tiga tempat di Jogja, yaitu di dalam Mall Malioboro (POSYANDU - Pos Pelayanan Dagadu), Plaza Ambarukmo (DPRD - Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu), dan di jalan Pakuningratan 15 (UGD - Unit Gawat Dagadu) sebagai gerai utama Dagadu.

Ditengah keramaian Malioboro dan tingginya suhu udara malam di Jogja, kami meneruskan perjalanan sepanjang jalan Malioboro, dan sesekali menyempatkan mampir di pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan untuk membeli atau hanya melihat-lihat kerajinan tangan Jogja.

DI sepanjang jalan alioboro terdapat ratusan pedagan menjajakan berbagai macam kerajinan, hiasan, hingga makanan khas Jogja dengan harga variatif. Saat ini Malioboro sudah menjadi sumur penghidupan bagi banyak masyarakat Jogja, mulai dari tukang parkir, becak, andong (kereta kuda), hingga pedagang kaki lima. Satu hal yang harus diingat, Tawarlah harga serendah mungkin, karena harga biasanya hanya 25-50% dari tawaran awal.

Kunjungan akhir kami jatuh di Mirota Batik. Sebuah toko besar milik Mirota yang menyediakan oleh2 kerajinan tangan, barang antik dan batik Jogja lengkap mulai dari harga termurah hingga termahal. Mirota Batik terletak di ujung selatan jalan Malioboro, berdekatan dengan pasar Beringharjo, sehingga kami jadikan itu sebagai tujuan akhir kami.

Sungguh sebuah kesibukan kota yang sangat menarik, dimana telah dibangunnya mall-mall lain yang cukup megah serta tempat-tempat hiburan yang menarik di Jogja, namun tetap tak dapat menggantikan posisi Malioboro. Karena Malioboro adalah peninggalan sejarah Jogja yang harus tetap terjaga.

bersambung...

09 April 2009

Sepeti cave, Underworld



Sabtu, 04 April 09

Ketika mentari menerobos jendela kamarku, aku terbangun dan bergegas mempersiapkan diri untuk petualangan baru dalam hidupku. Ya, caving dihari itu memang merupakan sebuah pengalaman baru dalam hidupku.

Seusai mandi pagi, kami (Aku dan Gombong) segera melakukan perjalanan menuju Purworejo pada pukul 08:30 WIB. Karena kami tidak mengetahui detail lokasi, kami sempat tersesat beberapa kali di perbukitan Purworejo, dan itu menghambat perjalanan kurang lebih 1 jam.
Setelah melewati berbagai rintangan yang ada, akhirnya kami tiba di base camp Mbah Cokro (kecamatan Kali Gesing) pada pukul 11:00. Rupanya teman-teman lain (dari WAPALHI Semarang) sudah menunggu disana. Huhh, rupanya kita terlambat.

Setelah menyantap makan siang bersama dan berramah tamah dengan mbah Cokro, tim kami (9 orang) mulai melakukan perjalanan pertama kita ke Goa Sepeti pada pukul 13:00. Goa Sepeti merupakan goa vertikal yang memiliki kedalaman 24 m dan hanya memiliki satu akses saja. Secara pengalaman, tim kami terdiri dari 3 orang expert, dan 6 orang pemula termasuk aku.

Kami tiba di mulut goa tepat pukul 13:00. Langsung saja aku melihat kedalam goa, dan ternyata goa Sepeti tidak terlihat cukup dalam. Akan tetapi saat sebuah batu dilemparkan kedalam goa, pantulan suara yang terdengar menunjukkan bahwa dasar yang terlihat bukanlah dasar yang sebenarnya.

Setelah mempersiapkan peralatan dan penentuan jalur selama 1 jam, satu per satu anggota tim kami mulai menuruni tali (biasa disebut rappeling). Tetapi aku yang benar-benar baru pertama kali memegang alat, meminta bantuan Gombong untuk menjelaskan cara kerjanya. Cukup dengan kursus 5 menit, akhirnya tiba giliranku untuk masuk kedalam goa. Tidak ada masalah dengan rappeling yang aku lakukan, semuanya berjalan mulus, bahkan perasaanku tidak terlalu takut, mungkin karena aku sangat menginginkan caving sejak lama.

Setelah tim terkumpul di dalam goa(kecuali yang bertugas diluar), kami menelusuri goa yang ternyata tidak begitu luas selama 15 menit, namun ada satu titik yang sangat menarik bagiku, yaitu kolam air dengan satu sisi dinding yang tegak berdiri gagah seolah menjaga kemurnian kolam tersebut. kolam tersebut berada ujung lorong yang hanya bisa dicapai oleh orang berbadan kurus (seperti aku) dengan posisi badan miring karena jalannya sangat sempit sekali. Sungguh sebuah kemegahan alam yang baru kali ini aku rasakan.

Tepat pukul 16:30, kami mulai menaiki tali (disebut dengan prusiking). Gombong mencoba menjadi orang pertama yang memanjat, tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata Gombong memanjat sangat lama, padahal dia termasuk anggota yang berpengalaman. Aku mendapatkan kesempatan kedua, ternyata memang benar bahwa prusiking tidak semudah yang terlihat, semua tenaga terkuras habis, dan frustasi menyelimuti pikiran. perasaan yang ada hanya lelah, dan akhirnya aku sempat menyerah waktu hampir sampai di mulut goa karena prusik ku menyakngkut di kernmantel yang telah di balut dengan plester. Tapi akhirnya aku berhasil menaklukkannya karena dukungan Gombong dan Rahmat.

Masalah besar datang saat aku dan Gombong menunggu ditengah hujan lebat dan malam yang dingin tanpa cahaya dan atap. Rupanya satu-satunya perempuan dalam tim kami memulai prusiking, sekitar 2 jam dia tidak bisa bergerak keatas, mungkin karena tenaganya sudah sangat terkuras, dan akhirnya kami memutuskan untuk menariknya. 3 orang menarik, 1 orang mengendalikan tali. Dan yang lebih parah, saat si korban sampai di mulut goa, dia terlihat sangat shock, dan akibatnya hingga pagi hari dia tidak berbicara sepatah katapun. Karena adanya masalah tersebut akhirnya sisa anggota tim kami yang masih berada di bawah tidak lagi menggunakan prusik, tetapi menggunakan SRT (Single Rope Technique). Proses ini jauh lebih mudah dibanding dengan prusiking, menghemat waktu dan tenaga.

Akhirnya seluruh anggota tim berkumpul di sekitar mulut goa pada pukul 01:00 dini hari. Setelah alat kami kemasi kembali, akhirnya kami pulang ke base camp pada pukul 02:30 dan sampai di base camp pada pukul 03:00. Setelah membersihkan badan dan makan malam (lebih tepat disebut makan sahur), kami beristirahat pada pukul 04:30.

Pagi harinya aku dan Gombong tidak mengikuti caving kedua menuju goa Nguik (goa Horizontal) karena kami sangat lelah (hanya kami berdua yang prusiking). Sembari menunggu teman-teman caving, kami menyempatkan diri mengobrol dengan mbah Cokro yang ternyata juga seorang petualang. Dia adalah juru kunci goa-goa disekitar goa Seplawan yang merupakan goa utama di daerah tersebut

Setelah makan siang dan berkemas, kami berpamitan dengan mbah Cokro dan keluarga pada pukul 14:00. Pada saat itu pula aku dan Gombong berpamitan dengan tim kami karena kami harus berpisah arah. Tanpa disadari, ternyata kami masih harus melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Dan akhirnya kami sampai di Jogja tepat pukul 18:00

bersambung...

28 Maret 2009

Menelusuri jejak sejarah kota Semarang


Mengisi liburan hari raya Nyepi, kami (Saya, Yaya, Mirwan, Harry) melakukan perjalanan menelusuri jejak sejarah di kota Semarang

Diawali dengan keberangkatan yang tertunda beberapa jam karena sulitnya mencari mobil sewa pada hari libur, akhirnya kami memulai perjalanan kami dari Jogja pada hari Kamis 26 Maret 2009 pukul 12:30 dengan mengendarai mobil Avanza


Perjalanan kami cukup santai karena kami menyewa mobil untuk 24 jam, jadi kami tidak diburu oleh waktu, Pada pukul 13:30 kami berhenti di Magelang untuk makan siang. Kami makan di RM Ayam Goreng Bu Tatik (terletak di perempatan Mertoyudan). sajian yang dihidangkan sangat enak, Ayam bakar berukuran cukup besar dengan harga yang relatif murah untuk makanan dan rumah makan sekelas itu, yaitu Rp. 10.000 per orang.

Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 14:00 dengan perut kenyang. Karena diantara kami hanya saya yang mengetahui rute perjalanan, maka saya tidak diperbolehkan untuk tidur meskipun sebenarnya sangat mengantuk. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi rumah Okky (cinta saya), kami tiba di rumah Okky di Pringapus Karang Jati Semarang pukul 16:00. Setalah kami shalat ashar dan sedikit berbincang dengan orang tua dan adik Okky (Okky sedang tidak di rumah), kami melanjutkan perjalanan ke Tembalang (untuk membawa teman kami sebagai guide selama di Semarang) pada pukul 16:30.

Kami sampai di Tembalang tepat pukul 17:00. Kami langsung menuju kost sang guide (Gigih dan Engkek). Disana kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak dan mandi untuk melepas lelah sembari merencanakan perjalanan selanjutnya.

Sebelum memulai perjalanan, kami menyempatkan diri untuk mengitari kampus UNDIP atas, sekedar ingin tau saja. Kami berenam memulai perjalanan pertama ke Gombel pada pukul 19:00. Gombel adalah sebuah bukit dimana kita dapat menikmati pemandangan kota Semarang di malam hari. Pemandangan sangat indah di lihat di malam hari, dan kami mengisinya dengan bermain gitar dan bernyanyi bersama.

Kami melanjutkan perjalanan ke Simpang Lima pukul 20:00. Karena perut kami sudah kosong, kami tidak menyempatkan diri untuk berhenti di Simpang Lima, kami hanya memutarinya dan melanjutkan perjalanan ke kampus UNDIP bawah, di daerah itulah kami menikmati nasi kucing untuk menu makan malam kami.

Seusai menikmati makan malam di kucingan yang cukup nikmat dan mahal itu, kami melanjutkan perjalanan kami ke Lawang Sewu pada pukul 21:00. Lawang Sewu adalah sebuah bangunan tua peninggalan jaman Belanda, bangunan tersebut memiliki banyak sekali pintu, sehingga disebut Lawang sewu yang merupakan bahasa Jawa dari Pintu Seribu meskipun jumlah sebenarnya tidak mencapai 1000. Bangunan ini dibangun pada tahun 1903 dan selesai dan diresmikan pada tahun 1907. Awalnya bangunan ini digunakan oleh Belanda sebagai kantor kereta atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij, namun setelah direbut oleh Jepang, bangunan tersebut berubah fungsi sebagai benteng dan penjara.



Bangunan tersebut konon sangat menyeramkan, banyak orang yang mengaku melihat hal-hal ghaib disana. Kami memulai menelusuri gedung Lawang Sewu pada pukul 21:30. suasana cukup ramai karena hari itu merupakan hari libur nasional. Suasana didalam gedung tersebut sangat menyeramkan, lorong-lorong tua, kamar-kamar gelap berjejer di dalam bangunan yang memiliki luas kurang lebih 2 ha. Kami juga menyempatkan diri untuk menelusuri penjara bawah tanah yang sangat menyeramkan. Dan akhirnya kami menyelesaikan penelusuran pada pukul 23:30

Setelah menelusuri bangunan tersebut, kami segera menuju Tugu Muda yang berada tepat di depan Lawang Sewu. Di sana kami menikmati malam sambil berfoto-foto. cukup banyak pengunjung yang datang ke Tugu Muda. Taman yang ada di sekitar Tugu Muda memang sangat cocok untuk menikmati suasana malam dan berfoto-foto.

Kami melanjutkan perjalanan terakhir kami di kota Semarang tepat pukul 00:00. Tujuan kami adalah Kota Lama, dimana disana terdapat banyak sekali bangunan tua, suasana malam hari di Kota Lama sangat indah, bernuansa klasik dan misterius. Kami menghabiskan sisa-sisa tenaga kami di Kota Lama sembari menikmati sesi foto. Dan akhirnya kami kembali ke tembalang pada pukul 01:30

Pukul 05:30, hari masih gelap, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Kali ini kami tidak langsung pulang ke Jogja, kami menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Gigih di Grabag - Magelang. Kami tiba di sana pukul 07:30, sebagian dari kami tertidur di ruang tamu, dan sebagian memasak.

Seusai makan pagi menjelang siang, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja pada pukul 09:30. Dan akhirnya kami sampai di Jogja tepat pukul 11:00

bersambung...

23 Maret 2009

Earth Hour 2009



Vote Earth!. Itulah seruan dari aksi "Earth Hour" yang di galang oleh WWF. Aksi ini merupakan usaha WWF untuk turut menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Aksi ini mengajak kita semua untuk melakukan sebuah langkah kecil yang sangat berguna bagi kelestarian Bumi ini. Sebuah aksi yang sangat baik dan bijaksana mengingat kondisi Bumi saat ini dan melihat sulitnya menyadarkan sebagian orang untuk menjaga kelestarian Bumi.

Tahun 2009 adalah tahun ketiga dari aksi ini. Earth Hour dimulai pada tahun 2007, dimana 2,2 juta jiwa di Sydney memadamkan lampu secara bersamaan, hal ini tentunya melalui dukungan pemerintah mereka. Pada tahun 2008, tercatat 50 juta orang memadamkan lampu secara bersamaan, bahkan beberapa lampu properti kota yang besar turut dipadamkan, sebut saja Golden Gate Bridge di San Francisco, Rome’s Colosseum, the Sydney Opera House dan billboard Coca Cola di Times Square turut dipadamkan untuk mendukung aksi ini. Dan di tahun 2009 ini, WWF mentargrtkan untuk mencapai jumlah 1 Milyar pendukung aksi ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mendukung aksi ini?
Mudah sekali jawabannya, kita hanya perlu memadamkan lampu dan peralatan elektronik secara bersama-sama pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2009 mulai pukul 20:30 - 21:30 waktu setempat. Ini hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun.

Apa efek dari pemadaman listrik tersebut bagi kita?
Tidak bisa dipungkiri, bahwa aksi ini membawa efek yang sangat baik bagi kelestarian Bumi kita. WWF menyebutkan, pemadaman listrik yang akan dilakukan di kota Jakarta sama dengan :
  1. 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
  2. Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
  3. Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2
  4. Menyelamatkan lebih dari 284 pohon
  5. Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang

Apa yang dapat kita lakukan saat pemadaman listrik?
  1. Undang teman dan keluarga untuk pesta “tanpa lampu” di depan rumah. Sajikan hidangan ringan yang merupakan produksi negeri sendiri, sambil bermain gitar dan bernyanyi bersama.
  2. Matikan lampu, komputer dan telepon selular. Gunakan waktu sunyi tersebut untuk berisitrahat dari dunia listrik dengan bermeditasi untuk rileksasi pikiran dan tubuh.
  3. Undang teman spesial untuk makan malam romantis atau hanya sekedar ngobrol sambil ditemani cahaya lilin.
  4. Undang teman-teman untuk kemping di halaman rumah. Menyanyikan lagu, berbagi cerita-cerita seram, dan membuat jagung bakar di perapian.
  5. Melemaskan otot dan serta menenangkan pikiran dengan berendam menggunakan garam mandi sambil ditemani cahaya lilin.
  6. Matikan komputer dan menulis surat menggunakan kertas dan pena sambil ditemani cahaya lilin, seperti halnya yang dilakukan oleh orang pada masa belum ada listrik.
  7. Bersama teman atau keluarga bermain tebak-tebakan, catur atau kartu sambil duduk- duduk di depan rumah.

  8. Main tebak-tebakan bayangan senter.
  9. Lihat langit malam melalui teleskop [jika punya] dan nikmati indahnya pemandangan bintang di langit.
  10. Ambil foto atau video bagaimana kamu dan keluarga menghabiskan waktu pada Earth Hour dan jadikan foto dan video keluarga anda sebagai inspirasi orang lain dengan mengirimkannya ke halaman TAKE ACTION di www.earthhour.org/indonesia klik Facebook, Flicker atau YouTube. Dan, jangan lupa ceritakan kisah seru keluarga anda dengan mengirimkan artikel ke tim Earth Hour Indonesia di climate@wwf.or.id


Mudah bukan?
Mari kita selamatkan bumi!!!


Sumber : www.earthhour.org/

bersambung...

17 Maret 2009

Extreme Weekend




07 Maret 2009

Sebuah perjalanan yang tak terduga. Bagaimana tidak, kabar perjalanan baru aku terima hari Sabtu tanggal 7 Maret jam 11:00 siang via status Facebook Gombong. Aku berangkat sendiri dari Jogja pukul 17:00 naik bus Nusantara (Rp. 35.000) dan sampai di semarang (Sukun) tepat pukul 20:00. Setelah nunggu 30 menit, akhirnya mereka datang juga.

Dengan bekal seadanya, kami (Aku, Gombong, Gigih, Engkek) memulai perjalanan ke gunung Ungaran (2050 mdpl) dengan menggunakan 2 motor. Kami memilih base camp terdekat yaitu Perumasan. Darisukun kami berangkat pukul 20:30. Perjalanan melewati daerah Gunung Pati yang bukan merupakan sebuah gunung..hehehe.

1 jam perjalanan pertama terasa biasa saja, tapi setelah itu kami harus berjuang keras melewati medan yang sangat berat. Bagaimana tidak, bebatuan licin sepanjang perjalanan dengan sudut kemiringan yang cukup tinggi membuat kami (sebenernya cuma aku) berkali-kali harus turun dan mendorong motor..Namun semuanya terbayar dengan keindahan hamparan kebun teh yang segar (kan perjalanan malem..mang keliatan???).

Kami sampai di desa Perumasan pukul 22:45. Sejenak kami beristirahat di base camp Biyung, setelah kami mengisi perut dan mengisi air, kami mulai melakukan pendakian tepat pukul 00:00. Sekedar info, di atas sudah ada 3 orang teman kami (Tatag, Dono, Singgih) yang nungguin logistik yang kami bawa..hehehehe..Perjalanan malam yang sangat melelahkan (karena kami gak biasa pendakian malam). Akhirnya kami sampai di camp pukul 03:00, dan malam itu kami tutup dengan makan bersama dan tidur pulas.

08 Maret 2009

Pagi yang sangat cerah sehingga membuat tenda kita terasa panas. Saat pertama kuberanjak dari tenda, pemandangan terasa sangat menakjubkan, indah tak terbayangkan, hamparan perkebunan teh dan jajaran perbukitan yang mengelilingi kota-kota yang tersusun rapi, serta Rowo Pening yang terlihat jelas melengkapi keindahan gunung Ungaran. Itulah keindahan alam. Namun tanpa disadari, sekitar pukul 09:00 hujan turun tiba-tiba dan memaksaku dan gombong sedikit berbasah-basah ria. Dan hujanpun terus menemani hingga sore hari sehingga membuat kita mengurungkan niat kita menggapai puncak gunung Ungaran.

Pukul 17:00 kami putuskan untuk turun walaupun rintik gerimis masih cukup membasahi kami. Seperti biasa sebelum kami melakukan perjalanan, kami mengabadikan momen-momen indah bersama. Perjalanan turun kami terasa sangat cepat, kami tiba di base camp >Perumasan pukul 16:15. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk langsung mendirikan tenda. Kami menghabiskan malam dengan tawa canda yang sangat mengobati rasa lelah kami.

09 Maret 2009

Kami bangun agak kesiangan, dengan cepat kami memasak sisa logistik yang masih ada dan dilanjutkan dengan packing. dari tempat ini kami kembali berpisah (dengan rombongan Tatag, Dono dan Singgih) karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke base camp Mawar.

kami memulai perjalanan kembali ke semarang pukul 10:45. Kami beristirahat untuk makan siang di Gunung Pati pukul 12.00, dan kami memutuskan untuk berpisah karena aku harus kembali ke Jogja secepatnya. Dari Gunung Pati aku dan Gigih langsung menuju Jogja tepat pukul 12:30. Karena aku harus tiba di Jogja secepatnya, Gigih menancap gas motor dengan kencang ditengah padatnya jalanan (aku yang dalam kondisi takut naik motor sangat merasa ketakutan). Dan akhirnya kami sampai di Jogja pukul 14:30.

Setibanya di kost kami istirahat sejenak, dan kemudian aku langsung melanjutkan perjalanan ke Jupiter Paintball. Disana teman-teman sudah menunggu karena permainan akan dimulai pukul 15:00, tapi untungnya aku tidak terlambat (thanks to Gigih).



Paintball kami mulai pukul 15:00. peserta kali ini hanya 14 orang (Apid, Cangak, Gentong, Aku, Olly, Yudha, Sigit, Harry, Klepon, Widi, Mirwan, Yaya, Coki, Salhazan -- dari kiri ke kanan). Team dibagi menjadi 2 yaitu Alpha (orange) dan Bravo (hijau). Kami menggunakan Jungle stage, yaitu arena dengan cover berbagai drum, papan, dan pepohonan, namun sayangnya kali ini semak belukar sudah mereka (provider) bersihkan, jadi sekarang tempat lebih terbuka. Tim kami (Alpha) memenangkan pertandingan dengan poin 3-1. Permainan selesai pukul 17:00, namun sayang kali ini aku kena head shot dari harry dan kehabisan peluru 2 kali. Hehehe..tapi semuanya senang.

Setelah lelah bermain paintball, kami bersama-sama makan malam di warung makan ayam (lupa namanya) di Seturan, hidangan ayam goreng kami nikmati sambil bercanda tawa bercerita tentang pertandingan tadi. Selepas makan, kami berpisah untuk kembali ke kost masing-masing.

Sampai disinilah petualangan akhir mingguku berakhir, walaupun lelah sangat terasa, namun bahagia bersama teman-teman tak akan terlupakan..

Thanks sob...

bersambung...

23 Februari 2009

Keindahan Wisata Perairan Indonesia


Hawaii, Karibia, Phuket, Galapagos, mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, boleh dibilang itu adalah tempat terbaik untuk mendapatkan sensasi wisata alam yang luar biasa. Hamparan pasir putih yang halus, desir ombak yang menyapu jejak langkah, hingga terumbu karang berwarna seakan lukisan Tuhan, tak akan membuat kita berkata "tidak" untuk singgah di indahnya tanah "mereka".

Tapi seperti yang kita semua tau, singgah di tanah mereka "tak semurah" singgah di tanah air kita. Puluhan bahkan ratusan juta Rupiah tak akan terasa untuk mencicipi keindahan alam "mereka". Namun kita semua juga tau dengan keadaan ekonomi masyarakat Indonesia, mungkin hanya segelintir orang kita yang mampu memijakkan kaki mereka di pulau yang banyak orang menganggapnya surga dunia. Sungguh sangat disayangkan

Mengapa harus mengeluh dengan keadaan tersebut? Menurut majalah Travel + Leisure pada tahun 2007, Pulau Bali telah 8 kali berturut-turut menempati peringkat pertama “World’s Best Islands” (Pulau terbaik di dunia). Prestasi ini sangat luar biasa mengingat Bali telah jauh mengalahkan Hawaii yang berada di posisi 9 dan Phuket di posisi 8. Bali adalah milik Indonesia.

Mungkin tak banyak dari kita yang mengetahui keindahan alam Indonesia yang kita miliki. Sebut saja Pulau Lombok, Kepulauan Karimun Jawa (Jepara), Kepulauan Seribu, Raja Ampat (Papua), Pulau Sempu (Malang - memiliki pemandangan menyerupai pantai dalam film The Beach), Iboih (Aceh), Bunaken (sulawesi), Pulau Komodo, Pulau Moyo, dan masih sangat banyak sekali wisata alam Indonesia yang sangat sangat indah dan wajib di kunjungi (dan juga dilestarikan).

Jadi mengapa harus menghabiskan dana yang sangat banyak jika juga dapat menikmati keindahan alam Indonesia yang luar biasa dengan biaya yang sangat murah?

bersambung...

13 Februari 2009

lombok...pulau impian..



Tepat satu mingu hilangnya motorku, aku melakukan perjalanan "luar" Jawa pertamaku, dan tujuanku adalah pulau lombok. Pulau yang telah ku impikan sekian lamanya, pulau yang memiliki sejuta pesona yang menawan, pulau yang selalu menyajikan keindahannya, pulau yang begitu memikat hatiku...

catatan perjalanan dapat diunduh disini

bersambung...

11 Januari 2009

tahun baru di karimun....karimun di tahun baru...


wwwwaaaaahhh...setelah tertunda 2 bulan, akhirnya keluar juga ni tulisan

setelah menunggu untuk sekian taun..(dari jaman SMA pengen kesana, diitung aja sekarang dah berapa taun berarti??)..akhirnya aku sampe juga ke kepulauan karimun jawa...gembira...bahagia...ceria...suka...cita...yang kurasa...(lebayyyyy)...wis intine seneng...gitu aja deh...eh, ternyata bisa upload sekarang temen2..hehehe

kami berangkat ber 6.(aku, gigih, chimenk, gombonk, ulum, ngkek)..sebenernya rencana gak jelas gitu...gara2 "tang tung...mangkat"(cak cek...berangkat...kira2 gitu deh klo di indon-in).kami jadi berangkat tanpa informasi yang jelas, perbekalan yang memadai, dan duit yang ngepress...

langsung wae yo konco2...


Semarang, 30 Desember 2008

kami berangkat dari semarang,(khusus aku n chimenk dari jogja..pegel bokonge), kami naik motor, dua motor lampunya gak beres.kami dari semarang jam 12 malem(sapa tau ada mba kunti mo liburan juga).kami naik motor pelan2 kira2 2 jam deh sampe jepara, jadi dari semarang--> demak-->jepara gitu...di perbatasan sempet istirahat ngopi dulu, malah sama bapak2 dikira jalan kaki dari semarang..(naik motor aja dah mo mampus rasanya..gimana jalan kaki???)

di jepara kami transit dulu di rumah temen (thanks 2 kosovo) yang belum dihubungi sebelumnya (kami kayak maling, jam stengah 3 ketok pintu...).kami tidur sebentar, nah, gobloknya ketua panitia yang gak cari info itu...(mampus koe let...). kami tu gak tau jadwal pemberangkatan kapalnya itu..denger2 kapalnya cuma berangkat hari sabtu...dah pada pasrah gitu tampangnya...jauh2 sampe jepara masa taun baruan suruh nonton superglad???wedew...gak seru...

Jepara, 31 Desember 2008

kami bangun jam stengah 7 an deh...disuguhin teh anget buatan mak'e kosovo alias bu Kasdi, ternyata ada kabar dari mak'e kosovo klo khusus akhir taun ni ada pemberangkatan jam 9..wedew...buru2 semua deh pokoknya..sat set sat set..(kira2 bunyinya gitu), makan, mandi, packing,....and....tang tung,,,,,mangkat..kami di anter temen kosovo naik pick up sampe ke pelabuhan jepara...seger banget pagi2 naik pick up...

sekitar jam 9 kurang 15 kami dah sampe di dermaga...wuhh...bahagia rasanya (lebayyy lagiii).tapi beneran...kami tu...(lebih tepatnya aku) seneng banget dah mau jalan ke karimun...my wonderland...

dah beli tiket seharga 30rb perorang, kami naik kapal langsung ke atas..cari tempat yang seger...toh perjalanan cuma 2 jam...katanya....itu baru katanya lo...maklum lah direkturnya gak punya inpo...wekekekeke...(mampus lagi koe let...),setelah bertanya tanya..ada orang yang bilang 4 jam...huff...sepertinya bakal jadi perjalanan membosankan nih...tapi temen2 malah ragu...yang bener 2 jam ato 4 jam sih???kami putuskan aja tanya sama ABK, "pak, pak, perjalanan sampe karimun jam berapa ya pak??", gampang aja bapak itu jawab "setengah empat".ooowww....berarti...WAAAAAAA....6,5 jam perjalanan laut...wedew...mabuk mabuk dah sekalian...

1 jam pertama di laut sempet di guyur ujan cukup deres..seger banget...gak takut basah rasanya...mumpung bahagia...hehehe...tapi, itu baru satu jam pertama, berarti masih ada 5,5 jam berikutnya...ampun deh makkk...
panas mulai menyengat, pulau jawa perlahan ditelan lautan..(peribahasa doang om....bukan do'a).satu persatu makhhluk tepar di lantai besi..huf...bete juga ya...pengen njajan gak ada duit...kasian amat ya kami..tapi akhirnya tetep aja beli roti 1 sama kopi 2 buat rame2...lumayan ganjel perut...matahari tepat diatas kepala..panas membakar kulit..cuma pegang selinting rokok sambil gitaran sendiri...angin semilir bikin ngantuk,,,tapi klo tidur ntar malah gak ada yang jaga barang…waduh…

5 jam berlalu di tengah lautan lepas..di ujung terlihat segaris pulau yang menyapa seakan mendambakan kehadiran kami..(lebay lagi…)langsung aja aku berdiri menatap indahnya pulau pujaan hatiku…ya…karimun…Jam tanganku menunjukkan waktu tepat 15.30..kapal mulai merapat di dinding dermaga…indahnya pulau ini memang gak Cuma kata orang aja..semuanya terlihat indah..dari kapal keliatan juga pulau menjangan besar yang juga terlihat indah dan tak berpenghuni...

Pas keluar dari kapal…mak nyussss….rasanya…seneng banget akhirnya dah sampe di karimun jawa coy…pokoke seneng banget..tapi masalahnya..sampe situ kami gak tau mau kemana lagi n ngapain..wakakaka...sama sama bingung..akhirnya gigih tanya sama orang jalan ke dermaga nelayan, coz dari situ kami bisa nyebrang ke pulau2 lain..kira2 1 km kami jalan kaki sambil belanja nglengkapin bekal yang gak cukup(bener2 gak cukup)..di tengah perjalanan kami mutusin tujuan kami adalah pulau menjangan besar yang terlihat tenang dan indah dari kapal.

sampe di dermaga, gak perlu tanya orang, ada orang (pak parmo) yang nyamperin kami, "mau nyebrang mas?".langsung aja kami jawab iya.tadinya ditawarin PP 50, kami tawar dapet 30 PP buat 6 orang (1 perahu).dari puluhan perahu yang numpuk di dermaga, ternyata nyempil tu perahu kecil banget punya pak parmo..wew...kecil amat...lucunya, pas nyebrang tu si ngkek keliatan ketakutan, pegangan sisi perahu n carrier dia.wakakaka..dah gitu perahunya sempet wrap di tengah...maklum, parmo si pelaut kan jago potong kompas alias nyasak laut..wakakaka...but thanks a lot pak...

sampe di menjangan besar kita turun tepat di depan pos penangkaran penyu, di samping kandang burng elang pantai.pasirnya terasa halus banget.airnya jernih. 5 menit kita tanya lokasi sumur air tawar (padahal payau) sama pak parmo, kita langsung jalan ke timur, coz dari kapal tadi kelihatannya sisi timur ada tempat bagus banget.tapi aku sama gombong ke sumur dulu ambil air, yang lain lanjut cari lokasi camp kami..di sumur kami ambil air beberapa botol yang ada.tapi kok banyak nyamuk ya????

malem pertama kami lewati dengan makan nasi gak jelas rasa semrawut...trus nangkep ikan2 kecil buat umpan mancing (ternyata ikan gede pada gak doyan). kami nangkep ikan pake daun kelapa basah di jadiin jaring buat ngggiring ke pasir, ada juga yang kami tangkep langsung pake tangan.padahal cuma pake senter redup 1 samalampu badai..kebetulan pas pulang ada kepiting agak kecil, nah, tangkep aja sekalian..tapi apesnya...tanganku di capit sampe berdarah...kurang ajar tu kepiting.dagingnya dikit, tanganku robek...

Menjangan Besar island, 01 Januari 2009

tepat jam 00 malem kami nonton kembang api yang cuma ada satu di pulau yang jauh di sana...abis tu muncul di karimun beberapa flare yang di tembakin keatas..lumayan juga deh dari pada gak ada..tapi cuma bentar..suasana tetep aja hening...abis tu pada tepar deh...di temani ratusan nyamuk yang menyerang.

paginya kami masak kayak biasa.agak lumayan deh rasanya..abis tu kami cari makanan tambahan kayak kepiting kecil(kami sebut jingking).aku sama ulum, gigih sama gombong, yang di camp ngkek sama chimenk.kami jalan ke arah timur..tapi akhirnya aku sama ulum kepisah, untungnya aku ketemu gombong n gigih..10 menit jalan, ternyata tempat yang keliatannya bagus banget dari kapal tu parah...isinya karang..gak bisa buat camp deh..kami bertiga terus jalan, niatnya sekalian cari lokasi camp ke 2.

saking asiknya kami jalan, gak kerasa udah jauh, sempet nglewatin rawa2(sumpah ngeri rawanya, banyak nyamuknya lagi), bebatuan merah raksasa, hutan bakau, padang pasir...ternyata kita dah muterin setengah pulau. nah, masalahnya kami bertiga dah sama2 capek, laper n lemes. klo mo balik lagi jauh banget, muter lagi juga kayaknya masih jauh banget..akhirnya kita putusin buat potong kompas, keliatannya deket kok.ternyata,....ampun mak,....semak belukarnya lebet banget..dah gitu jauh pula...bener2 nguras tenaga banget lewat semak belukar itu...

sampe di camp ternyata bukannya nyaman, dicamp kok panas banget udaranya..akhirnya kami pada buka pakaian (sisain kancutnya doank), trus ngubur diri deh di pasir...uh, enak banget cuy, cobain deh...(ada fotonya lo...tapi dilarang nonton, bukan muhrim...wakakakaka)

sore hari kita lewati dengan berenang bareng bulu babi..(hiii...serem lo). trus malem harinya kita lewati dengan berhimpitan di dalem tenda kapasitas 5 orang, coz di luar ujan n angin kenceng cuy...


Menjangan Besar island, 02 Januari 2009



hari ketiga dah mulai kami nikmati bersama.walaupun bekal mulai menipis banget (yang gak doyan terong jadi doyan...ya gak lum???). tapi kami tetep aja seneng..hehehe. abis makan pagi, kami langsung packing semua barang kami, kami mutusin buat pindah camp ke sisi barat pulau, kata pak moko (si penjaga pulau...tapi rumahnya kok gak di pulau itu ya???) di sisi barat lebih enak, ada angin, jadi nyamuknya dikit (itu baru nikmat...)

siang itu kami (aku, cimenk, gigih) main ke rumah pak moko, liat penangkaran hiu..sebenernya kita bisa renang lo sama hiu2 itu, tapi sayang kami gak punya duit..(bilang aja takut..), trus kami bertiga renang di laut dalam cuy,...ngeri sih sebenernya...tapi seger banget rasanya...abis tu kami ngobrol2 sama pak moko, eh, malemnya kami diajak mancing di laut, tapi cuma 2 orang aja..(kebetulan yang gak mabuk laut cuma aku n gigih)...lumayan d buat makan, kebetulan kami juga bawa pancing.

kami berangkat mancing dari maghrib sampe jam 11 malem, dan menutup malam dengan ikan bakar hasil tangkapan aku (cuma 2 ekor), dan banyak sekali ikan hasil tangkepan pak moko yang di hibahkan ke kami...(thanks banget pak...)

Menjangan Besar island, 03 januari 2009

pagi hari menyambut...jadwal pagi hari...seperti biasa, pindah tidur ke tepi pantai...wakakakaka. waktu kami lalui dengan malas2an, super malas...gak tau mau apa, tapi ada yang cukup berkesan buat aku, sore itu aku jadi boatman-nya pak moko mancing cumi2, biarpun cuma bisa ngedayung perahu rafting, dayungan perahu nelayan ku gak jelek2 banget kok kata pak moko...hehehehe

abis itu pak moko ngajakin aku ngasih makan elang yang dipinggir pantai itu. nah lucunya, pak moko kan tau kami keabisan duit tuh...kebetulan ikan2 di kolamnya (bisa di bilang piringnya) si elang tu masi banyak, nah, aku suruh ngambilin ikan yang pada mati sama pak moko, nah..."buat apa pak???", pak moko sih sante aja jawab (dasarnya pak moko asik banget orangnya)."ya buat makan kalian yang pada kelaperan"...ya sudah lah...toh masih seger juga...jadi makan sisa elang deh...tapi gak kerasa pas udah dimakan...beeehhh...dah pada laper semua sih ya. di goreng kering banget, klo gak salah ikannya ada 10 lebih....langsung abis...

malemnya gigih n gombonk nyebrang sama pak moko, mau ngelobi keluarganya temennya gigih (padahal baru sekali ketemu di merbabu) yang besok mau kita datengi sebagai tempat transit dan mengadu nasib padahal anak itu lagi di jogja...wekekekeke...alhamdulillah proposal di terima...dasar anak2 gak tau malu..tapi gak papa, dari pada kami terlantar..hehehe

Menjangan Besar island, 04 januari 2009

pagi hari kami rencana mau cepet2 nyebrang ke karimun, paling nggak biar bisa minum air tawar deh..hehehe, tapi gak tau kenapa aku sama gigih jalan2 di air dangkal, cuma bawa tombak dari kayu kecil di iket di pisau, kami berdua jalan klo diliat2 sih 2 km lebih deh, tapi enaknya, airnya gak dalem, paling dalem se perut deh..hehehe asik kan

sepanjang perjalanan itu banyak banget keindahan laut yang kami nikmati. ada banyak bintang laut lo...ada yang mirip banget sama patrick di spongebob squarepants itu...nah, gebleknya, pas kami jalan ada ikan pari lumayan gede, tau gak trus kami ngapain???kami kejar tu ikan pari sambil gigih lemparin tombak...(--psssttt...tenang dulu kayak ekspresi kami abis ngejar ikan pari--)..."ikan pari kan yang bunuh steve itu kan???", nah looo...kami berdua jadi ngeri deh...tapi jangan salah cuy, abis itu ada lagi ikan pari, tapi bukannya kami takut, malah kami buru lagi tu ikan..wakakakaka...belum selesai nih...masih ada lagi, malah gak cuma satu...wakakakak...dasar orang2 gila...

abis itu kami balik sambil ketawa2 n langsung masak bareng anak2, abis makan kami langsung packing, pamitan sama pak moko, trus nyebrang sama pak parmo deh...

sampe di rumah temennya gigih (namanya aku lupa), kami di sambut baik banget, diem2 kami rebutan jajanan yang di sajiin ibunya..wakakaka...emang pada gak tau malu, tapi sampe situ, langsung kamar mandi jadi antri...seger banget rasanya mandi..malem harinya kita sempet jalan2 di kampung karimun, sekalian mau ke tempat temennya bapaknya temen kami (wekekekeke...panjangnya tu silsilah).namanya pak datang, tapi pas kami datang, pak datang tidak datang membukakan pintu dan mengucapkan selamat datang, soalnya pak datang lagi nge datang in rumah mertuanya..wekekekeke...lama2 datang bulan nih...

Karimun island, 05 januari 2009

pagi2 kami siap2, yang mandi yo mandi, coz penyebrangan kapal ke jepara cuma ada jam 7(klo gak 7 ya 8, lupa gak di catet).abis pamitan, kami langsung berangkat menuju pelabuhan, kami jalan cukup jauh, nah pas lagi santai jalan, klakson tu kapal bunyi...halah...lariiiiii.......jangan sampe kita ketinggalan kapal...masa musti seminggu lagi....untungnya tu nahkoda gak ninggalin kami...huff...

beli tiket lagi dengan harga yang sama, kami langsung naik ke kapan, lansung menuju tempat kami, di dek atas..pertama sih asik...abis itu...beeeeh...panas ommm....dah gitu tepar semua, tinggal aku sama gigih, tapi abis itu lagi2 aku jaga sendirian...huff...untung aja bawa kelapa yang udah di kupas..hehehe,...malah kelapanya satu dituker sandwich sama bule..hehehe

siang hari kami kembali memijakkan kaki di jepara, dermaga terasa sesak, berhimpitan orang2 yang entah apa kesibukannya...kami di jemput sama temen2, ida, suami ida, adik ida, kosovo, ceweknya kosovo, n temennya kosovo...hehehe..banyak banget yang jemput ya...kami langsung ke rumah ida dulu, disana kami disuguhi es soda gembira, gorengan, rokok djarum super, kacang rebus, kurma...bbeeehhhh...nikmatnya,.,,,,thanks banget da...

sorenya kami ke rumah kosovo, n dilanjutin jalan2 ke pantai kartini...pantai lagi...ya pantai lagi...tapi pantai kartini tak seindah pantai di menjangan...jauh berbeda,,,sangat berbeda...aku mulai merindukan indahnya menjangan..keheningannya yang menghangatkan jiwa, kemurniannya yang memutihkan hati...sunguh simfoni yang begitu indah..

Jepara, 06 Januari 2009

pagi hari setelah sarapan, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang ke semarang..hati kami bahagia, semua penat tlah berlalu, semua beban tlah terurai..karimun..kenanganmu takkan hilang dari ingatan kami...

miss u karimun

bersambung...

ShareThis

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP